EMPAT bulan yang lalu--tepatnya 18 Mei 2017, Kebun Raya Bogor genap berusia dua abad. Tapi meski keberadannya di tengah kota Bogor sudah mencapai 200 tahun, saya baru sekali mengunjunginya, saat libur tanggal merah peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriyah, Kamis 21 September 2017.Â
Memang kebangetan. Padahal, saya sering memutari jalan kebun raya ini kalau pas sedang tugas di Kota Bogor. Sesekali memang terbersit untuk masuk ke dalamnya. Tapi, kemacetan yang nyaris setiap hari terjadi di ruas jalan sekitar Kebun Raya Bogor membuat saya seringkali mengurungkan niat berkunjung.Â
Sampai sekarang, parkir masih menjadi masalah utama di sini. Seperti saat berkunjung bersama keluarga. Agak kebingungan juga saya. Dari jalan saya melihat ada mobil-mobil parkir di dalam kebun raya. Tapi begitu tanya salah satu petugas, dimana pintu masuk parkir di dalam, dia menyarankan agar parkir di luar saja. Di dalam sudah penuh, katanya.Â
Usut punya usut, ternyata Kebun Raya Bogor sebenarnya tidak punya lahan parkir. Baru tahu saya. Memang ada kebijakan sejumlah kendaraan dibolehkan masuk. Tapi selebihnya, parkir di parkantoran maupun areal kosong di sekitar kebun raya. Nah, ini juga yang menjadi salah satu sumber kemacetan. Orang lalu lalang menyeberang jalan ke kebun raya setelah dapat tempat parkir.Â
Belum lagi bus-bus yang membawa rombongan. Mereka kerap berhenti di pinggir jalan untuk menurunkan rombongan. Dampaknya, mobil di belakangnya pun melambatkan laju jalan dan akhirnya berantai hingga macet tak terhindarkan.
Saya pun, setelah berputar-putar, akhirnya dapat juga tempat parkir. Tarif parkir dadakan yang dikelola warga ini lumayan juga. Untuk orang yang mengarahkan parkir saya dikenai Rp5 ribu. Sedangkan kepada security lokasi parkir itu, dibandrol Rp20 ribu. Totalnya, sekali parkir Rp25 ribu.Â
Tapi perjuangan “berat†mendapatkan tempat parkir di Kebun Raya Bogor akhirnya terbayar lunas saat memasuki kawasan yang didirikan Gubernur Jenderal Belanda Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen tanggal 18 Mei 1817 ini. Â
Suasana teduh, adem, segar langsung terasa. Tanaman-tanaman berukuran raksasa menyambut. Mulai dari pakis ukuran super jumbo, teratai raksasa yang berasal dari sungai Amazon, hingga bambu yang ukurannya gede banget! Itu belum termasuk aneka pohon tanaman keras lainnya yang diameternya pun besar-besar.Â
Salah satu spot menarik untuk foto yakni di area koleksi pandan. Tumbuhan berkayu ini batangnya sudah besar-besar dan menancap kokoh di tanah. Sangat eksotis! Cocok sekali menjadi latar belakang foto kita.Â
Sayangnya, saya tidak sempat berkeliling seluruh kebun raya. Semula, saya pengen naik mobil wisata, pengen nyoba mobil golf. Tarifnya Rp25 ribu per orang. Mobil ini akan membawa kita keliling seluruh area Kebun Raya Bogor seluas 87 hektare. Tapi mungkin karena agak kesorean, sudah close. “Maaf, sudah tutup. Ini baterai mobilnya juga sudah mau habis,†kata salah satu sopir mobil golf. Selain memakai mobil, keliling kebun raya juga bisa sewa sepeda. Tarifnya Rp15 ribu per jam.Â
Tak dapat sewaan kendaraan, saya terus berkeliling. Menikmati aneka jenis tanaman kebun raya. Sore itu, mungkin baru sekitar puluhan yang bisa saya lihat dari 12 ribuan jenis koleksi tanaman di sana. Dalam hati saya berjanji; ingin kembali ke sana lagi.
Kini, setiap akhir pekan, setidaknya ada 10 ribu pengunjung kebun raya. Selain sebagai tempat wisata, Kebun Raya Bogor juga menjadi pusat pendidikan lingkungan, penelitian dan konservasi.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.