
Bandung, Plimbi.com -- Di era teknologi generatif, AI bukan cuma memberi jawaban dan membuatkan teks. Sekarang, AI juga bisa membangun gambar dari nol, termasuk wajah manusia. Kita tinggal memberi perintah contohnya “anak kecil tersenyum dengan latar belakang taman”, dan dalam beberapa detik , munculah gambar yang realistis seperti manusia yang nyata. Tapi benarkan wajah itu 100% buatan AI? Atau jangan jangan, wajah kita sendiri di sana tanpa kita ketahui.
Bagaimana Caranya AI Bisa Membuat Gambar Wajah?
AI image generator seperti DALL E, Midjourney, atau Stable Diffusion dilatih dengan jutaan gambar dari internet. Gambar gambar itu berasal dari berbagai sumber seperti media sosial, blog, situs berita, dan lain lain. AI mempelajari pola umum dari semua gambar tersebut. Misalnya:
- Bentuk umum mata manusia
- Letak hidung dan mulut
- Struktur wajah pria dan wanita dari berbagai ras
Dari data data tersebut, AI membangun pemahaman tentang wajah manusia: bagaimana letak dari fitur fitur wajah, bentuk proporsi, pencahayaan, dan ekspresi manusia. Saat kamu memberi perintah gambar pada AI, dia tidak akan menggambil satu gambar atau gambar yang sudah ada di media sosial dan semacamnya melainkan dia menciptakan gambar baru dengan cara menggabungkan ribuan data wajah manusia sehingga akan muncul wajah baru yang tidak pernah ada di dunia nyata.
Wajah yang Tidak Pernah Ada, Tapi Terasa Familier
Secara teknis, wajah yang dihasilkan oleh AI bukan milik seseorang secara langsung. Wajah itu adalah kombinasi baru dari beberapa wajah manusia yang nyata. AI mencampurkan potongan ciri khas dari ribuan wajah manusia, seperti bentuk mata dari satu orang, senyum dari orang lain, dan rambut dari orang yang berbeda lagi, intinya tidak terpaku oleh satu orang saja.
Inilah sebabnya kenapa banyak orang bilang wajah AI terasa familier. Otak manusia bisa dibilang sangat sensitif saat mengenali pola wajah. Jadi walaupun wajah tersebut tidak benar benar ada di dunia nyata, kita akan merasa pernah melihat orang itu sebelumnya. Selain itu, AI juga cenderung membentuk wajah berdasarkan apa yang paling umum muncul di data pelatihan.
Bisakah Wajah Kita Ikut Masuk?
Jawabanya: mungkin saja, tapi tidak secara langsung. AI tidak menyimpan wajah kamu seperti di galeri foto. Namun, jika foto wajah kamu tersebar secara publik seperti di internet, misalnya di akun sosial media terbuka, dan platform AI menggunakan data dari sumber sumber terbuka itu, maka wajah kamu bisa ikut menjadi bagian dari pelatihannya.
Tapi bukan berarti hasilnya akan menyerupai wajah kamu persis, tapi fitur wajahmu bisa menjadi salah satu bahan dari ratusan ribu wajah yang dikombinasikan AI. Kalau wajah kamu cukup umum atau sering muncul, maka ada kemungkinan AI menghasilkan wajah yang mirip dengan kamu, walau tidak identik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru soal privasi. Karena tidak ada pemberitahuan langsung saat wajah kita dipakai sebagai sebagian dari pelatihan AI.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Langkah perlindungan utama adalah berhati hati dalam menyebarkan foto wajah di internet. Jika memungkinkan gunakan privasi akun atau hindari penyebaran foto wajah secara publik. Beberapa negara mulai mengembangkan regulasi yang dapat mengatur penggunaan data pribadi, termasuk wajah. Tapi peraturan ini masih terus berkembang dan belum menyentuh semua aspek.
Sementara itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal bagaimana AI bekerja dan bagaimana data wajah bisa diproses. Pedidikan digital bisa menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya sebagai pengguna saja, tapi juga paham resiko di balik teknologi canggih ini.
Kesimpulan
AI memang mampu menciptakan gambar wajah manusia terlihat seperti nyata. Padahal orang tersebut tidak pernah benar benar ada di dunia. Wajah wajah ini adalah bentuk dari hasil pelatihan AI menggambungkan beberapa gambar wajah manusia menjadi satu sehinggi bisa menghasilkan wajah baru yang cukup realistis. Hal ini juga tidak menutup kemungkinan gambar wajah kita juga bisa di jadikan bahan pelatihan nya. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk bijak dalam membagikan gambar ke ruang publik, karna di era digital ini, wajah bukan cuma identitas, tapi juga bisa jadi data berharga yang rawan di salah gunakan.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.