article

Mahakarya Seni Eksperimental dalam Medium Animasi dari Masaaki Yuasa: Mind Game

Mahakarya Seni Eksperimental dalam Medium Animasi dari Masaaki Yuasa: Mind Game

Animasi, serangkaian gambar statis yang dibuat bergerak berurutan untuk membentuk sebuah cerita. Sebagai sebuah medium seni, animasi memiliki kebebasan yang jauh lebih luas dibandingkan bentuk medium seni lainnya. Secara teknik, animasi dibuat dengan menggambar setiap frame satu persatu, biasanya sekitar 24 frame per detik (on ones) atau 12 frame per detik (on twos). Kebebasan dari animasi ada karena cara kerjanya, sebuah gambar yang bisa kita bentuk dengan bebas, bisa kita gambar sendiri sesuai kemauan kita atau bahkan dari kumpulan foto yang ditracing. Sebuah gambar tidak harus mengikuti bentuk tubuh manusia yang realistis, ruang tidak harus memiliki perspektif yang masuk akal, dan gerakan tidak selalu harus mengikuti hukum dunia nyata. Semua hal tersebut dapat diubah untuk menciptakan pengalaman visual yang tidak mungkin diwujudkan melalui realitas (sebenarnya bisa, sekarang sudah ada teknologi CGI dan VFX).

Kebebasan inilah yang membuat animasi menjadi medium yang menarik untuk bereksperimen. Setiap perubahan bentuk, warna, gerakan, hingga cara sebuah karakter digambarkan dapat menjadi bagian dari cara bercerita. Dalam dunia animasi, visual bukan hanya sesuatu yang menemani narasi, tetapi dapat menjadi bahasa yang menyampaikan pesan metafora tanpa disadari penonton. Seorang animator atau sutradara dapat membuat dunia berubah mengikuti emosi karakter, membengkokkan ruang untuk menunjukan kebingungan, atau mengubah gaya gambar untuk menciptakan sensasi tertentu kepada penonton. Salah satu nama yang memanfaatkan kebebasan tersebut secara ekstrem adalah Masaaki Yuasa. Melalui pendekatannya yang eksperimental, Yuasa memperlihatkan bagaimana animasi dapat digunakan bukan hanya untuk menggambarkan sebuah dunia kepada para penonton, tetapi juga untuk menggambarkan bagaimana dunia tersebut dirasakan oleh emosi karakter-karakter yang berada di dalamnya.

 

ads

Mengenal Masaaki Yuasa

 

Mahakarya Seni Eksperimental dalam Medium Animasi dari Masaaki Yuasa: Mind Game

Masaaki Yuasa

Masaaki Yuasa merupakan animator dan sutradara asal Jepang yang telah menghasilkan berbagai karya dalam film maupun serial animasi. Sebelum dikenal sebagai sutradara, Yuasa terlebih dahulu bekerja sebagai animator dan terlibat dalam berbagai proyek animasi seperti, seri animasi Chibi Maruko-chan (1990-1992) dan Crayon Shin-chan (1992-sekarang). Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dari gaya penyutradaannya yang sangat mengandalkan eksplorasi gerak dan visual.

Hal yang membuat Yuasa menarik bukan hanya cerita yang ia pilih, tetapi bagaimana ia menerjemahkan cerita tersebut ke dalam gambar. Karakternya dapat berubah bentuk, perspektifnya dapat dibuat tidak stabil, sementara warna dan gerakan bisa berubah secara tiba-tiba mengikuti keadaan  emosional tokoh. Visual dalam karya Yuasa tidak selalu berusaha terlihat realistis. Sebaliknya, ia sering mengeksplor bagaimana cara penyampaian pesan, membuat animasi terasa seperti perpanjangan dari pikiran dan perasaan karakter.

Pendekatan tersebut membuat karya Yuasa terasa berbeda dari animasi Jepang pada umumnya. Ia tidak selalu mengikuti proporsi tubuh, perspektif, maupun gerakan yang konvesional. Bagi Yuasa, perubahan bentuk justru dapat menjadi cara untuk menunjukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan melalui dialog. Pendekatan tersebut dapat dilihat dengan jelas dalam Mind Game (2004), film yang menjadi debut penyutradaraannya.

