article

Konsep Dasar Membangun Bisnis Startup

Konsep Dasar Membangun Bisnis Startup

Geliat membangun startup di Indonesia semakin tinggi. Didominasi oleh para kawula muda, bisnis dengan basis teknologi menunjukkan tren yang positif. Tidak hanya jumlahnya yang semakin banyak, pendanaan dari investor pun menunjukkan tren serupa.

Bisnis startup merupakan aktivitas yang sangat menantang dan membutuhkan kerja keras dan cerdas. Walau begitu, siapa pun bisa untuk mendirikan bisnis new wave ini, selama menerapkan paling tidak lima konsep dasar membangun bisnis startup berikut.

 

ads

Memahami Perbedaan Entreprenur dan Startup Founder

Ini adalah hal paling dasar yang harus dilakukan. Entrepreneur dan startup founder merupakan dua hal yang sama sekali berbeda meski sepintas terlihat sama.

Entrepreneur mencari peluang bisnis untuk memperoleh keuntungan di dalamnya. Dia cenderung berinvestasi tanpa dibarengi tanggung jawab besar dalam menjalankan perusahaan. Fokusnya adalah mendapatkan keuntungan finansial dan berusaha menciptakan bisnis yang sudah jelas keuntungannya, bukan justru meraba-raba pada kesuksesan yang belum pasti.

Startup founder sejak awal menargetkan untuk membawa perubahan. Meski juga mengharapkan keuntungan dari bisnis yang dilakukan, dia tidak menjadikan hal tersebut sebagai motif utama. Mereka berani maju dengan gagasan unik dan berprospek cerah meski di masa sekarang hal tersebut belum familier dengan kondisi masyarakat.

Mematangkan Gagasan Orisinal

Orisinalitas gagasan merupakan kunci utama yang harus dimiliki. Carilah ide produk (barang atau jasa) yang unik dan memberikan manfaat untuk konsumen. Bila terinspirasi dari perusahaan lain yang sudah lebih dulu ada, maka perlu ada improvisasi dan value lebih yang diberikan.

Kepekaan menjadi hal yang mendasari munculnya gagasan semacam ini. Mulailah dengan memerhatikan hal-hal basis yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Jangan hanya berfokus pada keunikan semata, tetapi pastikan ada manfaat nyata yang berdampak langsung bagi konsumen.

Membuat Rencana Bisnis

Tuangkan ide yang telah matang tersebut dalam sebuah bentuk rencana bisnis. Ada banyak platfrom bantuan yang bisa dimanfaatkan. Salah satu yang paling populer adalah menggunakan Business Model Canvas (BMC). Kerangka kerja ini tersusun atas sembilan subrincian dasar yang diperlukan untuk menjalankan bisnis.

Siapkan pula timeline yang akan digunakan. Buat target periodik untuk memantau kemajuan aktivitas yang dikerjakan. Dengan demikian, evaluasi pun lebih mudah untuk dilakukan.

Melakukan Riset Mendalam

Bagaimana mungkin bisa memprediksi keberhasilan atau kecerahan prospek bisnis bila tidak mengerti bagaimana respon calon konsumen? Untuk memperoleh informasi penting ini, riset perlu dilakukan.

Yang perlu diingat, hasil riset juga sangat mungkin mengubah rencana bisnis yang dilakukan—apakah strategi pemasaran yang perlu diubah, added value yang harus ditambah, dan lain-lain. Bila ingin mendapat hasil yang memuaskan, maka jangan menutup diri pada pivot rencana. Lakukan validasi ini hingga mencapai target kesesuaian yang diharapkan (misal, proyek ini akan berjalan bila 80 dari 100 orang puas terhadap hasil mockup yang dibuat).

Menemukan Rekan yang Tepat

Menemukan orang-orang yang memiliki visi dan konsistensi serupa adalah tantangan  tersendiri. Mendapatkan orang-orang yang klik tidak hanya dilakukan dalam satu atau dua hari saja. Tidak jarang menemukan soulmate untuk bisnis seperti ini bahkan baru terwujud bertahun-tahun kemudian.

Bisnis startup yang ideal membutuhkan hustler, hacker, dan hipster. Hustler adalah mereka yang fokus pada pemasaran dan bisnis, hacker adalah mereka yang berkutat dalam urusan coding dan teknologi, sementara hipster adalah mereka yang berkompetensi dalam  desain dan kreatif (user experience). Mengingat bisnis startup merupakan aktivitas yang menuntut profesionalisme, hindari melakukan kerja sama hanya karena dilandasi ha-hal yang bersifat emosional.

Konsep dasar membangun business startup tidaklah susah, bukan? Walau begitu, tidak jarang banyaknya tantangan membuat calon founder enggan untuk meneruskan rencananya.

Selain itu, banyak pula yang meributkan mengenai domisili usaha bisnis. Bila kondisinya masih baru dan belum stabil, menggunakan virtual office bisa jadi alternatif yang pas. Dengan begitu, kondisi finansial tidak akan terlalu terbebani dan dapat dimanfaatkan untuk operasional yang lebih mendesak.

Baca Juga: Perbedaan Kantor Virtual dengan Kantor Konvensional 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads