Saat ini peran wanita terus berubah - ubah, namun peran ibu tetaplah sama di sepanjang masa. Setiap zaman akan membawa tantangan tersendiri yang berbeda - beda untuk para ibu. Salah satunya adalah yang tergambar dalam bait penutup puisi berjudul : Payudara. Buah ini suka bibir, tangan, dan matamu, kecuali pompa susu.
Dalam 62 manuskrip puisi, penulis lepas, Cyntha Hariadi, mengajak anda untuk menyelami berbagai kompleksitas dalam kehidupan seorang ibu dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
Cyntha Hariadi : Mendobrak Tabu Keagungan Ibu
Di sela â sela kesibukannya sebagai seorang praktisi periklanan di Jakarta, Cyntha Hariadi adalah sosok seorang wanita modern yang masih suka memperhatikan hal - hal kecil seperti makanan favorit yang sering beliau santap saat memiliki banyak waktu luang.
Pernahkah anda melihat seorang selebritis sedang nyantai dan makan sarapan pagi di kafe ? Itulah yang kerap dilakukan oleh Cyntha Hariadi di Kompleks Komunitas Salihara, yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta dimana setelah itu beliau akan menyebarkan setumpuk brosur dan selebaran yang berisi tentang program - program acara seni dan budaya di berbagai tempat di ibukota. Salah satu yang menyita perhatian warga setempat dan Cyntha Hariadi kala itu adalah pengumuman mengenai Sayembara Manuskrip Buku Puisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Merasa tertarik dan tertantang seperti beliau dan rekan - rekannya seprofesi, sebaiknya segeralah memutuskan untuk ikut sayembara itu. Waktunya tinggal tiga bulan dan saya langsung mengerjakan manuskrip yang kemudian saya kirim, berjudul : Ibu Mendulang, Anak Berlari, kenang perempuan kelahiran Tangerang, Banten yang pernah mengenyam kuliah Media Studies di Amerika Serikat itu.
Menyelesaikan manuskrip buku puisi dalam tiga bulan ? Saya sudah punya bahan mentahnya. Saya biasa menulis di buku harian. Sejak kecil saya sudah suka menulis dan membaca puisi, ujarnya seraya menyebut salah satu tokoh penyair Indonesia bernama Sapardi Djoko Damono yang ia koleksi seluruh karya - karyanya. Saya juga suka Sutardji (Calzoum Bachri), tambahnya.
Perempuan adalah inspirasi dari segala hal. Sosok hawa untuk adam tersebut sejak jaman dulu menjadi samudera keindahan dan kesempurnaan hidup yang tak habis direguk oleh kaum adam. Maka dari itu sangat tidak wajar apabila seorang perempuan selalu menjadi bahan perbincangan, termasuk di dalam puisi.
Cyntha Hariadi, penyair muda kelahiran Tangerang ini ibarat seorang pahlawan tanpa tanda jasa dan guru tauladan yang menjadikan sosok perempuan menjadi bait - bait puisi nan indah. Buku kumpulan puisinya yang berjudul : Ibu Mendulang, Anak Berlari menjadikan perempuan mampu berkuasa atas kehidupan, keturunan, lingkungan dan laki - laki sebagai pasangan hidupnya, perempuan termasuk sebagai mahluk termanis dalam larik - larik puisi bertema apapun.
Menurut Aristoteles, puisi merupakan ayat - ayat Tuhan yang terjatuh dari langit dan diterima oleh penyair sebagai bagian terbesar dari kehidupan mereka. Tak jarang dalam bait - bait puisi, pembaca dan pengarangnya akan menemukan kebajikan luar biasa yang patut untuk dicontoh. Bahasa halus penyair, bahasa sederhana, dan pilihan diksi mengena tema yang dipilih akan menambah kesan suci dari tubuh puisi yang tercipta.
Ibuku melahirkanku sebagai seorang anak, anakku melahirkanku sebagai seorang ibu.
Apa yang anda pikirkan tentang sepenggal lirik puisi tersebut di atas ? Anda akan sering mendengar dan menjumpai pepatah sederhana di dalam kehidupan sehari - hari yang menyatakan bahwa mendidik perempuan adalah sama dengan anda mendidik satu generasi. Menyaksikan kondisi sekarang yang begitu buruk bahwa perempuan selalu rawan akan pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan manusia, hingga percobaan pembunuhan sadis. Puisi menjadi salah satu warning halus untuk pembaca ketahui dan renungkan !
Hal - hal kecil yang selalu identik dengan perempuan adalah eksplorasi tubuh dan sensualitas. Cyntha dengan gaya lugas namun tetap halus dalam puisi terbarunya berjudul Payudara, menyindir tubuh perempuan dengan metafora payudaraa. Buah (dada) ini suka bibir, tangan, dan matamu, kecuali pompa susu, (hal.9) merupakan proses mesinisasi sebuah kodrat perempuan yang menjadi hal utama dan bisa menyebabkan kesedihan berkepanjangan dalam batin seorang perempuan.
Menyusu yang seharusnya menjadi dasar untuk jalinan intim antara ibu dan anak, mendadak akan menjadi hal paling otoriter karena selalu diatur secara sekaligus dan dipaksakan oleh mesin bernama pompa asi. Perempuan seharusnya menjadi pabrik susu dan mampu mengenyahkan jalinan batin terlalu kuat antara ibu - anak.
Lelaki dan perempuan yang kemudian menjadi seorang ayah dan ibu adalah sepasang mahluk beruntung yang memiliki tujuan hidup masing - masing dalam sebuah keluarga. Bukan saja menyangkut soal peran dalam rumah tangga, pasangan ayah dan ibu juga wajib mempunyai kecenderungan berlainan dalam mengekspresikan kasih sayang mereka buat anak - anak dan lingkungan.
Dalam puisinya yang lain berjudul Jarak, tersajilah bagaimana perbedaan keduanya akan terjadi. Ingat ayah menatap bulan, ibu menatap matahari ? Ingat ayah merindukan kita dari amat jauh, dan ibu kerap memarahimu karena terlalu dekat ? (hal.16).
Dalam buku - buku karya Cyntha lainnya juga banyak membedah protes halus seorang perempuan dalam posisinya sebagai seorang istri. Cyntha menyatakan bahwa istri wajib selalu berada di belakang garis sang suami. Dalam puisi berjudul Beres - Beres, dijabarkanlah bagaimana seorang istri harus bisa merendahkan dirinya untuk melayani sang suami. Semua dibereskan, mulai dari remah - remah roti, serpihan kertas, pisang busuk, remote kontrol, hingga kaos sebelah tangan dan sebelah kaki harus dipunguti dan diletakkan di posisi semula, ketika ia (suami) sedang tidur. (hal.15).
Pada umumnya puisi tampil dengan bahasa dan metafora yang mudah dipahami oleh orang awam, indah dan membuat terharu. Begitu pula dengan puisi - puisi dalam buku ini sangat mudah dipahami. Makna dan maksud yang terselip, gamblang terbaca dengan gaya tutur dan diksi sederhana tetapi tetap puitis. Gejolak batin, ketersudutan istri, hingga kasih cinta seorang ibu begitu terasa mendalam. Tak mengherankan apabila buku kumpulan puisi ini diganjar sebagai juara 3 dalam sayembara manuskrip buku puisi oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2015.
Seperti banyak perempuan - perempuan lain pada nyatanya, puisi ini hadir dengan bahasa lembut nan indah dimana sesekali ditemukan kata - kata garang karena sedang melontarkan protes atas sebuah ketidakadilan.
Puisi - puisi ini meniupkan hidup di mulut kami sampai kami berkobar dalam bara badani dan hidup sekali lagi.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.