Pasar seni berupa pasar tradisional yang berlokasi di Jalan Melasti, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, adalah salah satu pusat keramain wisata asing atau lokal untuk dimanfaatkan buat berburu cinderamata. Setiap hari, pasar – pasar tradisional itu terlihat selalu ramai mendapat kunjungan dari wisatawan asing untuk belanja oleh – oleh khas orang Bali.Â
Meskipun dalam hiruk - pikuknya pasar tradisional yang setiap hari dipenuhi oleh wisatawan, ada pemandangan yang menarik kadang – kadang bisa membuat turis asing menjadi betah berlama – lama di dalamnya dan suka memanfaatkan momen tersebut dengan membuat foto – foto selfie dimana ada sekelompok ibu - ibu pedagang kain baju dan celana pantai dari kain batik duduk – duduk santai disela - sela keramain orang lalu - lalang sambil tak lupa membawa janur dari rumah, lalu merangkainya menjadi sesajen buat acara sembahyangan pada waktu nanti sore di depan kios mereka masing - masing. Sesekali mereka menawarkan dagangan mereka kepada calon pembeli yang kebetulan lewat dan menghampiri kiosnya.
Pada hari – hari tertentu seperti Galungan dan Kuningan, janur muda dibuat menjadi canang selain berfungsi sebagai media buat upacara adat keagamaan yaitu agama Hindhu di Bali juga bisa merangkap  sebagai fungsi hiasan pada gapura atau pintu gerbang sebuah rumah atau sanggah / pura miniatur tempat umat Hindhu dalam satu keluarga melakukan upacara persembahyangan bersama. " Saya membuat canang di sini saja. Karena waktu saya kebanyakan menjaga kios dagang, " kata Nengah Murni (27) salah seorang pedagang kain batik di pasar itu. Dia dan teman – teman di sekitarnya mengaku membuka kios – kios dagang miliknya sejak pukul 08:00 WITA dan tutup pukul 19.00 WITA. " Karena masih banyak aktivitas di rumah, " aku perempuan asal Desa Tiayar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem Bali itu, ditemui oleh redaksi TIMESIndonesia, Selasa (13/9/2016) yang lalu (dari berbagai sumber). Menurut Nengah, membuat dan mempersipakan canag untuk persiapan Hari Raya Galungan dan Kuningan wajib jauh – jauh hari dilakukan. " Jadi banyak ibu - ibu yang menyempatkan membuat canang di sini sambil jaga kios, " ungkapnya.
Janur – janur tersebut dirangkai untuk beberapa aneka canang. " Ada canang sari, canang ceper, dan canang sampian gantungan, " kata Nengah.
Jelang Galungan, Janur Cantik Mulai Hiasi Pulau Dewata
Hari Raya Galungan dan Kuningan di Pulau Bali diperingati dengan menyiapkan beberapa jenis canang dengan beraneka model hiasan cantik berupa bunga, buah – buahan segar dan jajanan khas Pulau Dewata untuk media persembahyangan dan juga sebagai manfaat untuk menghiasi rumah terutama pintu gerbang / candi bentar dari pekarangan sebuah rumah.
Hari Raya Galungan jatuh pada tanggal 7 September 2016 hari Rabu dimana menjelang hari raya besar umat Hindhu tersebut, di Bali mulai melakukan persiapan untuk menyambut meriahnya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Salah satunya adalah warga mulai mempersiapkan janur gebokan / canang berukuran besar dan tinggi / pajegan dan hiasan penjor yang banyak terjadi di banyak tempat di Bali. Janur Gebokan adalah janur lontar yang dirangkai sedemikian rupa sehingga terbentuk hiasan indah untuk dilihat dan diletakkan pada bagian atas dari canang pajegan. Hal ini sebagai simbol persembahan dan rasa bersyukur kepada Tuhan atau Hyang Widi. Sementara, bagi umat Hindhu perantauan di Bali, rata – rata mereka kurang lihai dalam merangkai janur untuk menjadi hiasan, cukup membelinya di pasar – pasar tradisional atau banyak kios - kios banten di pasar tradisional yang ada di Bali.
Meskipun terlihat unik, setiap menjelang Galungan dan Kuningan, banyak keluhan datang dari warga Bali perantauan mengenai harga buah – buahan yang biasanya mulai melambung tinggi karena permintaan pasar melonjak buat keperluan upacara keagamaan. Akibatnya adalah untuk masyarakat Bali kelas ekonomi menengah ke bawah lebih banyak memakai banten berupa canang sari saja yang terbuat dari bunga dan sedikit saja yang mampu memakai buah – buahan, sedangkan masalah penurunan penjualan janur gebokan jelang Galungan dan Kuningan menurut pengakuan beberapa pedagang kaki lima di pasar – pasar tradisional menjelaskan bahwa kadang – kadang mengalami peningkatan namun tak jarang menurun seperti yang dijelaskan oleh Ketut (40), pria yang tinggal di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung ini mengaku bahwa dirinya selaku penjual janur gebokan sangat merasakan menurunnya  daya beli masyarakat meskipun kadang – kadang. " Penjualan janur gebokan masih sangat sepi dan belum mencapai target. Hanya bisa menjual dalam sehari 10 janur gebokan saja. Itupun yang ukuran kecil, " ungkapnya. Biasanya jika hari sudah mendekati Galungan ataupun Kuningan, warga mulai berbondong - bondong membeli janur. Ketut menambahkan bahwa pihaknya biasa menjual janur gebokan berukuran besar senilai Rp. 115 ribu. Untuk ukuran kecil seharga Rp. 20 ribu sampai Rp. 25 ribu. " Semoga beberapa hari ini terus ramai, " harap Ketut.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.