review

King

King

Film King, Ini Tentang Spirit Bung !

3

Nun jauh di pelosok, Jampit, salah satu kelurahan di Banyuwangi, cerita ini dimulai. Adalah Pak Tejo (Mamik Prakoso) yang mempunyai anak semata wayang bernama Guntur (Rangga Raditya). Pak Tejo begitu tergila - gila pada olah raga bulutangkis hingga hampir seluruh hidupnya ‘mengabdi’ untuk bulutangkis. Mulai dari bersedia menjadi komentator pertandingan tepok bulu di kampungnya, menjadi pengumpul bulu angsa untuk dijual di sentra pembuatan, senang memakai jaket bertuliskan Indonesia setiap hari, hingga mendidik anak - anaknya untuk bisa menjadi pemain bulutangkis yang hebat, seperti King, Liem Swie King sang idolanya.

Sebuah keinginan mulia. Dimana Pak Tejo ingin sekali mendidik Guntur dengan keras, scot jam, lari keliling lapangan desa hingga memarahinya jika kalah dalam pertandingan. Guntur merasa yakin bahwa semua yang ayahnya lakukan adalah sebuah tindakan yang sewenang - wenang, semua yang dilakukannya adalah hukuman. Guntur selanjutnya memberontak dalam diamnya. Karena dia tahu sang ayah adalah keluarga satu - satunya, dimana ibunya sudah meninggal. Akhirnya Guntur mengalah dan jarang membantah perintah ayahnya meskipun dalam hati dia sangat kesal.

Hingga pada suatu hari sebuah keluarga kecil berkunjung ke desa itu untuk sebuah keeprluan. Seorang Ibu muda (Wulan Guritno) dan seorang anaknya yang bernama Michelle, mereka menetap dan Michelle kecil yang satu sekolah SD dengan Guntur dan Raden menjadi bersahabat.

Selanjutnya, prestasi dibidang bulutangkis Guntur semakin maju pesat namun diwarnai dengan percekcokan dengan sang ayah hingga mereka sempat tidak bicara beberapa hari karena Guntur berpendapat ayahnya kurang pernah perhatian, tidak pernah memikirkan bagaimana dia dan perjuangannya agar sukses seperti sang idola, namun kemarahannya tidak berlangsung lama karena seorang teman baiknya memberitahukan bahwa ayahnyalah yang meminjam raket untuk ikut pertandingan dan sangat perhatian padanya, Guntur akhirnya luluh lalu masuk klub bulutangkis di kelurahan lain yang agak jauh dari desa, sambil melihat ada pengumuman penerimaan siswa . wi baru. Terbersit dibenaknya, pastilah akan memudahkan jalannya untuk maju jika bisa ikut latihan sambil mendapatkan bea siswa.

Masalahnya hanya satu, untuk ikut latihan harus bayar, sementara dia tidak memiliki uang ?

Ending

Sebagai film liburan, film ini cukup cantik. Selain karena eksplorasi gambar - gambarnya di hutan yang segar dengan koloni rusa yang mendiaminya. Pohon - pohon menjulang tinggi, kadang diselingi kabut pedesaan di pagi hari yang indah, juga lereng - lereng gunung yang menawan tak kalah cantik.

Yang jelas, selain menjual cerita, film ini juga menjual keindahan alam daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dimana apabila melihat masih pekatnya hutan dan pohon - pohon yang alami, jadi teringat film Twilight yang menonjolkan hutan untuk koloni vampire. Sepertinya hutan di Indonesia tidak kalah cantik untuk setting film vampire – vampire mengerikan tersebut.

Rangga Raditya, pemain debutan Alenia Pictures ini cukup lumayan memainkan perannya sebagai pemain bulutangkis amatir. Kulit legamnya dan juga wajah ‘lugu’ nan rupawan adalah cukup pas dengan lingkungan pedesaan di Banyuwangi, meskipun logatnya kurang mendukung untuk ukuran anak – anak yang tinggal di Banyuwangi yang berbahasa Jawa dalam kesehariannya, tetap saja film ini layak untuk ditonton.

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads