article

Melongok Arsitektur Khas Bali : Istana Tampaksiring

Melongok Arsitektur Khas Bali : Istana Tampaksiring

Berbeda dengan arsitektur bangunan - bangunan bersejarah khas Bali di Pulau Dewata, Istana Kepresidenan Tampaksiring didirikan pada masa penjajahan Belanda, Istana Tampaksiring ini banyak menonjolkan ciri ke-Indonesiaan yang cukup kental. Dari kejauhan sekilas pandang menyerupai sebuah rumah dengan taman yang sangat luas, tidak ada pilar - pilar besar yang memberikan kesan agung dan kemewahan seperti halnya Istana Kepresidenan di Kota Jakarta atau Istana Bogor. Rancang bangun dari Istana Tampaksiring ini sangat fungsional, lebih banyak menonjolkan kesederhanaan dan fungsinya sebagai salah satu wisma peristirahatan.

Taman pada bagian belakang rumah dihiasi oleh batu - batu alam dan batubata halus khas warga Bali yang sengaja ditonjolkan untuk bisa menciptakan corak kedaerahan. Ukiran batu paras dan tiang - tiang kayu jati bergaya Bali sangat cantik dipadupadankan dengan mengusung konsep arsitektur Bali dalam hal pintu dan jendela serta taman, bukan sebagai elemen tambahan yang ditempelkan begitu saja.

Konstruksi beton dimanfaatkan untuk menerjemahkan rancang bangun yang menuntut bentangan - bentangan lebar mengaplikasikan bahan – bahan dari kayu jati serta bahan bangunan lainnya, kecuali pasir dan batubata didatangkan dari Jawa. Adapun elemen artistiknya adalah ukiran kayu dan batu yang dikerjakan oleh para seniman Bali dari Gianyar. Terdapat paduan warna oranye muda, versi lembut dari warna natural batubata dan abu - abu yang dipilih merupakan elemen kesamaan yang seolah – olah tidak lekang dimakan oleh zaman. Salah satu ciri arsitektur khas Bali dari bangunan - bangunan Istana karya R.M. Soedarsono ini adalah pemanfaatan pipa - pipa sebagai susuran pada beberapa teras. Sekilas pandang menyerupai susuran kapal, namun sebetulnya pipa - pipa tersebut lebih banyak berfungsi sebagai saluran air.

ads

Pembangunan Istana Tampaksiring terfokus untuk mempertimbangkan kondisi sosial lingkungan di sekitarnya. Sebelum bangunan didirikan, dibuatlah sebuah pusat kesehatan masyarakat dan pos polisi di Desa Manukaya. Juga ada unit pembangkit listrik yang dibangun khusus buat membantu penerangan leingkungan istana dan sekitarnya agar bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar. Wisma Merdeka dan Wisma Negara merupakan dua bangunan utama di kompleks Istana Tampaksiring ini yang lebih banyak menampilkan ciri arsitektur khas Bali terbuka dan ramah terhadap alam. Beberapa bagian menarik dari kedua wisma itu adalah memakai dinding teterawangan, yaitu tembok dengan menonjolkan ukiran timbul dan berlubang khas Bali. Juga dijumpai elemen arsitektur dari ukiran kayu yang diberi cat bernuansa warna biru dan emas. Sedangkan atapnya terbuat dari sirip dengan pasangan biasa seperti halnya banyak diaplikasikan pada perumahan kota.

Wisma Merdeka memiliki pintu - pintu masuk yang diberi ukiran khas Bali. Berdinding pigura yang dihiasi bunga – bunga hutan yang liar khas Bali sepanjang dinding, dengan dominasi warna adalah cokelat dan kuning emas yang terlihat elegan. Sementara pada beberapa sudut ruangan diberi hiasan berupa patung dan lukisan Bali terutama di Wisma Negara merupakan patung dan lukisan yang terpilih oleh Balai Wantilan atau pendapa yang difungsikan sebagai salah satu tempat untuk pergelaran kesenian, sepenuhnya dibangun dengan mengikuti arsitektur tradisional Bali. Bangunan ini beratap ilalang dan tiang – tiang penyangga teras terbuat dari batang kelapa.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan pertimbangan keamanan, tiang - tiang dari batang kelapa ini selanjutnya diganti dengan tiang beton yang menyerupai dengan bentuk batang kelapa. Dibagian depan balai ini tampak panggung pertunjukan seni yang berlatarkan pintu gapura berupa Candi Bentar. Dibagian kiri dan kanan depan panggung terdapat patung burung Garuda dan dibagian belakang ruangan berdiri patung kayu yang melukiskan tentang kehidupan sekelompok raksasa Kumbakarna yang sedang dikerubuti kera sesuai dengan cerita legendaris Ramayana. Semuanya itu dipahat dari satu pokok kayu jati yang kokoh. Dinding bagian belakangnya dihiasi dengan relief batu paras yang menggambarkan kisah Ramayana.

Renovasi terhadap interior di dalam bangunan istana dilakukan pada tahun 2003 dan sukses meningkatkan kenyamanan para pengunjung berupa turis lokal dan internasional ketika mereka berkunjung ke Istana Tampaksiring, memperlihatkan gaya hidup warga Bali modern tanpa meninggalkan konsep desain aslinya yang menunjukkan seni dan budaya Bali cukup kental. Di dalamnya terdapat fasilitas berupa kamar mandi di Wisma Merdeka dan Wisma Negara, misalnya, diubah sekarang ini menyesuaikan dengan standar kamar mandi hotel berbintang lima di Denpasar di samping fasilitas lainnya yang membuat para pengunjung senang berlama – lama berkunjung ke sini buat liburan.

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads