article

Dari Poster ke Video: Bagaimana Desain Bisa ‘Hidup’?

Dari Poster ke Video: Bagaimana Desain Bisa ‘Hidup’?

Pernah nggak kamu lihat sebuah poster di Instagram, lalu beberapa hari kemudian menemukan versi videonya? Informasinya sebenarnya sama. Warna, tulisan, bahkan gambarnya juga masih mirip. Bedanya, yang satu diam, sedangkan yang satunya bisa bergerak. Teksnya muncul satu per satu, gambar bergeser, logo masuk dari sisi layar, atau ada elemen kecil yang bergerak mengikuti alur video. Hal sederhana seperti ini sebenarnya sudah masuk ke dunia motion graphic.

Kalau dilihat sekilas, motion graphic memang seperti membuat desain bergerak. Padahal prosesnya tidak sesederhana memasukkan gambar ke software animasi lalu membuat semuanya bergerak. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan supaya desain yang awalnya berupa poster bisa berubah menjadi video tanpa kehilangan identitasnya.

Desain yang tadinya diam jadi punya waktu

ads

Poster hanya punya satu tampilan. Ketika seseorang melihatnya, semua informasi sudah berada di depan mata dalam waktu yang bersamaan. Mata bebas memilih mau membaca judul dulu, melihat gambar, atau langsung mencari informasi lainnya.

Video sedikit berbeda. Ada waktu yang berjalan. Informasi bisa muncul secara bertahap dan penonton diajak mengikuti urutannya. Misalnya sebuah poster promosi punya judul besar, gambar produk, harga, dan informasi tambahan. Saat dibuat menjadi motion graphic, judul bisa muncul lebih dulu. Setelah itu produk masuk ke layar, lalu harga muncul dan ditutup dengan ajakan untuk melakukan sesuatu.

Informasinya tidak berubah. Cara menyampaikannya yang berubah.

Di sinilah desain mulai terasa seperti “hidup”. Bukan karena semua elemennya bergerak, tetapi karena desain tersebut punya alur.

Poster cuma punya satu kesempatan untuk dilihat

Saat melihat poster di media sosial, kita bisa saja melewatinya dalam hitungan detik. Apalagi kalau timeline sedang penuh dengan berbagai konten. Desain harus bisa menarik perhatian tanpa membuat orang merasa sedang dipaksa untuk melihat.

Motion graphic punya sedikit keuntungan karena gerakan bisa membuat mata lebih mudah menangkap sesuatu. Sebuah teks yang muncul dari bawah tentu lebih mudah diperhatikan dibandingkan teks yang hanya diam di tempat. Tapi bukan berarti semakin banyak gerakan akan semakin bagus.

Kalau semua elemen bergerak bersamaan, hasilnya malah bisa berantakan. Mata jadi bingung harus melihat bagian mana terlebih dahulu. Karena itu, desainer biasanya menentukan elemen mana yang perlu bergerak dan mana yang cukup diam.

Sebenarnya motion graphic berawal dari desain biasa

Banyak motion graphic yang kita lihat sehari-hari sebenarnya berawal dari desain yang sangat sederhana. Bisa dari poster, ilustrasi, logo, ikon, foto, atau bahkan hanya kumpulan teks.

Misalnya seorang desainer sudah membuat poster acara dengan judul besar di bagian tengah. Poster tersebut kemudian dikembangkan menjadi video. Judulnya bisa dibuat muncul perlahan, ilustrasinya diberi sedikit gerakan, lalu informasi acara muncul setelahnya.

Jadi, motion graphic tidak selalu dimulai dari layar kosong. Sering kali desain yang sudah ada justru menjadi bahan awalnya.

Makanya, kemampuan membuat desain tetap penting. Kalau desain dasarnya sudah tidak jelas, menambahkan animasi tidak otomatis membuatnya menjadi bagus.

Tapi jangan sampai semuanya ikut bergerak

Ini salah satu hal yang sering terjadi ketika baru belajar motion graphic. Ada teks, digerakkan. Ada gambar, digerakkan. Ada ikon, ikut digerakkan. Background juga diberi efek. Akhirnya hampir semua bagian bergerak dan video terasa terlalu ramai.

Padahal desain yang bagus tidak harus menunjukkan semua kemampuan animasi yang dimiliki.

Kadang hanya satu atau dua elemen yang bergerak sudah cukup. Contohnya teks utama muncul dengan gerakan sederhana, sementara elemen lainnya tetap diam. Justru perbedaan antara elemen yang bergerak dan yang tidak bergerak bisa membuat desain lebih enak dilihat.

