Akhirnya aku menemukan restoran itu, dikelilingi oleh taman bunga khas negeri Belanda seperti bunga tulip, bunga maple, bunga lonceng, bunga lily putih dan lily pink. Aku perlahan – lahan membuka pintu restoran dan menemukan dia sendirian sedang minum - minum sambil duduk di salah satu bangku dekat jendela restoran. Masih seperti dahulu, dia terlihat sangat cantik. Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja tanpa melirik padanya sejak aku pertama melihatnya masuk tadi melalui pintu utama. Mungkin dia juga melihat ke arahku walau hanya sekilas saja. Bahunya terlihat lebar dengat warna kulit putih bersih dibalut gaun hitam tanpa lengan yang ia kenakan sangat sesuai untuk postur tubuh dan warna kulitnya. Aku berpikir, jika aku bisa berkenalan atau bicara dengannya di sini sambil menyantap hidangan lezat makan siang kami, tapi aku tidak bisa bergerak leluasa, hanya terjebak dalam kekaguman akan sosok seorang wanita yang mempunyai kecantikan sempurna. Dia berbicara dengan beberapa teman dan tersenyum penuh pesona. Satu -satunya hal yang bisa aku lakukan saat ini adalah menatapnya untuk sepanjang waktu keberadaanku di restoran ini. Aku tidak menghitung waktu sejak aku menatapnya. Tiba - tiba acara dia dengan beberapa teman – temannya usai, mereka berdiri dan bersiap – siap untuk meninggalkan ruang utama restoran, saling memberikan pelukan ringan kepada teman -temannya. Dia pergi ke luar dan masuk ke dalam sebuah taksi.
Sementara itu, aku tetap melanjutkan acara makan siang ini hanya ditemani oleh pelayan restoran dan beberapa pengunjung tak dikenal, menu favorit hari ini sepiring spagheti, Â sepotong warm chocolate cake, dan segelas segar lemon tea blue.
Aku bertanya kepada kasir restoran dan menemukan jawabannya. Angin hangat bertiup menebarkan keharuman wangi bunga lembah lily of the valley, jendela mobil aku biarkan terbuka, dimana membantu khayalanku terbang ke beberapa waktu silam, aku ingat satu musim panas kami datang ke restoran itu : dan dia duduk di sebelah saya seperti biasa menunggu pelayan datang membawakan daftar menu hidangan favorit hari itu, di mobil angin berhembus lagi namun kali ini lebih kencang, mengacak – acak rambut sementara khayalanku belum usai, aku telah tiba di kawasan elit sebuah apartemen mewah Casa Elisabeth terletak tepat di jantung kota kecil Den Haag. Di depan sebuah rumah mungil bergaya smarthouse, aku menghentikan mobil, dan turun. Ternyata gadis itu masih berada di depan rumahnya, berbalik lalu menatapku ramah. Aku sedikit berlari menuju kepadanya. Dia tidak bicara, hanya menunggu. Saat itu diam hampir membunuhku. Jadi, aku penuh percaya diri mendahului menyapanya.
“ So … you live here ? â€
“ Yes … here …. I live … and what about you ? “
Aku hampir lupa bahwa saat ini aku masih berpijak di atas tanah. Tentu saja, ini adalah sebuah kesempatan emas bagiku bisa berkenalan dengannya. Ryan Alexis dan Lisa Brianna Samuel. Begitulah awal perkenalan kami berdua, dia mendongak untuk menatap langit berbintang dengan sebuah hembusan napas panjang. “ Aku hanya melewati kota kecil ini untuk beberapa masalah bisnis, sampai waktu aku melihat Anda di restoran tadi siang, sehingga berpikir untuk mengikuti dan melihat Anda ! “
Dia mengajak aku masuk mengikutinya ke dalam ruang tamu rumah mungil itu. Aku merasa hangat sebagai tujuh tahun yang lalu saat aku masih di usia tujuh belas tahun. Semua gambar di dinding tembok bercat cokelat lembut adalah lukisan – lukisan kuno karya Vincent Van Gogh (Starry Night), karya Gustav Klimt (The Kiss), dan lukisan – lukisan ringan karya Pierre Auguste Renoir. Furniture indoor klasik bergaya Eropa dan sebuah dapur mungil berada di dekat ruang tamu ala arsitektur Italia. Dia memainkan musik Mina Mazzini’s, sementara aku berdiri sebentar melihat sekeliling ruangan dan duduk di sofa. Dia datang bersama dengan seorang pembantu rumah tangga sambil membawa nampan penuh berisi hidangan lezat tea afternoon.
To be continue .........................................
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.