Pernah masuk toko Cuma karena ingin lihat – lihat, lalu keluar sambil membawa barang yang sebelumnya sama sekali tidak ada niat atau membeli barang tersebut? Rasanya pasti pernah. Awalnya hanya lewat melihat sesuatu yang menarik, kemudian berhenti, mulai melihat – lihat, memegang barangnya, membaca sedikit keterangannya atau harganya, dan entah bagaimana akhirnya ikut dibayar di kasir.
Kadang kita merasa Keputusan membeli muncul setelah emikirkan barang tersebut. Ada kemungkinan rasa tertariknya sudah muncul jauh sebelumnya. Bahkan sejak pertama kali mata melihat produk tersebut.
Coba perhatikan saat berada di supermarket. Di depan kita ada banyak sekali produk yang bentuk dan kegunaannya hamper sama, tapi biasanya ada beberapa kemasan yang langsung terlihat. Bisa karena warnanya berbeda, gambarnya lebih menarik, tulisannya lebih besar, atau susunan desainnya terasa lebih enak dilihat. Tanpa disadari mat akita berhenti disana lebih lama.
Dari sekian banyak barang yang ada, kenapa justru itu yang kita lihat?
Mata Tidak Melihat Semuanya dengan Cara yang Sama
Saat melihat sebuah rak penuh barang, sebenarnya kita tidak memperhatikan semua produk satu per satu. Mata akan berpindah-pindah dan berhenti pada bagian yang dianggap menarik perhatian.
Misalnya ada dua bungkus makanan dengan ukuran yang sama. Salah satunya menggunakan desain yang sederhana dengan tulisan kecil. Sementara yang lain punya gambar makanan yang terlihat jelas dengan nama produk yang mudah dibaca. Kemungkinan kita akan melihat kemasan kedua lebih dulu.
Bukan berarti kita langsung membelinya. Setidaknya kita sudah memberikan perhatian kepada produk tersebut. Setelah diperhatikan barulah muncul rasa penasaran.
“Ini rasanya apa?”
“Berapa harganya?”
“Bagus tidak, ya?”
Pertanyaan seperti itu biasanya muncul setelah mata menemukan sesuatu yang dianggap menarik.
Warna Bisa Jadi Pemancing Pertama
Salah satu hal yang paling gampang menarik perhatian adalah warna. Kita tidak perlu membaca tulisan untuk menyadari adanya warna tertentu di tengah banyak benda.
Itulah alasan kenapa pemilihan warna dalam kemasan atau iklan tidak bisa dilakukan asal-asalan. Warna tertentu bisa membuat sebuah produk lebih cepat terlihat, terutama ketika berada di antara banyak produk lain.
Bukan berarti semua desain harus menggunakan warna yang ramai. Kalau semua bagian dibuat mencolok, mata malah bisa bingung. Tidak ada bagian yang terasa paling penting karena semuanya meminta perhatian secara bersamaan.
Desain yang bagus justru tahu kapan harus menonjolkan sesuatu dan kapan harus membiarkan bagian lain terlihat lebih tenang.
Tulisan Besar Bukan Sekadar Biar Kelihatan
Selain warna, ukuran tulisan juga bisa menentukan bagian mana yang pertama kali kita lihat. Saat melihat poster, misalnya, kita biasanya membaca tulisan yang ukurannya paling besar terlebih dahulu. Setelah itu baru melihat keterangan lain yang ukurannya lebih kecil.
Hal yang sama bisa terjadi pada produk. Nama barang, harga, promo, atau informasi tertentu biasanya dibuat lebih menonjol karena memang ingin diperhatikan lebih dulu.
Coba bayangkan sebuah poster yang seluruh tulisannya memiliki ukuran sama. Kita mungkin akan bingung harus mulai membaca dari mana. Mata tidak mendapatkan petunjuk yang jelas.
Dalam desain ada yang namanya urutan perhatian. Bukan berarti mata kita benar-benar diperintah, tetapi susunan elemen bisa membuat kita cenderung melihat bagian tertentu lebih dulu.
Kadang Kita Membeli Karena Sudah Terlanjur Tertarik
Bagian ini yang sering tidak terasa.
Misalnya kita melihat sebuah tas. Dari jauh sudah suka dengan modelnya. Setelah mendekat, kita melihat warnanya cocok. Kemudian melihat harganya dan ternyata masih masuk dalam anggaran. Akhirnya muncul keputusan untuk membeli.
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin yang membuat kita berhenti pertama kali bukan karena sedang membutuhkan tas baru. Kita berhenti karena tampilannya menarik.
Setelah rasa tertarik muncul, barulah kita mulai mencari alasan lain yang membuat pembelian terasa masuk akal.
Hal seperti ini tidak selalu buruk. Kita memang wajar tertarik pada sesuatu yang terlihat bagus. Hanya saja, ada baiknya kita sadar bahwa rasa tertarik dan kebutuhan adalah dua hal yang berbeda.
Ini yang Membuat Desain Punya Peran Besar
Buat seorang desainer, bagian seperti ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Desain bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat keren. Ada pertanyaan yang perlu dipikirkan juga: bagian mana yang akan dilihat orang lebih dulu?
Dalam sebuah kemasan, misalnya, desainer perlu menentukan apakah nama produk yang harus menjadi perhatian utama, gambar produknya, atau informasi lainnya. Penempatan setiap elemen bisa memengaruhi cara orang melihatnya.
Hal yang sama berlaku pada website, aplikasi, poster, sampai media sosial. Ketika membuka sebuah halaman, kita tidak langsung membaca semuanya. Biasanya mata mencari sesuatu yang terlihat paling menonjol.
Kalau desainnya terlalu penuh, kita bisa cepat lelah melihatnya. Kalau terlalu kosong tanpa arah, kita juga bisa bingung mencari informasi yang dibutuhkan.
Jadi, desain yang baik bukan cuma soal bagus atau tidak bagus. Ada cara tertentu supaya orang bisa memahami sebuah tampilan tanpa harus berpikir terlalu keras.
Sebelum Membeli, Coba Lihat Lagi
Setelah mengetahui hal ini, mungkin kita bisa sedikit lebih sadar saat memilih barang. Bukan berarti setiap kali melihat produk menarik kita harus curiga. Tidak perlu juga sampai menghindari desain yang bagus.
Cukup berhenti sebentar sebelum membeli dan tanyakan satu hal sederhana: “Aku memang butuh barang ini, atau aku cuma suka melihatnya?”
Kalau memang membutuhkan dan barang tersebut sesuai, silakan dipertimbangkan. Tetapi kalau ternyata awalnya hanya tertarik karena kemasan, warna, atau tampilannya, mungkin kita bisa memberi diri sendiri waktu sebelum mengambil keputusan.
Karena ternyata, proses memilih tidak selalu dimulai ketika kita memegang barang. Bisa jadi semuanya sudah dimulai beberapa detik sebelumnya, saat mata kita pertama kali berhenti pada sesuatu yang terlihat menarik.
Tanpa kita sadari, mata memang sering menjadi pintu pertama sebelum akhirnya otak dan dompet ikut mengambil keputusan.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.