article

TENTANG LELAKI YANG BERGEMURUH DI DADAKU

TENTANG LELAKI YANG BERGEMURUH DI DADAKU

SATU : TERBANGUN

 

bangun dari tidur pendek

ads

sama gedung-gedung baru

kental yang ditarik

dari dasar tenggorokan

jauh dilempar ke muka jalan

ludahi tanya hari ini

siang di emper toko mati

 

beberapa pengendara menoleh

lega terhindar sembur

meski tak ada naga api

 

rasa belum puas

dia tinju lantai berulang

lewat tangan telanjang

mulutnya komat-kamit

seolah hendak belah

udara serta bumi

 

tapi hari takkan rendah, sikutnya

juga jarum jam

arus di hadapan

jalan-jalan dilebarkan

tinggal yang kini berbenah

gelang karet

buat tangan dan rambut

 

nanti jika dia bangkit

tampak kelewat longgar

pakaian melekat

dari pemberian

yang tak dicoba ukuran

lalu juntai langkah

seringan layang-layang

hilang benang

seolah tentang angkuh kota

yang terus membangun

 

tapi, sekali lagi, buat kesekian kali

kental yang bersingungan

hingga goncang dada

dia tarik buat muka jalan

sebelum tarik celana

supaya lekat di pinggang

lewat seutas rumput jepang

 

DUA : LELAKI MATI

 

karena dunia enggan mengingatkan

dia tinju rahang dahi dan pelipis

dengan tangan sendiri

muka kian lebam

padam membiru

mulutnya bicara

cepat-lirih

sebelum ayun tinju lagi

 

siapa sudi gapai

lengan itu rindu kawan jabat

terlalu lama telapak kering

arungi kota yang tiada mengenal

lalu pulang kembali

di sebuah kolong jembatan

suatu sudut kota

 

di sana beralas arus hitam

lambungnya mengerut

disesap asam perut

kulitnya kering

seolah potongan besi

padat karat

hingga sum-sum

 

siapa sudi doa

jika jasadnya nanti dikubur tanah

siapa sudi kenang

jika sosoknya tak lagi ada

dunia kian gempita

baringkan tubuhnya

di sudut sunyi kota

 

jauh sesudah meninggalnya

masih kulihat ayunan tinju

di jalan-jalan kota

atas muka yang makin pucat

dan beku

 

TIGA : LELAKI PANTURA

 

kenapa kita masih bercakap

perahu-perahu berlapis resin

temu arah di balik kemudi

tinggal saja!

karena sebelah sana

di kilometer panjang pantura

seorang lelaki campak pakaian

entah di ruas mana

 

langkahnya cepat dan tegas

tiap jengkal jangat kulit

tentang matahari

seolah tiada asing

arah dituju:

keangkuhanku

 

siapa singkirkan jarak antara kami

angin menikung seka keringat

perut yang lapar

bukanlah kehinaan

karena ais sisa makanan

simpan cukup tenaga

buat topang hari berikut

 

tinggal saja!

perahu-perahu berlapis resin

karena kaki telanjang

di kilometer panjang pantura

belum lagi

singkap kafan

buat kekekalan

tangan-tangannya

sibuk rias muka

dengan cipratan sampah

basah

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads