Datangnya era kebebasan ekspresi dan dunia digital, selain mendatangkan berkah; lapak keberungkapan diri yang kian luas dan nyaris tanpa batas—juga membawa serta sebuah resiko yang seringkali kita remehkan. Apalagi setelah 32 tahun berada dalam penyulingan militeristik orde baru, sedikit-banyak tentu memberi suatu efek samping atau suasana psikologi massa serupa “balon bocorâ€. Segalanya dicoba dan segalanya disajikan. Suatu kondisi sosiologis yang cenderung genit dan kemudian segera mendapat topangan koneksitas internet yang dengan mudah senantiasa luput dari kontrol otoritas semacam lembaga sensor.
Di konteks Indonesia, apa yang saya sebut dengan “sebuah resiko†di atas semakin rentang karena fakta keberagaman SARA yang luar biasa variatif. Kebhinekaan kita sebenarnya mengandung sebuah konsekuensi—selain tentu saja merupakan berkah tak terukur keberhargaannya—yakni:  toleransi. Keberbedaan ruang etnikal, agama, berarti keterpisahan “nilai†yang dianut oleh masing-masing penghuni dan penganut. Meski tidak dalam segala hal, tapi ada saja yang—semisal: apa yang dianggap wajar oleh masyarakat Batak terasa sarkastik bagi masyarakat Jawa dan apa yang dianggap wajar oleh masyarakat Papua tampak tak sopan bagi masyarakat Aceh. Di titik inilah, lembaga sensor, betapa pun canggihnya, tidak akan paripurna mengatasi “kenakalan†konten media yang dikonsumsi oleh publik Indonesia secara umum. Sebab itu, selain toleransi, “sensor mandiri†menjadi penting di sini.
Kita tahu, paska tahun 2000, pertelevisian swasta berkembang dengan luar biasa dan persaingan yang terjadi di dunia showbiz tersebut kerap merugikan masyarakat. Tak jarang televisi justru menghasilkan program kurang mendidik. Ironisnya: mendapat rating tinggi. Hal ini menandakan bahwa masyarakat belum memberlakukan sensor mandiri untuk dirinya atau keluarganya. Di sisi lain, program-program yang kurang mendidik itu tidak selamanya menyediakan cukup alasan bagi lembaga sensor formal untuk menindak, menegur, atau menutup program tersebut: selalu saja ada cara untuk berkelit dan menerapkan sebentuk akal bulus. Dalam dunia internet lebih mengerikan lagi: nyaris sepenuhnya bebas upload, bebas ditonton.
Meskipun telah diterapkan penyantuman "kelompok umur" terhadap tayangan televisi, akan tetapi tidak menjamin keseluruhan konten di dalamnya sesuai. Selain itu, iklan yang menjadi jeda, kiranya perlu juga mendapat perhatian. Apalagi, sejak terlibatnya media dalam politik, “polusi informasi†kian menebal. Bagi usia dewasa, hal tersebut mungkin tak menjadi soal yang mengkhawatirkan. Tapi bagi anak-anak? Ya, mereka butuh ditemani saat mengonsumsi tayangan televisi atau konten-konten dari internet. Di usia anak-anak, rasa ingin tahu begitu tinggi, karenanya “melarang†bukan solusi yang pas. Sebab bisa jadi justru menguatkan rasa penasaran mereka—penghapusan channel, atau memainkan pemindahan channel, atau bersandiwara listrik mati, ketika “konten cemar†melintas di layar kaca bisa menjadi strategi yang lebih lunak dan tak memancing rasa penasaran anak-anak. Itulah kegunaan remot: untuk sebuah kontrol.
Tindakan-tindakan itu sebenarnya termasuk penerjemahan “budaya sensor mandiri†dalam prilaku yang konkret. Dalam pengertian fungsionalnya, sensor merupakan alat untuk mekanisme deteksi. Lantas alat apa yang kita miliki dalam tubuh atau pikiran? Ya, kesadaran! Tanpa kesadaran, mekanisme deteksi menjadi mustahil. Oleh karena itu: tindakan sensor membutuhkan gaya hidup yang teguh memegang sebuah prinsip. Suatu pra-syarat yang tak bisa ditawar, mutlak. Prilaku menyeleksi, dalam “era bebas (nyariis) tanpa batas†ini menyehatkan diri: membentuk semacam sistem kekebalan dan menghindarkan otak dari “asupan beracun†yang tak selamanya sanggup diolah oleh kecerdasan kita. Kini, kita bisa menyaksikan secara nyata dampak-dampak yang sebelumnya mungkin tak terbayangkan; pemerkosaan yang menimpa anak-anak, juga dilakukan oleh anak-anak, style fashion dewasa yang digemari anak-anak, ungkapan-ungkapan “kotor†di dunia anak-anak, hingga sebentuk anomali “tua-tua keladiâ€. Bahkan, tak jarang terjadi kasus pencurian yang dilatari oleh hasrat memiliki barang dengan merek tertentu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh pelaku.
Membudayakan sensor mandiri, berarti melatih diri secara terus-menerus untuk prose memperbaiki kepantasan hidup yang dilandasi prisnsip. Dengan gaya hidup semacam itu, kebebasan tak menjerumuskan tetapi menyelamatkan sekaligus tak memberangus keleluasaan kita. Kekerasan, pornografi, ungkapan-ungkapan intoleransi, yang kerap menyusup; baik yang lugas maupun yang samar—dalam tayangan-tayangan televisi, pemberitaan, atau konten-konten di internet, tak begitu saja lolos dan mempengaruhi cara-cara kita memahami kualitas hidup atau mengambil-alih kontrol atas diri sendiri seiring ketelitian yang terus terasah dan kesadaran yang kian yakin. Membudayakan sensor mandiri berarti membentuk “sebuah kepribadian†dalam kebebasan yang ingin bertanggung-jawab.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.