Sajak Satu
bangun dari tidur pendek sama gedung-gedung baru kental yang ditarik dari dasar tenggorokan jauh dilempar ke muka jalan ludahi tqnya hari itu siang di emper toko mati beberapa pengendara melintas lega terhindar sembur meski tidak ada naga api rasa belum puas dia tinju lantai berulang lewat tangan telanjang mulutnya komat kamit seolah mantrai bumi dan udara tapi hari takkan merendah, sikutnya juga jarum jam arus di hadapan jalan-jalan dilebarkan gedung-gedung dibangunkan tinggal yang kini berbenah gelang karet buat tangan dan rambut nanti jika dia bangkit tampak kelewat longgar pakaian melekat dari pemberian yang tak ditaksir ukuran lalu juntai langkah seringan layang-layang hilang benang seolah tentang angkuh kota yang terus membangun tapi, sekali lagi, untuk kali kesekian kental yang bersinggungan hingga goncang dada dia tarik buat muka jalan sebelum tarik celana supaya lekat di pinggang lewat seutas rumput jepang Sajak Dua karena dunia enggan mengingatkan dia tinju rahang, dahi, dan pelipis dengan tangan sendiri muka kian lebam padam membiru mulutnya bicara cepat-lirih sebelum ayun tinju lagi siapa sudi gapai! lengan itu rindu kawan jabat terlalu lama tapak kering arungi kota yang tiada mengenal lalu pulang kembali di sebuah kolong jembatan satu sudut kota si sana beralas arus hitam lambungnya mengerut disesap asam perut kulitnya kering seolah potongan besi padat karat hingga sum-sum siapa sudi doa jika jasadnya nanti diurug tanah siapa sudi kenang jika sosoknya tak lagi ada dunia gempita baringkan tubuhnya di sudut sunyi kota jauh sesudah meninggalnya masih kulihat ayunan tinju di jalan-jalan kota atas muka yang kian pucat dan beku Sajak Tiga kenapa kita masih bercakap perahu-perahu berlapis resin temu arah di balik kemudi tinggal saja! karenq di sebelah sana di kilometer panjang pantura seorang lelaki campak pakaian entah di ruas mana langkahnya cepat dan tegas tiap jengkal jangat kulit tentang matahari seolah tiada asing arah dituju: keangkuhanku! siapa singkirkan jarak antara kami angin menikung seka keringat perut yang lapar bukanlah kehinaan karena ais sisa makanan simpan tenaga buat topang hari berikut sudah, tinggal saja! perahu-perahu berlapis resin karena kaki telanjang di kilometer panjang pantura belum lagi singkap kafan buat kekekalan tangan-tangannya sibuk rias muka dengan percik sampah basah
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.