news

Tidak Semua Homeschooling Bermasalah

Tidak Semua Homeschooling Bermasalah

MALANG KOTA - Sejumlah orang tua di Kota Malang yang yakin menyekolahkan anaknya di homeschooling (HS) atau sekolah rumah, hendaknya lebih jeli memilih. Karena meski ada kesimpangsiuran, sebenarnya sekolah rumah sudah diatur Permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Tahun 2014.

Penulis mengunjungi salah satu homeschooling di Kota Malang yang bernama Sekolah Dolan. Homeschooling tersebut berada di daerah Villa Bukit Tidar. Di sana, puluhan anak belajar musik, mengerjakan soal, dan ada juga yang belajar menggunakan komputer.

Banyaknya orang tua yang memilih sekolah rumah untuk pendidikan anaknya, terbukti dari jumlah siswa atau dengan kata lain siswa yang bermitra dengan Sekolah Dolan, yakni 120 anak dari tingkat SD hingga SMA. Lukman Hakim, selaku camp master atau dengan istilah lain kepala Sekolah Dolan membeberkan jika lebih dari 200 siswa Sekolah Dolan yang sudah lulus SMA.

ads

”Mereka memiliki ijazah resmi, dan banyak yang diterima di universitas ternama seperti Universitas Brawijaya (UB),” ujar Lukman saat ditemui di ruang kerjanya. Dia membenarkan jika sekolah rumah harus bermitra dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Namun, dia membantah jika sekolah rumah yang masuk dalam pilar ketiga pendidikan, yakni sekolah informal dan lembaga les privat di Malang belum diatur oleh Kemendikbud.

Selama ini Sekolah Dolan bermitra dengan PKBM Ki Hadjar Dewantara yang beralamat di Kecamatan Sukun. Dengan hubungan mitra tersebut, siswa dapat melaksanakan UNPK (ujian nasional pendidikan kesetaraan) dan mendapatkan ijazah resmi.

Menanggapi masalah ada beberapa orang tua yang mengadu ke Dinas Pendidikan Kota Malang lantaran merasa tertipu dengan homeschooling, Lukman menjelaskan, orang tua seharusnya lebih jeli bermitra dengan sekolah rumah. ”Kalau mereka lapor ke disdik, yang salah orang tuanya,” papar dia. Dia mengungkapkan, memang ada sekolah rumah yang dari awal tidak bermitra lalu mengurus UNPK, surat peserta UNPK itu tidak akan didapatkan.

Menurutnya, sebelum memutuskan untuk memilih sekolah rumah, setiap orang tua harus tahu tujuan ke depannya. Apakah anak akan diarahkan untuk memiliki ijazah atau tidak. Orang tua harus tahu prosedur-prosedurnya sebelum memilih homeschooling atau memilih mengajar anaknya sendiri di rumah.

Dia menerangkan, ada tiga jenis atau bentuk homeschooling  yang sudah diatur Permendikbud Nomor 129. Yakni homeschooling tunggal, di mana pendidikan berbasis keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua dalam satu keluarga. Biasanya, orang tua yang mengajar anaknya sendiri atau memanggil guru ke rumah.

Bentuk kedua, yakni sekolah rumah majemuk, yakni pendidikan yang dilaksanakan lebih dari dua keluarga untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Sementara bentuk ketiga, yakni sekolah rumah komunitas yang berbasis dari beberapa sekolah rumah majemuk.

Pria yang menjadi pengurus pusat Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif) ini mengatakan, jika Sekolah Dolan termasuk sekolah rumah komunitas. Lantaran, Sekolah Dolan menaungi beberapa HS tunggal. ”Homeschooling punya program sendiri dan kami sebagai konsultannya, yang membantu mereka untuk mengikuti UNPK,” pungkasnya.

Sekolah Dolan yang didirikan sejak 2007 ini sudah melapor ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang. Bahkan, Lukman diminta untuk membuat Sekolah Dolan menjadi sekolah nonformal PKBM. Dia mengaku saat ini dirinya telah menyiapkan pengurusan tersebut agar lebih mudah mendaftarkan anak didiknya mengikuti UNPK.

Terpisah, Kasi Kursus dan Kelembagaan dan Pendidikan Masyarakat Hariadi mengungkapkan jika salah satu cara agar homeschooling bisa ikut UNPK, yakni dengan bermitra dengan PKBM. Namun, hubungan kemitraan tersebut bukan ranah disdik.

Sementara itu, Fira Wardani, salah satu orang tua yang menyekolahkan anaknya dengan model homeschooling lebih yakin bakat anaknya bisa terasah dibanding mengikuti sekolah formal. Ibu dari Fania Nesha Ardhani ini mengatakan jika setiap anak memiliki keunikan masing-masing dan sekolah formal kurang maksimal untuk mengetahui hal tersebut.

”Saya pernah menyekolahkan anak saya di sekolah formal saat TK B dan kelas 1, tapi kurang maksimal. Nesha juga lebih suka HS,” ucap dia. Perempuan yang mengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tersebut menampik jika sosialisasi anak yang belajar di homeschooling terganggu. Dia mengungkapkan jika anaknya memiliki banyak teman bahkan di berbagai tingkat dari SD  hingga SMA.

Anaknya yang sekarang duduk setingkat SD kelas 6 itu setiap Senin hingga Kamis belajar di Sekolah Dolan. Fira juga mendatangkan satu guru ke rumah. Nesha lebih condong ke bahasa, sehingga hari Jumat dia khususkan agar anaknya fokus belajar bahasa Inggris.

Sementara itu, salah satu siswa Sekolah Dolan, Rameeza memilih homeschooling lantaran dia tidak nyaman belajar di sekolah formal. Dia bersekolah di homeschooling sejak kelas 1 SMP. Padahal, dia mendapat kesempatan untuk akselerasi di salah satu SMPN di Kota Malang. ”Saya keluar soalnya sering di-bully, pernah pindah SMP juga. Akhirnya, orang tua menyekolahkan di sini (HS),” ujar dia. Dan ternyata dia merasa lebih cocok dengan homeschooling ketimbang di sekolah formal. 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads