Ketika saya pertama kali masuk DKV (Desain Komunikasi Visual) untuk mengejar jurusan Design, tugas pertama yang diberikan kepada saya sebagai test adalah sketsa. Sketsanya seperti berbagai macam shading, menggaris dengan lurus, hingga menggambar sketsa mengikuti brief project dari sekolah. Saya juga belajar untuk melukis, menggambar, mewarnai, dalam 1 tahun pelajaran pertama. Saat itu, saya berpikir untuk apa belajar hal-hal ini ketika semuanya bisa diselesaikan dengan komputer. Sketsa terlihat seperti latihan dan aktivitas yang kuno dan hanya membuang-buang waktu saja.
Saya salah. Jika dipikir-pikir lagi, sekarang saya menyadari betapa pentingnya tugas-tugas menggambar ini. Tanpa tugas-tugas dan banyaknya jam yang saya habiskan untuk sketsa dan menggambar, saya tidak akan dapat memandang seni dan segala sesuatu seperti bagaimana saya memandangnya sekarang.
Menggambar yang saya maksud disini, bukanlah menggambar yang sempurna dan indah seperti layaknya para seniman profesional. Memang, menggambar dengan sangat indah untuk menyampaikan ide kita adalah sesuatu yang menakjubkan. Tapi, bagi saya menggambar lebih ke sebuah alat untuk mengeksplor dan mengembangkan kreativitas dari ide-ide yang kita punya.
Sekarang semuanya jelas. Bagi saya menggambar bukan hanya penting untuk bekerja di bidang kreatif, tapi, membantu juga di bidang-bidang lain. Menggambar itu dapat meningkatkan kreativitas dan daya berpikir kita sendiri. Dan, menggambar menjadi salah satu skill terpenting di era Artificial Intelligence.
https://images.contentstack.io/v3/assets/blt57caa63e0368f6e8/bltb20e958eccdd9046/6111646893c9a33d73530cb2/Header_Image_1440x600.jpg
Dari research tentang Embodied Cognition (teori yang menyatakan bahwa pikiran, proses berpikir, dan kecerdasan manusia tidak hanya terjadi di dalam otak, tetapi sangat dipengaruhi dan terhubung dengan tubuh fisik serta pengalaman sensorik kita) menunjukan bahwa aktivitas menggambar menggunakan fisik kita secara langsung dapat meningkatkan kemampuan manusia untuk mengingat dan pemahaman yang jauh lebih besar dibandingkan deskripsi verbal atau pengamatan pasif yang tidak banyak melibatkan fisik. Prompting, berbanding terbalik dengan menggambar, adalah sebuah aktivitas yang didominasi dengan kemampuan ilmu bahasa. Mengubah konsep visual di pikiran menjadi sebuah kalimat, lalu berharap AI mengubahnya kembali menjadi visual sesuai dengan apa yang diimajinasikan.
Akhir-akhir ini, banyak orang yang menghabiskan waktu hingga beberapa jam hanya untuk membuat prompt yang sempurna di ChatGPT. Mereka terus mengubahnya dengan prompt-prompt seperti “Buat lebih modern”, “Bikin lebih nyata”, “Ubah stylenya”. Setelah banyaknya percobaan dan perubahan pada prompt mereka, mereka berhasil mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Sesuatu yang terlihat profesional, clean, dan rapih. Tapi, hasilnya tetap saja terasa hampa.
Padahal, yang diberikan oleh AI sudah sesuai dengan apa yang mereka minta. Ini berarti masalahnya bukan terletak pada AI yang mereka gunakan, tapi pada bagaimana mereka sebagai manusia menggunakannya.
Banyak dari mereka tidak mempelajari apapun dari aktivitas prompting ini. Mereka tidak sadar, bahwa, terus menerus menggunakan prompt-prompt yang polos dan simple tidak akan memperbaiki ‘kekurangan’ dari apa yang diberikan oleh AI. Karna sebenarnya, mereka saja tidak tau apa yang sebenernya ingin mereka ubah.
Lalu harus bagaimana?
Solusinya, coba mulai mengembangkan ide dengan menggambar. Fokus dengan menggambar sebanyak banyaknya dari ide awal lalu mengeksplornya, tujuannya adalah untuk memperbanyak ide. Setelah itu, perhatikan hasilnya, perbedaan diantara beragam gambar dan tema-tema yang muncul. Lalu pelajari apa yang sebenernya terjadi, contohnya, gambar terasa lebih family-friendly dan ramah ketika menggunakan warna hijau ataupun style apa yang lebih cocok dengan tujuan kita.
Lalu, kalian bisa implementasikan ini terhadap bagaimana kalian membuat kalimat prompt, ubah kalimat-kalimat yang simple seperti “ubah stylenya agar lebih rapih” menjadi kalimat yang memiliki tujuan seperti “gunakan style yang minimalis, dengan contrast utama ke bagian judul” ataupun “gunakan pallete warna yang menggambarkan kehangatan dan kepercayaan”. Ini mengubah prompting yang tadinya tidak memiliki tujuan dan terasa hampa, menjadi sesuatu yang memiliki campur tangan manusia, terdapat pemikiran dan alasan untuk setiap perubahan elemen. Perjalanan untuk mencapai hasil itu yang membuatnya terasa lebih ‘manusiawi’.
Ini hal penting bagi kita para seniman. AI dapat menggenerate sesuatu hanya dalam hitungan detik, berbeda dengan kita yang dapat memakan waktu berjam-jam lamanya. Jika kita menggunakan AI dalam semua proses, kita dapat kehilangan kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan. Mereka yang dapat bertahan di era AI adalah mereka yang mampu menggunakan AI untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.