Indonesia, adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau dengan populasi hampir 270.054.853 juta jiwa pada tahun 2018 yang terdiri dari 34 provinsi. Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dengan lebih dari 230 juta jiwa. Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi. Dari Sabang di ujung Aceh sampai Merauke di tanah Papua terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, adat istiadat, bahasa, dan agama. Maka dari itu, wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi. Namun, sangat disayangkan bahwa banyak konflik yang terjadi atas dasar perbedaan yang seharusnya dapat kita satukan menjadi lebih indah. Salah satu contohnya dapat kita lihat dari kejadian yang terjadi pada peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2018 di lapangan alun-alun Limbangan, Garut. Seperti yang kita tahu bahwa, islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia. Maka dengan adanya peringatan Hari Santri Nasional ini akan menjadi salah satu momentum penting tentang “santrinisasi†masyarakat di Indonesia. Namun pada peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2018 kemarin diwarnai oleh aksi pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid yang dilakukan oleh beberapa anggota Banser yang segera saja menjadi perdebatan. Perdebatan itu secara umum terdiri dari dua perspektif. Perspektif pertama, yaitu bahwa bendera yang dibakar adalah bendera tauhid yang pembakarannya diyakini bukan pada tempatnya atau tidak etis yang bisa dianggap sebagai penistaan terhadap agama. Perspektif kedua, yaitu bahwa bendera yang dibakar adalah bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang kebetulan memang berwarna hitam dan berisikan lafaz tauhid. Beredarnya video pembakaran bendera tersebut mengundang banyak komentar dari masyarakat Indonesia. Banyak pro dan kontra yang muncul dalam menanggapi kejadian tersebut. Tetapi seperti yang kita tahu sekarang, pihak-pihak yang terkait di dalam video tersebut telah memberikan permintaan maaf mereka dan juga proses hukum telah berjalan. Maka sebaiknya, kita sebagai masyarakat Indonesia dapat menerima permintaan maaf tersebut dan tidak lagi mempermasalahkannya untuk menjaga situasi dan kondisi ketertiban negara. Indonesia sebagai negara yang kaya akan perbedaan seharusnya lebih bisa saling toleransi, mengerti dan saling menghormati satu sama lain dan jangan mudah untuk diadu domba oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Bagi bangsa yang beradab dan kaya akan perbedaan, perbedaan tak layak menjadi pembatas ataupun pemecah belah bangsa. Beda boleh, bertikai jangan. Berbeda itu lumrah, jadikan ia terarah jangan sampai jadi darah. Perbedaan harus menguatkan, bukan melemahkan.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.