Gerakan juga sebaiknya punya alasan. Kalau sebuah objek bergerak hanya karena “biar keren”, hasilnya belum tentu membantu desain.

Gerakan ternyata bisa mengatur perhatian

Coba bayangkan ada sebuah video dengan banyak informasi. Kalau semuanya muncul bersamaan, kita mungkin tidak tahu harus membaca yang mana dulu. Tapi kalau judul muncul lebih dulu, kemudian gambar, lalu informasi penting, mata kita secara otomatis mengikuti urutan tersebut.

Motion graphic bisa membantu mengatur perhatian penonton seperti itu.

Gerakan menjadi semacam petunjuk. Penonton tidak perlu diberi tahu secara langsung, “lihat bagian ini dulu”, karena pergerakan elemen sudah memberikan arah.

Hal ini juga sering dipakai dalam video promosi, konten media sosial, infografis, sampai presentasi. Informasi yang cukup banyak bisa dibuat lebih mudah diikuti karena disampaikan sedikit demi sedikit.

Yang bikin susah justru soal waktu

Membuat objek bergerak mungkin bisa dipelajari. Tapi menentukan kapan objek itu harus bergerak dan berhenti adalah bagian yang cukup tricky.

Gerakan yang terlalu cepat bisa membuat informasi sulit dibaca. Kalau terlalu lambat, penonton bisa kehilangan perhatian. Bahkan gerakan yang sebenarnya bagus bisa terasa aneh hanya karena waktunya kurang tepat.

Misalnya ada teks yang muncul dengan animasi selama tiga detik, padahal kalimatnya cuma terdiri dari beberapa kata. Penonton mungkin sudah selesai membaca sebelum animasinya selesai. Sebaliknya, kalau teks menghilang terlalu cepat, orang belum tentu sempat memahami isinya.

Karena itu, timing punya peran besar dalam motion graphic. Bukan cuma soal membuat sesuatu bergerak, tetapi membuatnya bergerak pada waktu yang tepat.

Desain yang sama bisa punya suasana berbeda

Menariknya, satu desain yang sama bisa terasa berbeda hanya karena cara geraknya diubah.

Gerakan yang pelan bisa memberikan kesan tenang. Gerakan yang cepat bisa terasa lebih energik. Pergerakan yang lembut bisa membuat desain terlihat elegan, sementara gerakan yang lebih tegas bisa memberikan kesan berani.

Itulah kenapa motion graphic bukan cuma masalah teknis. Ada unsur rasa juga di dalamnya. Desainer harus tahu suasana seperti apa yang ingin diberikan kepada penonton.

Kalau desainnya untuk acara yang santai, gerakannya tentu bisa berbeda dengan desain untuk promosi produk yang ingin terlihat bersemangat.

Kenapa logo juga mulai banyak bergerak?

Sekarang kita juga sering menemukan logo yang tidak hanya tampil sebagai gambar diam. Di video, logo bisa muncul dengan animasi tertentu sebelum akhirnya kembali ke bentuk aslinya.

Logo yang bergerak bisa memberikan pengalaman yang berbeda, terutama ketika digunakan dalam video atau konten digital. Identitas visual sebuah brand tidak hanya dikenali dari bentuk dan warnanya, tetapi juga dari bagaimana identitas tersebut muncul di layar.

Namun lagi-lagi, animasinya tidak harus rumit. Logo bisa saja hanya muncul dengan gerakan sederhana. Yang penting tetap sesuai dengan karakter brand dan tidak membuat logonya sulit dikenali.

Desain cuma diberi cara baru untuk bercerita

Mengubah poster menjadi video bukan berarti mengambil desain lama lalu membuat semua elemennya bergerak. Ada proses untuk menentukan mana yang perlu muncul lebih dulu, mana yang perlu bergerak, berapa lama gerakannya berlangsung, dan kapan semuanya harus berhenti.

Motion graphic membuat desain punya sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki poster, yaitu waktu. Dengan adanya waktu, desain bisa punya urutan dan ritme. Penonton tidak hanya melihat sebuah gambar, tetapi mengikuti bagaimana informasi tersebut muncul.

Mungkin itu alasan kenapa desain yang sederhana pun bisa terasa menarik ketika dibuat menjadi motion graphic. Bukan karena efeknya banyak, tetapi karena setiap gerakan punya tempatnya sendiri.

Jadi, kalau suatu saat kamu melihat poster yang berubah menjadi video dan terasa lebih menarik, sebenarnya bukan desainnya yang tiba-tiba menjadi hidup. Desain tersebut hanya diberi kesempatan untuk bercerita dengan cara yang berbeda.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads