MERAYAKAN hari kopi internasional 1 Oktober, saya ingin bercerita tentang kegilaan saya mengopi setiap hari. Kisah ini saya dimulai dari undangan launching kedai kopi milik kawan saya 29 September 2017 yang lalu. Â
BUAT saya, tidak begitu menarik ketika kawan saya Ardi mengundang liputan launching kedai kopi miliknya. Saya sudah bisa menebak, pasti acaranya biasa saja, banyak basa-basi. Khas acara seremonial dan launching pada umumnya. Tapi saya harus datang di acara itu dengan dua pertimbangan.Â
Pertama, Ardi sahabat saya. Sebagai orang media, saya yakin, ia butuh publikasi untuk mengenalkan kedai kopinya ke publik. Maka saya harus bantu dia. Liput acara itu. Kedua, karena saya pecandu kopi. Jangankan acara launcing kedai kopi yang jelas-jelas pasti menyuguhkan aneka kopi terbaik. Lha wong kalau ada undangan acara apapun jika diadakannya di kedai kopi, pasti saya datang. Terkadang—ini jujur saja, saya tidak peduli apa acaranya, yang penting bisa numpang ngopi, hehe…Â
Si Ardi, sengaja memilih launching kedai kopinya di tanggal itu karena ia salah satu orang yang punya ‘paham’ bahwa hari kopi internasional itu jatuh tanggal 29 September. Makanya, launching kedainya dibarengkan peringatan hari kopi itu.Â
Memang di berbagai negara—setidaknya ada 17 negara, warganya merayakan hari kopi tanggal 29 September. Ini bisa dilihat di Amerika, Jepang, Australia dan sejumlah negara lainnya. Di sisi lain, International Coffee Organization telah memutuskan bahwa hari kopi internasional itu jatuh tanggal 1 Oktober.Â
Tapi dalam tulisan ini, saya tidak mau berpolemik soal hari kopi. Saya ingin ikut merayakannya, meski lewat tulisan. Ingin bercerita soal kesukaan saya ngopi berkali-kali setiap hari.Â
Sebagai penikmat kopi, sulit rasanya menjalani hari tanpa kopi. Saya sudah pernah coba, enam jam tanpa kopi. Tapi gagal. Pagi jam 6 saya minum kopi. Setelah itu tidak. Eh, jam 12 siang terpaksa “mbatalâ€. Ngopi lagi. Langsung byaaarrr…mata terang. Konsentrasi datang lagi.Â
Saya memang pecandu kopi. Nyaris dua jam sekali harus menyeruput kopi. Maka hidup saya harus diawali dari kopi. Begitu melek mata, langsung kopi. Pengganti sarapan pagi. Jam 10 pagi, kopi lagi dan usai makan siang, kopi. Selanjutnya, cangkir demi cangkir kopi terus tersaji. Jam tiga sore, jam 6 sore, bahkan malam masih nambah minimal dua kali. Bisa 7-10 cangkir tiap hari.Â
Jika bagi banyak orang ngopi menjadi gaya hidup. Buat saya, kopi itu kebutuhan. Sekali lagi, sulit rasanya menjalani hari tanpa kopi. Tapi saya tidak aneh-aneh. Sukanya satu; kopi hitam. Kalau kepepet, kopi instan jadilah. Lainnya tidak suka. Apa itu coffe shake, cappuccino,vanilla late, moccachino dan masih banyak lagi varian rasa lainnya. Saya mengenal nama, tapi tak pernah mau mencoba. Maaf, kesukaan saya ngopi ya kopi hitam. Klasik. Tanpa embel-embel susu, coklat atau lainnya.Â
Kini, kopi memang sudah menjadi gaya hidup. Kafe kopi terus bermunculan. Pengunjungnya ramai. Tapi, warung kecil yang menyediakan kopi instan seduh juga tak kalah larisnya. Penjual kopi yang pakai sepeda seperti di berbagai jalanan Jakarta pun tetap kebanjiran pembeli.Â
Kopi makin dicintai. Varian rasa kopi bermunculan. Bisa menjadi alat merekatkan silaturahmi. Menjalin persahabatan. Dan banyak ide-ide besar lahir dari secangkir kopi. Maka tak heran jika kopi pun diulik dari berbagai sisi. Dampak positif dan negatif minum kopi diulas. Bahkan, sampai sisi kepribadian peminum kopi juga diteliti. Katanya, orang seperti saya yang suka kopi hitam itu—menurut penelitian—punya karakter misterius, suka kerja keras dan fokus.Â
Sampai sekarang saya memang masih setia dengan kopi hitam. Tapi masalahnya, akhir-akhir ini, saya lagi gandrung kopi hitam yang pahit. Kopi murni yang sama sekali tidak dicampur gula. Kalaupun pakai, setengah sendok saja.Â
Nah, apa kata penelitian soal pribadi orang yang suka minum kopi pahit? Katanya cenderung punya sifat psikopat. Waduhhh….Â
Padahal, saya mulai suka kopi hitam pahit ini karena tiga hal. Pertama, ingin mencari sensasi yang beda di balik pahitnya kopi. Kedua, ngirit, hehe…. Harga gula kan naik-turun. Nah, dengan ngopi tanpa gula kan bisa berhemat. Ketiga, kata penelitian juga, kopi pahit itu katanya banyak manfaat buat tubuh. Bisa meningkatkan daya ingat dan metabolisme juga berguna bagi ketahanan fisik agar tetap sehat.Â
Buat para penggila kopiÂ
Selamat memperingati hari kopi internasional
Semangat ngopi!
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.