Pengambilan Gambar untuk film Breathless di sebuah kamar kecil di Paris. Source: Cinemalinea
Dalam sejarah industri film di dunia, hanya sedikit gerakan yang mampu mengubah cara orang memandang dan membuat film, salah satunya adalah France New Wave. La Nouvelle Vague atau French New Wave yang secara makna harfiah berarti “Gelombang Baru” adalah sebuah gerakan dalam industri sinema yang digagas dan dibangkitkan oleh sekelompok sutradara muda dari Prancis pada akhir 1950-an hingga 1960-an awal, dipengaruhi oleh gerakan dalam industri sinema sebelumnya, Italian Neorealism dan Classical Hollywood Cinema. Gerakan ini dicirikan dengan penolakan atas kebiasaan pembuatan film secara tradisional, mempriotaskan gaya eksperimental dan sedikit pengaruh dari Iconoclasm (dalam konteks ini, bermakna sebagai penolakan dan penghancuran dari kebiasaan di industri sinema). Gerakan sinema ini bukan hanya memperkenalkan gaya visual yang berbeda, tetapi juga mengubah cara sutradara menyampaikan cerita, menggunakan kamera, hingga memandang peran film sebagai media untuk ekspresi. Hingga saat ini, pengaruh dari gerakan French New Wave ini masih terasa dalam berbagai film modern dan karya sineas independen di seluruh dunia.
French New Wave muncul sebagai bentuk kritik terhadap dunia perfilman di Prancis yang dianggap serimgkali terlalu kaku dan mengikuti formula yang sama, membuat film-film terasa bosan. Sekelompook kritikus film yang menulis majalah di Cahiers du Cinéma (majalah kritik film asal Prancis yang sebelumnya bernama Revue du Cinéma) menilai bahwa film seharusnya menjadi media bagi sutradara untuk mengekspresikan visi pribadi, bukan sekedar mengikuti tuntutan dan aturan dari industri sinema. Dibekali semangat perlawanan dan pandangan ingin berbeda seperti remaja yang sedang di masa mudanya, mereka mulai membuat film dengan pendekatan yang lebih bebas dan lebih eksperimental.
Beberapa nama yang menjadi pelopor gerakan ini antara lain François Truffaut, Jean-Luc Godard, Éric Rohmer, Jacques Rivette, dan Claude Chabrol. Mereka semua memulai kiprahnya sebagai kritikus film di majalah Cahiers du Cinéma. Para kritikus ini menentang Tradition de qualité (Kualitas dari Tradisi) dari arus utama sinema Prancis, yang mengedepankan hasil karya dibandingkan inovasi dan tradisi lama dibandingkan eksperimen. Lalu pada 1954, François Truffaut mengeluarkan sebuah essay “A Certain Tendency in French Cinema” essaynya tentang dunia sinema Prancis yang berisi dengan kritikan atas kebiasaan industri yang sangat bergantung dengan script dan adaptasi secara literasi dibandingkan penceritaan secara visual. Bersama dengan François Truffaut, beberapa penulis untuk Cahiers du Cinéma menjadi pionir dari gerakan New Wave.

Majalah Cahiers du Cinéma, Special Edition Francois Truffaut, April 2013.
Salah satu ciri paling menonjol dari French New Wave adalah pengunaan lokasi nyata sebagai tempat pengambilan gambar. Berbeda dengan kebiasaan film pada masanya yang banyak dibuat di studio, para sineas New Wave lebih memilih untuk merekam kehidupan kota secara langsung. Mereka juga menggunakan kamera tangan yang lebih ringan dan konsep camera-stylo, pencahayaan yang alami, serta teknik penyuntingan seperti jump cut¸yaitu teknik pemotongan adegan yang sengaja dibuat tidak mulus untuk menciptakan ritme yang lebih dinamis. Cerita yang diangkat pun terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan masalah sosial, mulai dari pencarian jati diri, hubungan antarmanusia, hingga kebebasan individu.
Beberapa film yang menjadi simbol dari keberhasilan gerakan ini. The 400 Blows (1959) karya dari François Truffaut, menghadirkan kisah remaja dengan pendekatan yang sangat personal dan emosional. Ada juga Breathless (1960) karya Jean-luc Godard memperkenalkan teknik penyuntingan yang revolusioner dan berhasil mengubah cara penonton menikmati film. Film lain seperti Cleo from 5 to 7 (1962) karya Agnes Varda juga menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari dapat disajikan dengan sudut pandang yang artistik dan mendalam. Pengaruh French New Wave tidak berhenti sampai di Prancis. Banyak sutradara terkenal, seperti Martin Scorcese, Quentin Tarantino, hingga Wes Anderson, mengakui bahwa mereka terinspirasi oleh kebebasan bereksperimen yang diperkenalkan oleh gerakan ini. Konsep bahwa sutradara merupakan pencipta utama sebuah film atau dikenal sebagai La Politique des auteurs (Teori Auteur) juga semakin berkembang berkat kontribusi para sineas French New Wave.
Pada akhirnya, French New Wave bukan lagi sekedar sebuah aliran dalam sejarah perfilman, melainkan sudah menjadi sebuah gerakan yang mengajarkan bahwa kreativitas dan keberanian bereksperimen dapat melahirkan perubahan besar. Lebih dari enam dekade sejak kemunculannya, pengaruhnya masih hidup dan terus menginspirasi generasi baru pembuat film di seluruh dunia.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.