 

Mahakarya Seni Eksperimental dalam Medium Animasi dari Masaaki Yuasa: Mind GameMind Game karya animasi Masaaki Yuasa

 

Film debut Yuasa sebagai seorang sutradara. Film ini mengikuti Nishi, seorang pemuda yang kehidupannya berubah setelah menghadapi situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya (mati ditembak lewat anusnya, lalu hidup kembali). Dari titik tersebut, cerita berkembang menjadi perjalanan yang penuh kejadian absurd, komedi, ketegangan, dan momen-momen reflektif. Namun Mind Game bukan film yang hanya mengandalkan ceritanya. Salah satu daya tarik film tersebut terletak pada bagaimana cerita dan pesan didalam film tersebut divisualisasikan. Yuasa menggunakan berbagai pendekatan animasi dan gaya dalam satu film. Karakternya dapat terlihat sangat sederhana dalam satu adegan, kemudian berubah menjadi lebih detail seperti sebuah foto, atau bahkan terlihat dalam bentuk asbtrak pada adegan berikutnya.

Perubahan tersebut adalah pilihan gaya eksperimental dari Masaaki Yuasa yang membuat filmnya terlihat unik. Visualnya sering mengikuti kondisi psikologis karakter dan energi dari sebuah adegan. Ketika situasi menjadi kacau, gambar pun dapat terasa semakin tidak teratur. Ketika karakter mengalami perubahan emosional, bentuk dan warna dunia di sekitarnya ikut berubah. Ketika karakternya merasa sedang dalam perasaan yang bergejolak dan intens, seringkali digambarkan dengan gerakan dari foto asli yang dicampur animasi, memberikan rasa dramatis.

Dengan demikian, Mind Game memperlihatkan bagaimana animasi dapat melakukan sesuatu yang sulit dicapai oleh medium lain. Dunia dalam film tidak harus mengikuti hukum realitas karna dunia tersebut dapat berubah mengikuti bagaimana karakter merasakannya.

Di balik visualnya yang penuh energi, Mind Game memiliki pembahasan mengenai kehidupan dan pilihan manusia. Nishi digambarkan sebagai seseorang yang pada awalnya tidak sepenuhnya mampu menentukan arah hidupnya, ketika semasa remaja ia pernah memiliki hubungan dengan Myon namun tidak pernah melakukan interaksi ataupun afeksi yang signifikan. Ingatan penuh penyesalan ini terus terulang, bahkan ketika Nishi bertemu dengan Myon ketika malam hari, terdapat sebuah scene dimana akhirnya Nishi berhasil melakukan apa yang selama ini tidak bisa ia lakukan, berani melakukan keinginannya. Namun ternyata itu hanya khayalan, ia masih belum mampu melakukan ataupun mengatakan apa yang ia inginkan sebenar-benarnya.  Namun berbagai kejadian yang ia alami membuatnya sadar lalu ia mulai mempertanyakan bagaimana ia ingin menjalani hidup.

Film ini kemudian banyak bermain dengan gagasan tentang keberanian untuk mengambil kesempatan. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dan seseorang tidak akan pernah benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena itu, keputusan untuk terus bergerak menjadi bagian penting dari perjalanan Nishi. Menariknya, gagasan tersebut juga tercermin melalui bentuk animasinya. Mind Game terasa seperti film yang menolak untuk diam di satu tempat. Gaya visualnya terus berubah, bergerak, dan bereksperimen. Seolah0olah film tersebut sendiri sedang melakukan apa yang ingin disampaikan oleh ceritanya, terus bergerak tanpa diikat oleh aturan.

Melihat Mind Game setelah mengenal gaya Masaaki Yuasa membuat film ini terasa seperti sebuah pernyataan artistik. Film tersebut menunjukan bahwa animasi tidak harus selalu digunakan untuk menggambarkan pikiran, emosi, ingatan, dan pengalaman subjektif manusia. Masaaki Yuasa adalah salah satu sutradara yang memperlihatkan bahwa animasi tidak memiliki batas visual yang sesempit seperti yang sering dibayangkan. Melalui pendekatan eksperimental dan ekspresif, ia menjadikan gambar bergerak sebagai media untuk menggambarkan dunia dari perspektif yang lebih subjektif.

Mind Game menjadi contoh penting dari pendekatan tersebut. Film ini bukan hanya menarik karena ceritanya yang tidak biasa, tetapi karena keberaniannya untuk terus mempertanyakan bagaimana sebuah cerita dalam medium animasi seharusnya terlihat. Pada akhirnya, Mind Game menunjukkan bahwa animasi animasi tidak harus selalu menggambarkan dunia sebagaimana adanya. Ia juga dapat menggambarkan bagaimana dunia bagi seseorang yang sedang menjalaninya.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads