article

IRONI KOTA DAN KITA

IRONI KOTA DAN KITA

Pada tahun 2030, Badan Organisasi Dunia (WHO) meramalkan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), atau Penyakit Gangguan Paru Kronis, akan menempati urutan ketiga penyumbang kematian dini manusia di seluruh dunia, terutama di kota-kota besar negara berkembang. Sayangnya, prediksi tersebut kerap melulu dikaitkan dengan perokok. Menurut data BPS tahun 1999 saja, di beberapa propinsi; terutama kota-kota besar seperti Medan, Surabaya, Jakarta—emisi kendaraan bermotor adalah kontributor yang paling dominan. Kondisi itu semakin parah seiring lahan hijau yang terus menyusut dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam merawat kualitas udara di tempat tinggalnya.

Saat isu kenaikan harga rokok mencuat ke publik, gegap gempita pro-kontra segera menyambut: dalih kesehatan menjadi poin paling sakral. Tetapi sumbangsih argumen atau kampanye “berkendara dengan sehat dan nyaman” tetap senyap meskipun sama-sama telah kita ketahui bahwa polusi udara seharusnya tak identik dengan kemajuan sebuah kota. Hal ini menjelaskan, betapa lemah kesadaran kita ketika sebuah prilaku yang keliru terlanjur dianggap lumrah. Dalam kalimat lain: prilaku tidak terpuji yang dilakukan keumuman orang gampang pudar rasa bersalahnya. Padahal polusi udara dari asap jalanan bisa kita minimalisir melalui kesadaran yang personal yakni dengan memasang filter pada kendaraan bermotor masing masing.

Dilansir oleh BBC Indonesia, kualitas udara yang buruk di kota London diperkirakan sudah membunuh sekitar 10.000 orang setiap tahunnya. Dilaporkan Tempo, pada 31 Mei 2016, DKI Jakarta merupakan kawasan dengan tingkat polusi udara terburuk ke-3 di dunia. Anda juga perlu tahu: di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaran bermotor. Mengerikan, bukan? Sebab itu, saya tidak heran ketika salah satu sanak keluarga yang seorang perempuan dan bukan perokok batal diterima kerja karena tidak lulus dalam test kesehatan: “paru-parunya gosong”. Ia tinggal di kota besar dan hampir seumur hidup tak pernah memakai masker untuk melindungi pernapasannya dari zat-zat pencemar yang berbaya.

ads

Ironisnya, semenjak 1976 kita telah memiliki pabrik filter untuk menyuling potensi pencemaran kendaraan yang sekarang sudah menghasilkan berbagai varian produk; semulai air filter (saringan udara), oil filter (saringan oli), fuel filter (saringan bahan bakar), hingga produk cabin air filter (saringan AC mobil), dll. Pabrik dengan nama PT. Selamat Sempurna, Tbk yang berlokasi di Tangerang dan pemiliknya merupakan “orang lokal” itu, merek unggulannya yang pada tahun 2013 mendapat penghargaan Otomotif Choice Awards: “Filter Sakura”—telah diekspor ke lebih dari 100 negara di 5 benua berbeda. Dan anda tahu, tidak kurang dari 70 % produknya untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri dan cuma 30% sisanya yang diserap pasar lokal. Hal ini bisa menjadi gambaran tentang tingkat konsumsi filter pemilik kendaraan bermotor di tanah air.

Kesadaran menggunakan filter kendaraan bermotor menjadi kian penting, mengingat: di tahun 2014 saja, populasi kendaraan bermotor di Indonesia telah menembus angka 104,2 Juta unit dan jumlah tersebut merupakan yang paling banyak di kawasan Asia Tenggara. Untuk kota  Jakarta, angkanya lebih mencengangkan: tahun 2015, hampir 5.500 sampai 6000 unit kendaraan bermotor menjadi penghuni baru di setiap harinya.

Penelitian BAPEDAL 2004 di kota Jakarta menunjukan bahwa kendaraan bermotor berkontribusi: 98,80% konsentrasi CO (karbon monoksida), 73,40% konsentasi NOX (Nitrogen Oksida), dan 88,90% konsentrasi HC (hidrokarbon). Sayangnya saya tidak menemukan analisis penelitian yang mengaitkan data pertumbuhan angka kendaraan bermotor dengan indeks pencemaran atau kualitas udara kota untuk konteks geografi yang lebih luas, tetapi bisa kita bayangkan: dari data BPS tahun 1999 saja, kontribusi emisi kendaraan bermotor untuk konsentrasi NO2 dan CO di udara telah menyentuh lebih dari 50%—bagaimana di tahun 2016? Silahkan anda bayangkan sendiri.

Sebenarnya cukup banyak blog pribadi yang mengulas atau memberikan penjelasan betapa bergunanya pemakaian filter pada kendaraan; bukan hanya untuk mengurangi resiko pencemaan, tetapi juga untuk menjaga komponen mesin dari kerusakan. Filter yang kita pasang akan menyuling udara yang masuk ke dalam ruang bakar saat mesin dinyalakan; partikel-partikel yang tidak bisa terbakar dalam ruang pembakaran tetapi ikut tersedot masuk bersama udara akan tersaring dan penurunan performa kendaraan dapat dihindari. Secara tak langsung, penggunaan filter juga berarti menghemat biaya perawatan mesin kendaraan—selain tentu saja: demi kesehatan udara yang kita hirup bersama-sama.

Kampanye tersebutlah yang paling mungkin, sebab pengalihan mobilitas masyarakat kepada moda transportasi massal dalam kota yang nyaman membutuhkan penyiapan yang tidaklah sebentar dan pembatasan terhadap angka penjualan kendaraan bermotor di negara berkembang jauh lebih menyulitkan, sementara kondisi jalanan yang macet memperlambat laju—itu artinya: mempertebal sumbangsih kendaraan bermotor bagi pencemaran udara kita. Sebagian orang beruntung hanya menghirup udara kota setelah dewasa karena tuntutan lokasi pekerjaan, sebagian yang lain menghirupnya sejak bayi, sebagian yang tersisa harus menghirupnya dengan paru-paru yang rapuh  tua dan tua. Di titik ini, memakai filter juga merupakan partisipasi yang berharga untuk kelangsungan hidup yang nyaman bagi kita dan kota.

banner.gif

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads