article

Memahami Keindahan dari Shoegaze: Bukan Sekedar Musik Bising

Memahami Keindahan dari Shoegaze: Bukan Sekedar Musik Bising

Memahami Keindahan dari Shoegaze: Bukan Sekedar Musik BisingIsaac Watson

Seumur hidup kita, pasti setidaknya kita pernah sekali saja mendengar musik yang bising. Entah memang disengaja atau tidak, tapi rasanya itu seperti mengganggu kualitas suara vokal dan instrumennya, membuat kita tidak dapat menikmati keindahan dari alunan lagu tersebut. Tapi, pasti pernah juga kita mendengar sesuatu yang berisik namun tetap indah untuk didengar, bahkan mungkin kita merasa bahwa kebisingan itu rasanya seperti itu yang membuatnya dapat dinikmati. Shoegaze, adalah epitome dari suara yang bising nan indah itu.

 

ads

Shoegaze adalah sebuah cara bermain musik atau genre musik (awalnya disebut shoegazing dan kadang-kadang dicampurkan dengan genre lain seperti “dream pop” atau “dream rock”) yang dikenal dengan karakter vokal yang ethereal (terasa sangat lembut dan halus seperti bersifat surgawi), dipenuhi dengan lapisan distorsi dan efek gitar, dan volume yang luar biasa. Shoegaze berakar dari teknik perekaman musik Wall of Sound, band the Velvet Underground, dan psychedelic pop pada 1960an, genre ini berawal di akhir tahun 1980an dan awal 1980an, utamanya di kancah band-band Irlandia dan Inggris yang terinspirasi dari grup musik neo psikedelik yang berdiri tak bergerak selama pertunjukan langsung dalam keadaan ‘terpisah’ dan tidak konfrontatif, seperti Cocteau Twins, the Jesus and Mary Chain, dan My Bloody Valentine. Istilah Shoegaze berasal dari “Shoegazing” yang muncul dari ulasan konser di Sounds untuk grup musik yang baru dibentuk bernama Moose. di mana penyanyi Russell Yates membaca lirik yang ditempel di lantai selama pertunjukan berlangsung. Istilah ini diambil oleh NME, yang menggunakannya sebagai referensi untuk kecenderungan gitaris band untuk menatap kaki mereka atau efek pedal mereka sambil bermain, dengan penuh konsentrasi. Beberapa orang menganggap istilah itu merendahkan, terutama oleh bagian dari pers musik mingguan Inggris yang menganggap gerakan itu tidak efektif, dan tidak disukai oleh banyak kelompok. Dan kemudian itu menjadi istilah umum untuk semua band yang memiliki suara besar, lapisan efek, tetapi semuanya berdiri teguh di atas panggung.

 

Sekarang, sebagian besar grup shoegaze menggunakan musik My Bloody Valentine sebagai template untuk genre tersebut, dengan beberapa inspirasi dari Cocteau Twins dan the Jesus and Mary Chain. Album Loveless dari My Bloody Valentine juga sering disebut sebagai album terhebat untuk genre di akhir 1980-an. Shoegaze fokus dengan penciptaan tekstur suara dibandingkan lirik, menggabungkan vokal yang halus, surgawi dengan lapisan gitar yang terdistorsi untuk menciptakan seruan suara yang instrumennya tidak dapat dibedakan satu sama lain, memberikan atmosfer yang melankolis, dreamy, dan imersif. Untuk mencapai ini, musisi shoegaze seringkali menggunakan efek pedal yang luas, seperti reverb, delay, chorus, tremolo, dan distorsi. Walaupun terdengar mirip dengan dreampop, keduanya dapat dibedakan. Mengutip Dean Wareham sebagai founder Galaxie 500 “band shoegaze lebih terasa sebagai gempuran tembok suara sementara dreampop memberikan lebih banyak ruang bagi melodi baik pada vokal, keyboard, maupun gitar.”.

 

Memahami Keindahan dari Shoegaze: Bukan Sekedar Musik BisingIssan Sumisu

 

Tapi dari semua band yang sudah kita sebutkan tadi, mereka semua adalah band-band lama dari tahun 1960-an hingga 1980-an. Bagaimana dengan kondisi shoegaze di era sekarang?

 

Aliran shoegaze hidup kembali seiring dengan masa karantina dari covid. Pada masa itu, semua orang berdiam diri didalam rumah mereka masing-masing, membuat industri digital bertumbuh pesat dengan aplikasi seperti Tiktok. Salah satu yang ikut tumbuh karenanya adalah industri musik, mempermudah orang-orang mendengar dan menemukan musik baru yang dapat ditemui dari soundtracks video-video pendek. Tiktok juga dapat menciptakan suatu niche atau skena untuk musik-musik tersebut, seperti musik dari band Duster yang dikaitkan dengan video-video yang berisi perasaan berat, dreamy, dan melankolis seperti perasaan terisolasi dan kegiatan doomscrolling. Ini memercik banyak musisi indie underground untuk ikut bertumbuh dan meramaikan industri ini. Disini shoegaze akhirnya hidup kembali dengan dibawakan oleh nama-nama baru seperti Wisp, Quannic, dan Flyingfish yang menggabungkan shoegaze dengan elemen lain seperti indie, emo, dan post-rock. Band-band terdahulu juga ikut bermain kembali, mengadakan reuni band dan menyalakan kembali api semangat dari para pendengar shoegaze.

 

Shoegaze memiliki peran dalam perkembangan musik alternatif. Shoegaze menjadi inspirasi bagi banyak band indie kontemporer dengan cara bermainnya, gaya berpakaian, hingga pemikiran dan tujuan bermusik. Shoegaze telah berani mengubah cara pandang orang tentang elemen utama didalam sebuah band, dulu orang-orang selalu fokus dengan sang vokalis, sang frontman, bagaimana aksi mereka di panggung dan interaksinya dengan penonton, tetapi berbeda dengan shoegaze. Shoegaze dengan musisinya yang diam memainkan pedal diatas panggung, fokus dengan alunan suara instrumen yang penuh distorsi.

 

Shoegaze membuktikan bahwa musik tidak harus mengutamakan lirik yang jelas atau melodi yang mudah diingat untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Melalui perpaduan efek gitar, vokal yang melebur dengan instrumen, dan atmosfer dari lagu ini yang begitu kuat dapat memberikan perasaan tertentu kepada pendengarnya. Genre ini menghadirkan pengalaman mendengarkan yang berbeda dari kebanyakan musik popular. Meski sempat meredup, kebangkitan shoegaze di era digital menunjukan bahwa karakter suaranya tetap relevan dan dapat berkembang. Shoegaze mampu menarik pendengar lintas generasi, bagi siapapun yang ingin menjelajahi sisi lain musik alternatif, shoegaze adalah pilihan yang unik.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads