article

4 Windu Dedikasi UT: Sebuah Pengabdian Panjang Merawat Harapan Lintas Generasi

4 Windu Dedikasi UT: Sebuah Pengabdian Panjang Merawat Harapan Lintas Generasi

"UT menjawab kebutuhan masa kini, di mana pendidikan seringkali harus ditempuh berbarengan dengan sejumlah kesibukan lain, tanggung jawab lain, pula menangani keadilan sosial dalam bidang pendidikan yang masih 'jauh dari panggang'. Sejak wisuda pertama tahun 1986, UT telah meluluskan tak kurang 1,2 juta mahasiswa. Sebuah sumbangsih yang tidak bisa dianggap enteng."

ads

Belasan tahun setelah hari kelahirannya, 4 September 1984, UT (universitas terbuka) masih menanggung sejumlah stigma: semulai dari "kampus kaum berumur" sampai "kampus ibu-ibu" bahkan tersiar pula gosip tentang ijasah ilegal. Anggapan tersebut bertahan cukup lama, terutama di daerah-daerah terpencil. Di situlah letak ironisnya. Sebab salah satu tawaran "alternatif" dari perguruan tinggi negeri ke-45 di Indonesia ini adalah tertanganinya problem "waktu dan jarak" melalui fleksibilitas perkuliahan tatap muka, dan problem itu tumbuh subur di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau infrastruktur pendidikan.

Namun seiring semakin mudahnya akses internet di pelosok desa, membuat riwayat stigma itu tamat lebih cepat. Pada Juni 2016, tercatat 141. 370 (atau lebih dari 47%) mahasiswa UT berusia di bawah 29 tahun, 77. 237 di antaranya bahkan masih berusia kurang dari 25 tahun. Jumlah tersebut adalah bukti yang valid bahwa sebagian besar peminat UT justru datang dari kalangan muda. Menurut catatan statistik tahun 2015, dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 350.000, UT merupakan salah satu dari "The Top Ten Mega University of The World" sebuah bantahan yang nyata terhadap desas-desus bahwa kampus yang kerap disalahartikan filosofi keterbukaannya ini, tak ramai peminat. Saat ini jumlah mahasiswa aktif tak kurang dari 299.317 yang tersebar di seluruh Indonesia dan sebagian kecil tersebar di 27 negara di seluruh dunia.

  • Statistik Mahasiswa UT berdasarkan umur. Sumber: klik di sini.

  • Statistik Mahasiswa UT berdasarkan negara. Sumber: klik di sini.

Ada sejumlah faktor yang mendorong kian diminatinya UT, di antaranya yang telah saya singgung pada paragraf pertama: "fleksibilitas perkuliahan tatap muka". Hal ini merupakan pengejawantahan misi atas didirikannya UT, terutama poin ke-1, yakni: Menyediakan akses pendidikan tinggi yang berkualitas dunia bagi semua lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan berbagai program PTTJJ untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi. Implikasi "metode alternatif" tersebut sangatlah berharga. Selain biaya pendidikan menjadi relatif lebih terjangkau, metode itu mampu menjawab berbagai persoalan di tengah kian semaraknya kebutuhan memperoleh titel sarjana. Harus diakui bahwa belum meratanya infrastruktur pendidikan perguruan tinggi yang dibarengi dengan masih banyaknya masyarakat yang hidup dalam kondisi perekomonian menengah ke bawah, adalah wajah ke-tak-adil-an sosial dalam bidang pendidikan. UT membenahi ketidakadilan itu (meskipun tak akan sepenuhnya, tentu saja).

Bagi mereka yang hidup di daerah terpencil (apalagi memiliki kesibukan reguler; ibu rumah tangga, karyawan, petani, atau profesi lainnya), menempuh jenjang perguruan tinggi bukan impian yang dapat diperjuangkan secara rutin setiap hari. Perlu schedule khusus yang kompromis. Kehadiran UT menyediakan ruang terbuka bagi tergapainya impian para pemilik kesibukan itu: "jarak tempuh terpangkas" dan :"waktu buat kuliah tatap muka tak menyita tanggung jawab lain yang diembannya". Keduanya, tentu saja menghasilkan beban pembiayaan jauh lebih ringan. Itu artinya: selain mereka yang bertempat tinggal di luar jangkauan infrastuktur perguruan tinggi, atau mereka yang punya kesibukan reguler, orang-orang yang "ciut nyali" sebab mengira bahwa biaya untuk menjadi sarjana terlalu mahal, juga diberikan sebuah kesempatan yang terbuka.

  • Statistik Mahasiswa UT berdasarkan regional office. Sumber: klik di sini.

Filosofi "terbuka" tersebut sangatlah penting, mengingat: tak semua orang yang ingin menempuh jenjang perguruan tinggi punya "keberuntungan" tepat waktu. Terkadang, mereka baru mendapat "kesempatan" pada tahun ke-3, atau ke-4, atau ke-17, setelah tahun kelulusan SMA-nya berlalu. UT, selain menjangkau "para peminat" secara luas bahkan hingga daerah pelosok maupun luar negeri, juga tidak membatasi masa studi dengan tidak memberlakukan sistem drop-out dan membuka registrasi sepanjang tahun. Rasa-rasanya, tanpa filosofi "keterbukaan" itu kita tak akan mendapat berita menggembirakan ini: Minggu, 20 Mei 2016, TKI Taiwan mengukir sejarah baru, 12 orang resmi menjadi sarjana, salah satu dari mereka (Sulastri Sukadi) bahkan mampu meraih IPK 3,34.

Selain itu, sejumlah prestasi yang berhasil ditorehkan UT juga turut mempengaruhi berubahnya pola pikir masyarakat yang memdorong kalangan muda tidak ragu-ragu memilih UT sebagai perguruan tinggi tujuan. Prestasi-prestasi tersebut, setidaknnya menjadi informasi yang sanggup menghapus stigma kuno yang terlanjur lekat selama belasan tahun. Apalagi UT membuka sederet jurusan dan fakultas yang sudah umum ditawarkan kebanyakan "universitas konvensional" seperti FKIP dan FISIP. UT juga membuka jurusan yang terbilang jarang, tetapi kebutuhan profesinya kian tahun kian meningkat, yakni: Kearsipan, Perpustakaan, dan program sertifikat bahasa Indonesia untuk penutur asing. Sampai tahun 2016, tercatat: UT memiliki 27 program studi S1, 3 program studi diploma, dan 4 program magister (ditawarkan 4 fakultas). Dibukanya program magister mengukukuhkan posisi UT sebagai universitas yang menjanjikan akses lebih bagi peminat ilmu pengetahuan. Sebagian besar program studi di UT juga sudah mendapatkan akreditasi dari BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). Universitas Terbuka juga telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 dari badang sertifikasi SAI GLOBAL dan SGS.

  • Panorama sebuah gazebo di lingkungan wisma kampus UT. Sumber gambar: klik di sini.

  • Kampus UT Palembang. Sumber gambar: klik di sini.

  • Gedung FMIPA PUSLATA FEKON 2. Sumber gambar: klik, di sini.

  • Gedung Wisma 3 UT pusat. Sumber gambar: klik di sini.

Berikut beberapa kesuksesan UT yang saya himpun dari berbagai sumber:

  • 24 November 2010, UT telah menerima Quality Certificate dari International Council for Open and Distance Education (ICDE), Oslo - Norwegia. Berkat penghargaan dari IDCE itu, Kementerian Pendidikan nasional memberikan "Anugrah Anindyaguna" di tahun yang sama.
  • Berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Webometrics (sebuah situs yang melakukan pemeringkatan universitas-universitas seluruh dunia berdasar parameter digital; konten global yang terindeks oleh Google, jumlah rich file yang terindeks di Google Scholar, dan karya akademik yang terpublikasi di jurnal internasional), pada Januari 2013, UT berhasil menduduki peringkat ke-64 universitas terbaik di Indonesia.
  • Pada tahun 2014, UT berhasil menyabet juara pertama terkait kinerja Badan Layanan Umum (BLU) untuk kategori Perguruan Tinggi Negeri dan mampu mengalahkan 21 Perguruan Tinggi Negeri pesaingnya.
  • Pada tahun 2015, Rektor UT, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D menjadi salah seorang yang terpilih sebagai "Top 50 Influencers in Asia Pasific Education Lanscape" dan pada tahun 2016 namanya tercamtum dalam daftar "71 Indonesian Inspiring Women" versi majalah Women Obsession.
  • Dalam gelaran Educational Technology World Conference (ETWC) 2016 yang berlangsung di Bali 2 Agustus 2016. Beberapa delegasi UT berhasil meraih penghargaan Best Paper (9 buah judul), bahkan salah satunya meraih 3 penghargaan sekaligus.

Selama Empat windu turut merawat harapan putra-putri negeri, UT telah mendapat kepercayaan dari tokoh-tokoh penting, semulai figur politik sampai artis, sebut saja: Ibu Any Yudhoyono (istri presiden SBY), Djoko Suyanto (mantan Menkopolhukam), Wiranto (mantan Panglima TNI, ketua partai Hanura, Menkopolhukam), Ny. Agum Gumelar. Nama-nama tersebut membuktikan bahwa UT bukanlah universitas "kelas dua". UT, seperti yang telah saya tulis sebelumnya: menjawab kebutuhan masa kini, di mana pendidikan seringkali harus ditempuh berbarengan dengan sejumlah kesibukan lain, tanggung jawab lain, pula menangani keadilan sosial dalam bidang pendidikan yang masih "jauh dari panggang". Sejak wisuda pertama tahun 1986, UT telah meluluskan tak kurang 1,2 juta mahasiswa. Sebuah sumbangsih yang tidak bisa dianggap enteng.

  • 1500 wisudawan mendapat kesempatan mengikuti wisuda di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), pada Selasa 5 Mei 2015. Sumber gambar: klik, di sini.

Berikut saya cantumkan nama-nama alumni lainnya yang telah mempercayakan karir pendidikan kepada Universitas Terbuka (UT) yang barangkali semakin menginspirasi anda:

  • Salmaza, Wakil Walikota Subulassalam Ãâ Nangroe Aceh Darussalam (2014-2019).
  • Petronella Kambuaya, anggota DPRD Kota Sorong yang juga merupakan isteri dari Walikota Sorong, Papua Barat.
  • Mochamad Sugeng, sekretaris daerah kota Sibolga. Karirnya dimulai sebagai guru SMA Taman Siswa Probolinggo, 1883; menjabat Kepala Sekolah SMA Kraksaan - Probolinggo, 1990-1997; menjadi Pamong Pengajar SMA Taruna Nusantara Magelang; kembali menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAN Plus Matauli Pandan-Sibolga, 1998. Pada tahun 2001 menduduki jabatan Kepala dinas pendidikan kabupaten Tapanuli Tengah.
  • Sukran Jamilan Tanjung, Bupati Tapanuli Tengah, 2011-2016.
  • Muhammadong, Kepala Sub Bagian Umum dan Perlengkapan di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
  • M. Syarfi Hutauruk, anggota DPR/MPR RI (1997-1999), anggota DPR/MPR RI (1999-2004), staf Setditjen Penerangan Umum Deppen RI (1988-2001). Kini menjabat Walikota Sibolga.
  • Asmirandah Zantman, aktris (pemain sinetron).
  • Willy Suwandi Dharma, Presiden Direktur PT. Adira Dinamika Multifinance 2002-2012 yang menerima sejumlah penghargaan: Outstanding Entrepeneur of The Year (Asia Pacific Entrepreneurship Awards), Top Executive of Insurance  Company (Investor Magazine), Best of Motivation CEO (Business Review), Top Execitive Multifinance Company (Investor Magazine), Best CEO (Warta Ekonomik Magazine), dan yang terbaru (2015), Best CEO (Bisnis Indonesia).
  • Mazidatun Maftukhah, pernah terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam Asia-Pacific Urban Forum Youth Assembly (APUFY), mengikuti Global Peace Foundation Camp. Karyanya yang berupa puisi dan gambar ilustrasi bertema Mental Health Matters berhasil ditampilkan di gedung PBB tahun 2014.
  • Keiko Hubbansyah, peneliti dalam bidang manajemen perusahaan. Ia pernah mewakili pelajar Asia di Asian Science Camp (Bali, 2008). Kini menjabat Kepala Bidang Kajian Aksi Strategis dan Propaganda Lingkar Studi Intelektual Muda.

  • Profil Universitas Terbuka.

Empat Windu bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah dedikasi. 32 tahun adalah perjalanan panjang pengabdian. UT kini menjelma menjadi perguruan tinggi dengan berbagai fasilitas terbaik tanpa meninggalkan filosofi "terbuka" dan tetap "fleksibel" menjadi solusi dalam tantangan zaman. Pada akhirnya, menempuh jenjang perguruan tingga tidak semata-mata soal titel sarjana dalam rangka memenangkan persaingan dunia kerja, tetapi juga soal menempa mental untuk menghadapi sekaligus membaca perubahan-perubahan di zaman yang terus bergeser. Seorang petani kini tak cukup lagi dengan hanya memahami siklus musim, ia juga membutuhkan kecerdikan membaca siklus perdagangan. Untuk menjadi ibu yang baik, Seorang ibu rumang tangga, kini tak cukup lagi hanya dengan memastikan ASI Ekslusif atau asupan makanan sehat, ia juga membutuhkan kecerdasan memahami gejala zaman untuk menjamin edukasi dini yang tepat buat anak-anaknya. Dan kita tahu: "kesempatan" dan "keberuntunan" tidak selalu datang tepat waktu. Tapi kita juga sudah tahu: Universitas Terbuka senantiasa siap-sedia sepanjang tahun untuk menerima siapa saja dan di mana saja. Keberadaan UT adalah akses ilmu pengetahuan untuk semua kalangan.

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.
0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads