Mereka tinggal serumah tetapi menempati kamar yang berlainan. Suatu malam, setelah sekian kebiasaan tidur seranjang yang tidak diadegankan, Johann mendapati Erika hilang dari sisinya. Segera ia menuju kamarnya sendiri—duga dan kekhawatirannya tak meleset, perempuan itu memang telah di sana; terduduk di lantai dalam gelagat lunglai, memakai topeng (yang biasa dipakai Johann untuk melancarkan aksi perampokan bank), dan hasil rampokan berantakan di luar kolong ranjang. “Apa itu penting bagi hidupmu, hanya sedikit uang?†ujar Erika, dengan nada bicara khas seorang kekasih yang dikecewakan. Wanita itu memuaskan curiga, lantas membongkar rahasia. Johann lekas menimpalinya, dengan kejengkelan tak bertenaga khas seorang yang lelah dan tak terpahami, “Apa yang aku lakukan, tidak ada hubungannya dengan apa yang kau sebut kehidupan.â€
***
Johann memiliki raut yang monoton; mewarisi hasil tempaan hidup yang keras, tanpa kemahiran berbasa-basi. Ia tidak menguasai fleksibilitas-ekspresi khas dekorasi relasi sosial yang stabil. Kerutan di wajahnya tampak dirawat kecemasan. Pada dua momen saja, tokoh yang diambil dari sebuah kisah nyata ini, membuat sumringah kecil; untuk membalas tatapan bocah di dalam bus dan ketika bertemu Erika—gadis dari masalalu yang kini telah menjadi matang. Johann adalah sebuah pose, kebekuan seorang lelaki penanggung belenggu.
The Robber tak membenahi “kemisteriusan†itu; dan justru membiarkannya menjadi yang enigmatik hingga maut merenggut karir sang perampok: adegan berakhir di tepi jalan raya, dalam sebuah drama kematian yang dingin. Kehidupan Sang Rettenberger terparkir di selepas jauh, di tengah kabut, diiringi tata bunyi yang memukau dan amat membekas. Di detik-detik itulah, untuk kali-pertama, ia pertontonkan sebentuk gairah natural yang terlambat, dari diri yang terlanjur terpencil: bercakap dengan seseorang.
Bila anda menyukai film sebab quotes menggugah—atau edukatif—yang diucap para tokohnya, maka The Robber barangkali bukan tontonan yang pas; hampir tidak ada dialog memikat di dalamnya. Johann Rettenberger, tokoh sentral dalam film tersebut, adalah sosok yang cenderung pendiam. Sepanjang 1 jam 36 menit, The Robber cuma menyajikan dua jenis adegan: berbuat jahat lalu melarikan diri, dan selebihnya serpih variasi penunjang—yang hampir semuanya diperlukan untuk memberi kelengkapan detail bio-pic dan menyelamatkan film ini dari banalitas sebuah thriller.
Tetapi film adaptasi dari novel Martin Prinz ini, sebenarnya cukup jenius; sebab telah memilih strategi narasi yang tepat dengan tidak menampilkan kejelasan sosok Johann secara penuh. Di sanalah, yang biasa kita sebut sebagai perspektif-lain— “the others†side—dari film yang sempat ternominasikan (Golden Bear) pada gelaran 60th Berlin International Film Festival, pula memenangkan 5 kategori dari 11 nominasi yang dia raih dalam berbagai festival film lainnya, justru terasa hadir. Meski samar, kehadiran itu berpotensi menguat melalui kejelian mata penonton.
Selengkapnya, di sini.
Comments (2)
Permisi Ya Admin Numpang Promo | www'AJOQQ'c0m | Agen Poker Online Di Indonesia | Depo 50rb Dapat Bns 5rb | Player vs Player NO ROBOT!!! | 6 game dalam 1 ID | pin bb : 58cd292c
Hallo semua..ingin lihat yang lebih seru!! Anda akan merasakan serunya bermain di semua permainan kami.. ini infonya .. 5*E*E*8*0*A*F*E :) Salam Admin Fans :)