Pernah nggak sih download aplikasi baru, terus baru dibuka langsung bingung?
“Ini pencet yang mana?”
Kadang masalahnya bukan aplikasinya jelek. Kita cuma nggak ngerti harus mulai dari mana. Ada terlalu banyak menu, tulisan kecil di mana-mana, ikon yang nggak jelas, sampai akhirnya aplikasi ditutup lagi. Besoknya mungkin sudah lupa pernah download.
Coba bandingkan dengan aplikasi yang hampir setiap hari kita pakai. Kita biasanya nggak perlu mikir lama. Mau cari sesuatu tinggal pencet ikon pencarian. Mau balik tinggal tekan tombol kembali. Mau buka menu tertentu juga sudah tahu harus ke mana. Saking biasanya, kita bahkan sering melakukannya tanpa benar-benar memperhatikan tampilannya.
Dari situ kelihatan satu hal. Aplikasi sekarang memang semakin suka dibuat sederhana.
Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa harus sesederhana itu? Kita sebenarnya nggak mau ribet
Waktu buka aplikasi, kebanyakan orang punya tujuan yang jelas. Bukan buat melihat betapa keren desain aplikasinya. Kalau mau pesan makanan, ya tinggal pesan makanan. Kalau mau transfer uang, ya tinggal transfer. Kalau mau edit foto, ya edit foto.
Nggak ada yang buka aplikasi sambil berpikir, “Wah, hari ini saya ingin mempelajari seluruh fitur yang tersedia.”
Makanya tampilan aplikasi dibuat supaya kita bisa langsung jalan. Tombol yang penting dibuat lebih mudah ditemukan, menu yang jarang dipakai disimpan di tempat lain, dan informasi yang nggak terlalu penting nggak perlu memenuhi layar.
Kelihatannya sepele, padahal menentukan apa yang harus ditampilkan dan apa yang harus disembunyikan bisa jadi pekerjaan yang cukup panjang.
Terus, kenapa fiturnya tetap banyak? Ini bagian yang menarik.
Aplikasi yang tampilannya sederhana belum tentu punya sedikit fitur. Justru bisa sebaliknya. Coba lihat aplikasi yang sering kamu pakai. Dari halaman awal mungkin cuma kelihatan beberapa menu. Tapi coba masuk lebih dalam. Ada pengaturan akun, riwayat, pembayaran, notifikasi, keamanan, bantuan, sampai fitur-fitur lain yang mungkin jarang kita buka.
Semuanya tetap ada.
Bedanya, pengguna nggak dipaksa melihat semuanya dalam satu waktu.
Bayangkan kalau semua fitur itu ditaruh di halaman pertama. Belum sempat melakukan apa-apa, kita sudah disambut puluhan tombol. Bukannya membantu, malah bikin kepala penuh. Jadi, kesederhanaan di sini bukan berarti “fiturnya sedikit”. Lebih ke bagaimana fitur yang banyak itu disusun supaya nggak terasa banyak.
Layar HP juga nggak sebesar monitor
Ada alasan yang cukup sederhana lagi. Kita kebanyakan membuka aplikasi dari HP.
Ukuran layarnya terbatas. Kalau semua informasi dipaksakan masuk, hasilnya bisa berantakan. Tulisan mengecil, tombol berdempetan, gambar jadi kurang punya ruang.
Akhirnya desainer harus memilih.
Mana yang harus muncul dulu?, Mana yang bisa ditaruh di halaman berikutnya?, Mana yang sebenarnya nggak perlu ditampilkan?
Pertanyaan seperti ini justru sering menentukan apakah sebuah aplikasi terasa enak dipakai atau tidak. Makanya ruang kosong juga sering ditemukan di aplikasi sekarang. Bukan karena desainer kehabisan ide. Ruang kosong membantu mata kita membedakan satu bagian dengan bagian lainnya.
Yang sederhana belum tentu gampang dibuat
Ini mungkin bagian yang paling sering nggak kelihatan. Kita melihat aplikasi yang tampilannya cuma punya beberapa tombol, lalu mungkin berpikir, “Ah, bikin kayak gini mah gampang.”
Belum tentu.
Justru saat elemen yang dipakai sedikit, setiap elemen jadi lebih kelihatan. Salah ukuran sedikit bisa terasa. Jarak terlalu dekat bisa bikin sesak. Ikon yang kurang jelas bisa membuat orang salah pencet. Belum lagi urusan alurnya, misalnya kita mau melakukan satu hal di aplikasi. Harus pencet berapa kali? Informasinya muncul kapan? Kalau salah pencet, bisa kembali dengan mudah atau harus mengulang dari awal?
Hal-hal seperti ini nggak selalu kelihatan dari screenshot aplikasi.
Tapi kita bisa merasakannya ketika sedang menggunakannya, terlalu sederhana juga nggak bagus
Meski begitu, bukan berarti semakin sedikit semakin bagus. Kalau semuanya disembunyikan demi tampilan yang bersih, pengguna malah bisa kesulitan mencari fitur. Ikon yang terlalu “minimalis” juga kadang bikin kita bertanya-tanya itu sebenarnya tombol apa. Jadi masalahnya bukan membuat aplikasi sesedikit mungkin.
Yang dicari adalah titik pasnya.
Pengguna tetap bisa menemukan apa yang mereka butuhkan tanpa harus disuguhi semua hal sekaligus.
Itulah kenapa aplikasi yang bagus sering terasa biasa saja ketika kita melihatnya. Kita nggak sibuk memikirkan desainnya. Kita tinggal pakai. Mungkin justru itu alasan kenapa aplikasi sekarang dibuat sesimpel mungkin.
Bukan karena orang sudah nggak suka desain yang ramai. Kita cuma sudah terbiasa dengan sesuatu yang cepat dimengerti. Dan kalau sebuah aplikasi bisa membuat kita langsung tahu harus ngapain tanpa perlu bertanya, berarti desainnya sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Menariknya, semakin sederhana sesuatu terlihat, kadang semakin banyak keputusan yang ada di belakangnya.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.