Musik. seperti yang kita kenal, adalah sebuah seni atau ilmu dalam menyusun tinggi rendahnya frekuensi nada, cepat dan lambatnya ritme, mengatur keheningan menjadi komposisi, dan membuat semuanya elemen itu menjadi harmonis. Musik memiliki kekuatan untuk memberikan sebuah perasaan ataupun emosi menggunakan gelombang nada yang seringkali sulit dijelaskan oleh kata-kata.
https://evergreenviolin.com/a-guide-to-the-history-of-music-through-the-ages/?srsltid=AfmBOoqZbj8vhtApNk9eERbbd1-cNVsSgzEMaPxTEcMZRsGVz7p6v5kK
Dari dulu, musik telah selalu menjadi wajah seni itu sendiri. Dilihat dari sejarahnya, kata “musik” berasal dari bahasa Yunani Kuno “mousiké” yang berarti “seni para sumber inspirasi”. Istilah ini merujuk pada sembilan dewa mitologi Yunani, Muse, yang menjadi lambang inspirasi bagi semua bentuk seni, puisi, dan ilmu pengetahuan.
Ini artinya, musik selalu menemani manusia dari lama. Mulai dari zaman prasejarah, manusia mulai menggunakan musik sebagai alat untuk bertahan hidup. Manusia mencoba meniru suara-suara dari alam dan hewan, adapun juga penggunaan musik sebagai pendamping ritual rohani. Lalu, Musik terus berkembang. Pada Yunani Kuno, musik dianggap sebagai bagian penting dari pendidikan yang dapat membantu perkembangan jiwa dan pikiran. Pada Abad Pertengahan, para pemuka agama menggunakan musik dalam ritual-ritual keagamaan dan dipakai sebagai nyanyian untuk pemujaan dan penyebaran agama, musik menjadi berkaitan erat dengan ritual-ritual keagamaan. Di saat yang sama, para pengembara menggunakan musik sebagai alat untuk storytelling; cerita sejarah masa lalu, menyebarkan legenda-legenda, dan informasi berharga.
Tetapi, sudah menjadi apa sebenarnya musik di zaman modern?
Denis O'Regan served as David Bowie’s official photographer on the massive 1983 Serious Moonlight tour.
Dengan semua perubahan dan perkembangan dalam pemaknaan ataupun penggunaan musik di masa lalu, sekarang, musik telah berkembang dan menjadi sebuah alat. Alat untuk menunjukan diri kita, mulai dari hal kecil seperti; hobi ataupun gaya berpakaian yang kita suka, perasaan dan emosi yang sedang kita rasakan. Hingga, hal kompleks seperti; pandangan dan posisi kita terhadap suatu masalah politik dan gaya hidup yang kita jalani. Contohnya, para ‘penikmat alam’ biasanya mendengarkan lagu dari band yang sama, seperti Fourtwnty, Payung Teduh dan Fiersa Besari. Mereka yang memiliki selera musik yang sama biasanya memiliki banyak kesamaan di bidang lain juga, jadinya mereka lebih cepat untuk dapat saling terkoneksi. Mereka yang memiliki niche yang sama, biasanya saling berkumpul dan membentuk suatu kolektif atau scene (“skena” jika dalam kata gaul indonesia) berisi kumpulan orang orang dengan taste yang sama dan menggunakan musik sebagai media dalam membuat karya mereka.
Orang-orang, terutama para anak muda yang mendengarkan musik, melihatnya sebagai media untuk mengekspresikan diri mereka; orang-orang mulai menunjukan selera musiknya di berbagai sosial media berharap menemukan mereka yang memiliki selera musik yang sama dengannya, orang-orang memasang musik dengan lirik khusus pilihannya di status sosial media untuk menunjukan kondisinya saat itu, orang-orang menggunakan kaos band favorite untuk memperlihatkan betapa besarnya rasa cinta mereka terhadap selera musiknya. Mereka yang memiliki niche yang sama, biasanya saling berkumpul dan membentuk suatu kolektif atau scene (“skena” jika dalam kata gaul indonesia) berisi kumpulan orang orang dengan taste yang sama dan menggunakan musik sebagai media dalam membuat karya mereka.
Walaupun tidak selalu benar bahwa lagu yang kita dengar itu menunjukan bagaimana sebenarnya jati diri kita, tetap saja musik bisa digunakan orang-orang sebagai patokan ataupun segelintir ‘petunjuk’ tentang bagaimana sebenarnya jati diri orang-orang yang mendengarkannya.
https://x.com/iPopBase/status/2047911409003135376
Tetapi dengan meningkatnya fenomena skena, terdapat sebuah masalah. Seperti, pergeseran makna dan maksud dari lagu-lagu yang menjadi tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh sang penulis. Salah satu contohnya adalah penggunaan lagu-lagu ‘melawan’ oleh para pejabat dan instansi pemerintahan, menjadi sebuah ironi dimana lagu yang dimaksudkan untuk melawan sistem tetapi digunakan oleh sistem itu sendiri.
Pada akhirnya, walaupun tetap ada pihak-pihak yang menjadikan ini sebagai tempat untuk beradu gengsi dan merasa dirinya lebih hebat, perkembangan musik telah mempermudah orang-orang untuk mengekspresikan dirinya dan menyatukan mereka yang merasa sama.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.