Pernah nggak kamu buka sebuah poster, lalu baru lihat beberapa detik sudah merasa capek duluan? Padahal informasinya sebenarnya penting. Ada judul, tanggal, tempat, harga, kontak, bahkan mungkin ada promo yang menarik. Tapi karena semuanya ditaruh dalam satu tempat, mata malah bingung harus melihat bagian mana. Akhirnya kita tutup. Bukan karena informasinya nggak menarik, tapi karena dari awal tampilannya sudah terasa melelahkan.
Hal seperti ini sering kita temui tanpa sadar. Poster acara, konten Instagram, banner promosi, sampai desain website kadang berisi terlalu banyak hal dalam satu layar. Semua informasi ingin dimasukkan karena takut ada yang terlewat. Semua warna ingin dipakai karena terasa lebih menarik. Semua elemen juga ingin ditampilkan supaya desain nggak kelihatan kosong. Masalahnya, ketika semuanya dimasukkan sekaligus, orang yang melihat malah bisa kehilangan minat untuk membaca.
Semua ingin ditonjolkan
Salah satu penyebab desain terasa ramai adalah ketika hampir setiap bagian dibuat seolah-olah paling penting. Judul dibuat besar, harga dibuat besar, foto diperbesar, logo ikut ditonjolkan, lalu ditambah ikon, garis, bentuk, shadow, dan beberapa warna yang sama-sama mencolok. Masing-masing elemen mungkin terlihat bagus kalau berdiri sendiri. Tapi ketika semuanya berada di satu tempat, mata nggak tahu harus mulai dari mana.
Bayangkan saja kamu sedang berada di sebuah ruangan dan semua orang berbicara dengan suara keras. Kamu mungkin masih bisa mendengar semuanya, tapi sulit menangkap satu pembicaraan dengan jelas. Desain juga punya masalah yang mirip. Kalau semua elemen meminta perhatian secara bersamaan, informasi utama malah bisa tenggelam. Karena itu, sebuah desain perlu punya urutan. Orang harus bisa tahu bagian mana yang dibaca dulu, lalu ke mana mereka melihat setelahnya.
Tulisan banyak bukan berarti harus dibuang
Desain yang penuh tulisan sebenarnya nggak selalu buruk. Ada kebutuhan tertentu yang memang membutuhkan banyak informasi, seperti poster acara, infografis, pengumuman, atau halaman website. Masalahnya bukan pada jumlah tulisan saja, melainkan bagaimana tulisan tersebut disusun. Satu paragraf panjang yang ditempel begitu saja tentu terasa lebih berat dibanding informasi yang dibagi menjadi beberapa bagian dengan ukuran dan jarak yang berbeda.
Misalnya sebuah poster acara memiliki tanggal, lokasi, harga tiket, pengisi acara, dan cara pendaftaran. Semua informasi itu tetap bisa dimasukkan tanpa membuat poster terasa sesak. Judul dibuat paling mudah ditemukan, informasi acara dikelompokkan, lalu detail tambahan dibuat lebih kecil. Pembaca akhirnya nggak perlu membaca semuanya dari awal sampai akhir hanya untuk menemukan tanggal atau tempat acara.
Ruang kosong bukan berarti desainnya belum selesai
Banyak orang masih merasa area kosong pada desain harus diisi. Ada ruang sedikit, langsung ditambah bentuk. Ada bagian yang terasa sepi, ditambahkan tulisan atau ornamen. Padahal ruang kosong punya fungsi sendiri. Area tersebut memberi jarak antara satu informasi dengan informasi lainnya sehingga mata nggak merasa semuanya menempel.
Coba lihat desain yang menggunakan banyak ruang kosong. Biasanya kita bisa langsung menemukan judul, gambar utama, atau tombol yang ingin ditekan. Bukan karena elemennya lebih banyak, tetapi karena setiap bagian punya ruang untuk terlihat. Ruang kosong membuat desain terasa lebih lega dan membantu pembaca mengikuti informasi tanpa harus mencari-cari.
Warna dan font juga bisa bikin tambah penuh
Selain layout, pemilihan warna dan font ikut menentukan apakah sebuah desain terasa nyaman atau malah melelahkan. Menggunakan banyak warna sebenarnya boleh saja, terutama kalau memang sesuai dengan karakter desain. Tapi kalau setiap elemen diberi warna berbeda dan semuanya dibuat terang, perhatian akan berpindah ke banyak tempat. Begitu juga dengan font. Menggunakan terlalu banyak jenis font dalam satu desain bisa membuat tampilan terasa tidak konsisten.
Biasanya kita nggak membutuhkan enam atau tujuh jenis font untuk membuat informasi terlihat berbeda. Ukuran, ketebalan, jarak, dan posisi tulisan sudah bisa digunakan untuk membedakan judul dengan informasi pendukung. Hal yang sama berlaku pada warna. Satu warna utama dan beberapa warna pendukung sering kali sudah cukup untuk membuat desain punya karakter tanpa membuat mata bekerja terlalu keras.
Desain ramai bukan berarti jelek
Meski begitu, desain yang ramai nggak otomatis berarti desainnya buruk. Ada jenis desain yang memang membutuhkan tampilan penuh dan berani. Poster konser, festival, acara anak muda, atau kampanye tertentu misalnya, bisa menggunakan banyak warna dan elemen karena memang ingin menciptakan suasana yang ramai. Yang perlu diperhatikan adalah apakah keramaian tersebut memang punya alasan atau hanya ditambahkan supaya desain terlihat penuh.
Kalau setiap elemen punya fungsi, desain yang ramai masih bisa terasa teratur. Sebaliknya, desain yang elemennya sedikit pun bisa terasa berantakan kalau penempatannya nggak jelas. Jadi persoalannya bukan sesederhana “sedikit lebih bagus” atau “banyak lebih menarik”. Yang penting adalah bagaimana orang bisa memahami isi desain tanpa harus berusaha terlalu keras.
Kadang yang perlu dilakukan cuma mengurangi
Saat membuat desain, kita sering berpikir tentang apa yang harus ditambahkan. Padahal ada saatnya kita perlu melakukan kebalikannya. Coba lihat kembali desain yang sudah dibuat, lalu perhatikan elemen mana yang sebenarnya nggak terlalu membantu. Mungkin ada ornamen yang bisa dihilangkan, satu warna yang nggak terlalu diperlukan, atau kalimat yang bisa dipersingkat.
Setelah beberapa bagian dikurangi, desain biasanya mulai terasa lebih lega. Informasi utama juga lebih mudah terlihat. Dari sini kita bisa melihat bahwa desain yang nyaman dibaca bukan soal seberapa banyak elemen yang berhasil dimasukkan ke dalam satu halaman. Yang lebih penting adalah apakah orang yang melihatnya bisa memahami pesan tanpa merasa kewalahan.
Desain yang baik nggak harus kosong dan nggak harus ramai. Ada desain yang sederhana, ada juga yang penuh warna dan elemen. Selama susunannya jelas dan setiap bagian punya alasan untuk berada di sana, orang tetap bisa menikmati dan memahami isinya. Jadi kalau desainmu terasa terlalu ramai, mungkin nggak perlu langsung menambahkan sesuatu lagi. Coba kurangi satu bagian, lihat hasilnya, lalu tanyakan lagi apakah informasi utamanya sekarang lebih mudah ditemukan.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.