article

Mengenal Emotional Design

Mengenal Emotional Design

Pernahkah kamu ketika scroll di media sosial dan melihat judul yang menarik perhatianmu? Pastinya kamu akan klik judul tersebut untuk melihat atau membaca isinya. Tetapi yang kamu dapatkan hanyalah isi yang tidak sesuai dengan judul, atau biasa yang disebut dengan clickbait untuk menarik pembaca walaupun tidak berhubungan dengan judul yang dicantumkan. Hal itu membuat kamu kesal karena merasa “ditipu”. Nah ini salah satu bentuk emotional design.

Apa itu Emotional Design?

Emotional design adalah suatu cara atau konsep agar membuat desain mampu mempengaruhi emosi seseorang.  Para desainer bertujuan untuk meraih pengguna dalam 3 level kognitif, yaitu visceral, behavioral, dan reflective sehingga para pengguna dapat mengembangkan asosiatif positif termasuk negatif dengan produk, merk dan lainnya.

Penerapan Emotional Design

Emotional design tidak hanya sekedar teori, tapi juga memiliki penerapan yang luas dalam berbagai bidang, seperti:

ads

  1. Desain Produk: Seperti perusahaan Apple yang terkenal dengan desain produk estetika dan pengalaman pengguna, menciptakan koneksi emosional yang kuat antara pengguna dan produk mereka.
  2. UI/UX: Aplikasi seperti Instagram menggunakan desain yang menarik dan intuitif, membuat pengguna merasa senang dan betah dalam aplikasi tersebut.
  3. Desain Layanan: Perusahaan layanan pelanggan yang baik dan berusaha menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan mereka, sehingga pelanggan merasa dihargai dan ingin kembali menggunakan layanan tersebut.
  4. Arsitektur: Desain bangunan juga dapat menerapkan prinsip emotional design dengan menciptakan suasana tertentu.
  5. Pemasaran: Iklan yang efektif sering kali menggunakan emotional design untuk membangkitkan emosi tertentu pada penonton. Sehingga memberikan kesan yang membekas kepada penonton.

3 Level Kognitif

Berikut sedikit penjelasannya mengenai level kognitif dalam emotional design:

1. Emosi Visceral

Ditujukan agar seseorang bisa merasakan emosi jatuh cinta pada pandangan pertama ketika pertama kali melihat sebuah produk. Kunci utamanya terletak pada bagaimana tampilan awal saat kamu mengenalkan produk pada pengguna baru.

2. Emosi Behavioral

Emosi ini akan muncul ketika pengguna menggunakan produk. Penggunaan maskot dalam aplikasi merupakan salah satu cara yang bisa diterapkan. Pemilihan maskot yang tepat memengaruhi level ini, karena dapat menggugah emosi pengguna melalui maskot aplikasi.

3. Emosi Reflective

Pengguna benar-benar sadar terhadap apa yang telah dirasakan. Contohnya memberikan penilaian terhadap produk yang sudah dipakai.

Bagaimana Mengaplikasikan Emotional Design?

Mengaplikasikan emotional design tentu membutuhkan desain fungsional yang bagus. Berikut tahap-tahap agar emotional design ini bisa diaplikasikan dengan baik:

  1. Berikan Ciri Khas: Berikan kepribadian yang khas dari produk, hal ini menyebabkan pengguna mengenali produk yang lebih cepat.
  2. Desain yang Relate: Buatlah desain yang relate dengan pengalaman pengguna.
  3. Penggunaan Warna yang Tepat: Warna mampu mempengaruhi emosi seseorang. Misal jika produk berhubungan dengan lingkungan, maka warna hijau yang cocok.
  4. Buatlah Copy dengan Tone yang Pas: Mampu mengakomodir dan memunculkan emosi. Namun perlu diingat gunakan kalimat, jenis dan gaya hidup yang sesuai dengan gambar yang ditampilkan.
  5. Lakukan Kustomisasi Microcopy: Microcopy ialah informasi singkat yang terdapat dalam aplikasi, produk atau situs web.
  6. Gunakan Video dan Suara: Agar proses penyampaian pesan bisa lebih maksimal, gunakan video dan suara sebagai pendukung.
  7. Personalisasi Pengalaman Pengguna: Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Karena itu berikan saran terkait dengan apa yang mereka suka berdasarkan informasi yang diberikan.
  8. Tawarkan Harga dan Kejutan: Berikan penawaran harga yang menarik dengan kejutan khusus bagi para pengguna.
  9. Manfaatkan Storytelling: Gunakan teknik bercerita untuk membangun kedekatan emosional dengan pengguna.
  10. Pertahankan Attention to Detail: Gunakan bahasa yang terkesan humoris namun tetap sopan untuk meredam emosi pengguna ketika berhadapan dengan masalah.

Penutup

Perlu diingat, emotional design harus dibuat dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna. Karena emosi sekecil apapun mampu membuat impresi yang salah dari keseluruhan desain.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads