Selayang pandang melihat beragamnya manusia-manusia berkepribadian. Dari miliaran manusia yang memiliki persepsi tentang apa saja yang ada dihadapanya itupun bisa berbeda. Saya contohkan definisi tentang Tuhan bagi masyarakat awam yang beragama, jawabanya pun pasti disangkutkan dengan “paham†yang selama ini mereka anut. Kalau Islam (Alloh), Kristen (Allah), dll. Bila mereka yang kejawen akan menyebut “Sang Hyang Widiâ€, kalau tak percaya tentang Tuhan jelas tidak punya sebutan.
Â
Manusia-manusia beragam itu dapat kita temukan di Negara Indonesia. Petikan lagu yang sering diajarkan kepada anak sekolah dasar yang berjudul “Dari Sabang sampai Meraukeâ€
“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulauâ€
“Sambung menyambug menjadi satu itulah Indonesiaâ€
….
Â
Luasnya mencapai 1,9 juta baik berupa daratan maupun perairan[1]. Luas perairanya ¾ dari total luasnya. Panjang garis pantai terpanjang sehingga dijuluki Negara archipelago. Dihuni lebih dari 250 juta penduduk dengan berbagai suku, ras, agama, dan golongan menjadi negeri ini kaya akan perbedaan. Total penduduk terbesar ke empat setelah Amerika Serikat menciptakan ratusan suku yang mendiami 17 ribu lebih pulau-pulau besar maupun kecil.
Â
Lekat sekali dengan perbedaan. Sampai-sampai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mencakar pita bertuliskan “Bhineka Tunggal Ika†yang berarti berbeda-beda tetap satu tujuan. Istilah tersebut diambil dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. NKRI menjadi sebuah pemandangan  tersendiri bagi salah peneliti dari Amerika Serikat, Dustin Palmer “Keragaman ini menjadi sebuah sajian yang menarik dalam bidang keilmuan apapunâ€.
Perbedaan ini dapat dijadikan sebuah senjata untuk bersatu melawan penjajah kala itu. Salah satu bukti konkrit ketika Sumpah Pemuda 1928 dengan ikrar untuk bersatu antara Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, dan perhimpunan lainnya.
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Ikrar ini memang sebuah sejarah memulai bangsa yang beragam. Beberapa informasi serta literatur menyebutkan, cita-cita kemerdekaan muncul di forum konggres pemuda II.
Sejarah bercerita, bangsa ini terlahir dari ratusan keragaman. Timbul pertanyaan fundamental yang dilontarkan oleh petugas kebersihan di Bandung melihat kondisi negeri kita hari ini. Masihkah bangsa ini “ramah†dengan perbedaan atau justru “marah†akan perbedaan ?.
Negeri tiba-tiba “marah†terhadap perbedaan yang sudah ada sejak zaman dulu. Kemarahan yang kini mencuat kepermukaan publik disebabkan salah satu factor, yaitu agama. Entah siapa yang memulai ? dan kapan kemaran itu dimulai?. Jelasnya beda itu jadi sebuah ketakutan di negeri yang bhineka ini, terutama dalam berkeyakinan. Negeri yang “memiliki sila ber-Ketuhanan Yang Maha Esa†menjadi ngeri-ngeri sedap untuk memborbardir kemarahan yang begitu akut.
Rakyat sebenarnya sudah di kantongi ayat yang terkandung dalam “kitab suci†berupa UUD 1945.  Pasal  28E ayat (1)[2], 28E ayat (2)[3], dan 29 ayat (2)[4]. “Kitab suci†sudah seramah itu memberikan pegangan terhadap warganya. Teks-teks itu hanya mati jika kita sebagai warga NKRI tidak mau ikut berperan melaksanakanya. Imbasnya, “kemarahan†antar pemeluk agama berkobar dimana. Sorak sorai nama Tuhan mengalahkan “kitab suci†Negara ini yang dikata buatan manusia, sehingga lemah nan gemulai terhadap keadaan modern. Justru kitab suci yang diwahyukan oleh Tuhan “lebih†sempurna.
Kemarahan yang sering muncul di media massa adalah tempat peribadatan. Mulai dari masjid Ahmadiyah, Sanggar Sapto Darmo, Mushola Tolikara, hingga Gereja.  Kenapa itu terjadi? Ibadah itu individu dengan sesuatu yang “lebih†dari dirinya. Bisakah peribadatan itu menjadi sebuah pelopor kedamaian di bumi pertiwi.
Â
Belajar “Ramah†Dalam Perbedaan
Mencoba merenung ketika melihat utara kota Semarang dari ketinggian di malam hari. Â Ribuan lampu menyala, ada yang berwarna kuning, putih, hingga merah sebagai tanda ketingian sebuah tower pemancar sinyal. Â Mereka berbeda-beda dalam warna maupun bentuk, tetapi orang memandangnya hal tersebut adalah sebuah keindahan karena warna-warni alias beragam. Orang-orang sungguh takjub ketika indra penglihatan disuguhi perbedaan yang saling mengisi komposisi warna kuning, merah, dan putih.
Â
Gus Dur salah satu tokoh yang mengkampanyekan “ramah†terhadap perbedaan memberikan contoh dalam buku “Tuhan Tidak Perlu Di Belaâ€.
Sebuah bangunan antaragama (interdenominational buildings) yang didirikan oleh jutawan de Menil. Kapel Rothko yang terdapat di Houston (Texas), AS. Kapel yang tidak memiliki kaitan fisiknya dengan tempat ibadah kepercayaan apapun. Catatan yang cukup mencolok dari kunjungan beliau ke tempat tersebut, perihal “perabotan†sebagai penunjang peribadatan. Orang katolik ketika mengadakan acara misa, altar dibawa sendiri. Orang muslim menghamparkan tikar untuk sembahyang menghadap kea rah kiblat di tenggara. Tempat yang kurang lebih berumur tujuh tahun ini, bukan lah Gereja Nasrani, bukan Sinagog Yahudi. Jadi masjid pun tak lulus di pra syarat, kelenteng Cina ataupun Kuil apa pun.
Kapel ini ditangani oleh Nabilah Drooby musli asal Libanon. Ia terbiasa bekerja di kantor Yayasann Kapel Rothko yang bersebelahan dengan kaplnya sendiri. Pembinanya terdiri dari orang-orang Katolik, Kristen, Muslim dan Yahudi. Kegiatannya berupa srawung  untuk menggali pola interaksi berbagai sudut pandang agama ataupun kepercayaan tentang kehidupan yang damai
Â
Memang keindahan yang di ibaratkan seperti memandang kota Semarang itu terjadi di Negara Adidaya sekelas Amerika. Indonesia pun sudah terdapat beberapa kyai berceramah di dalam gereja tanpa rekayasa. Di Yogyakarta, tepatnya di GPdi “Mas Girli W†yang berada dipinggiran kali Winongo, yakni di bagian sisi barat Jalan Malioboro. Tepanya di Tejokosuma NG II//516 Rt.27/04 Kelurahan Notoprajan, Kecamatann Ngampilan. Dijadikan sebagai tempat pengajian oleh umat muslim “tanpa†memandang tempat akann tetapi lebih ke esensi pengajian. Ustadz memberikan ceramah layaknya khotbah di masjid tanpa ada rekayasa sama sekalipun, Flores beberapa dosen non-muslim memberikan khotbah jum’at kepada umat muslim[5]. Sayang sekali belum ter-ekspos oleh media, karena bukan “orang menggigit anjingâ€.
Â
Keberagaman selain pemersatu juga menjadi kekuaatan untuk mendukung disintegrasi. Tiap hari melihat orang “marah†karena perbedaan. Gus Dur mencatat betapa tidak beruntungnya seorang novelis Naipaul melihat keragaman di negeri ini sungguh “marahâ€. Dalam karya terbarunya “Among the Believersâ€, ia menilai bahwa salah satu agama samawi di NKRI marah terhadap modernisasi. Kritik ini merupakan masukan bahwa sebagai mayoritas jangan menyajikan sebuah jawaban tantangan masa kini yang kurang accountable. Padahal kemodern bukan berarti mengakhiri tradisionalisasi, akan tetapi mengambil sesuatu yang baik untuk disinergikan dengan budaya kita.
Â
Antara karya Naipaul dengan kejadian di Gereja GPdi “Girli Mas W†merupakan sebuah kenyataan social masyarakat yang sedang kita alami. Keramahan yang berusaha kita bangun ditengah-tengah keragaman masyarakat yang masih saja “marah†akan perbedaan. Bergandengan tangan untuk mengharmoniskan keadaan masyarakat.  Menanamkan kembali budaya gotong royong dan menyapa sebagai sebuah identitas bangsa, tanpa memandang  agama yang dianut oleh mereka apa.
Â
Melestarikan keramahan masyarakat beragam berarti mengusahakan untuk meredam kemarahan. Gejolak perbedaan disana-sini tak akan pernah selesai jilakalau tidak ada yang memulai. Cerita-cerita masa lalu, rakyat NKRI bersatu melawan penjajah mejadi slogan-slogan yang ampuh. Kini memahami sesama manusia untuk kemaslahatan Indonesia untuk maju. Â Â
Â
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia (diakses tanggal 27/09/2015 pukul 20.34)
[2] “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.â€
[3] “Bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaanâ€
[4] “Bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agamaiâ€
[5] “Pentakostalisme dan Islam: Berjumpa di Mimbar Gereja oleh Pdt. Elia Tabunan, S.Th, M.Pd.†http://jurnal.elsaonline.com/?p=105#more-105 diakses tgl 18 September 2015.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.