Pada umumnya sebuah komunitas pada suatu daerah akan memfokuskan diri terhadap satu jenis hewan dalam penelitian yang mereka lakukan. Misalnya saja, sugar glider, musang, ataupun anjing. Namun berbeda dengan komunitas ini, komunitas yang bernama lengkap Komunitas Satwa Eksotik (KSE), merangkul semua pecinta jenis hewan, yang dianggap eksotik bagi pemiliknya seperti mulai dari anjing, kucing, ular, gecko, burung atau pun musang.
Keunikan dari komunitas ini adalah sudah mengantongi beberapa regional yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada KSE Regional Semarang yang merupakan regional pusat, KSE Regional Bali, KSE Regional Blitar, KSE Regional Bandung, KSE Regional Bogor, KSE Regional Wonogiri, KSE Regional Surabaya, hingga KSE Regional Bangka Belitung. Untuk KSE Regional Wonogori sudah mempunyai 30 orang anggota, otomatis akan bertambah setiap tahun dan bila ditotal maka jumlah anggota KSE seluruhnya adalah bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang.  Â
Sejarah berdirinya komunitas ini adalah bermula dari beberapa orang yang memelihara hewan eksotik. Karena hewan eksotik ini rata – rata pintar dan lucu maka tak heran banyak digemari oleh pecinta / penyayang hewan, beberapa orang tersebut [ada akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas pecinta hewan seperti KSE sekitar tahun 2013.
Setelah terbentuk, kegiatan yang dilakukan oleh KSE pun dimulai pada media sosial seperti Facebook, dengan akun populernya bernama Komunitas Satwa Eksotik. Karena mereka tak mengandalkan media sosial sebagai fasilitas utama, maka seiring berjalannya waktu, KSE pun semakin mewabah, hingga pada akhirnya diketahui oleh khalayak ramai. Â
Meskipun KSE lebih aktif di media sosial dalam hal memasarkan kegiatan hingga produk mereka dan mampu menjalin tali silaturahmi sesama anggotanya, namun komunitas ini diketahui mempunyai kegiatan rutin yang bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat luas tentang pelestarian makhluk hidup. Misalnya saja, KSE Regional Wonogiri yang sering melakukan kopi darat ( kopdar ) dua kali dalam sepekan. Yakni setiap Sabtu sore di alun - alun Kota Wonogiri dan setiap Minggu pagi di arena car free day ( CFD ).
Tak hanya di Wonogiri, KSE Regional Surabaya juga melakukan even – even bertema edukasi tentang satwa dan lingkungan melalui kegiatan anak – anak seperti mewarnai, games dan edukasi secara langsung melalui interaksi dengan satwa dari beberapa komunitas satwa yang ada di Surabaya terutama penggemar kucing dan anjing. Kegiatan lainnya adalah dilakukan oleh KSE pada masing – masing regionalnya.
Nah, bagi anda yang ingin bergabung, silahkan melalui KSE di Facebooknya.
Sungai Barito
Sungai Barito atau Sungai Dusun (atau disebut juga Sungai Banjar Besar atau Sungai Banjarmasin pada bagian hilirnya) adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito. Nama Barito dulunya diambil berdasarkan nama daerah Barito (dahulu Onder Afdeeling Barito) yang berada di hulu dan termasuk wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, tetapi sering dimanfaatkan untuk menamakan seluruh daerah aliran sungai ini hingga ke muaranya di Laut Jawa di Kalimantan Selatan yaitu Muara Banjar / Kuala Banjar.
Karakteristik Sungai Barito
Sungai ini berhulu dari kaki pegunungan Muller hingga mencapai muaranya di Laut Jawa, panjang Sungai Barito sekitar 909 km, dengan lebar antara 650 m hingga mencapai 1000 m yang menjadikan Barito sebagai salah satu sungai terbesar di Indonesia.
Dalam hikayat Banjar, Sungai Barito disebut juga Sungai Banjar (Banjar river) dan ada juga yang menyebutnya dengan nama populer Sungai Cina (China river) karena banyaknya aktivitas pedagang Tionghoa di sungai ini, dahulu.
Sendimentasi atau pendangkalan di Sungai Barito kian tahun semakin parah akibat semakin meluasnya alih fungsi lahan dari hutan tropis / hutan bambu menjadikan lahan kelapa sawit / karet serta berkurangnya tutupan lahan di Kalimatan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Begitu pentingnya arti jaringan sungai, sehingga para penguasa wilayah setempat selalu berusaha untuk mengontrol seluruh jaringan sungai yang terdapat di dalam wilayah kekuasaan mereka demi untuk tujuan mengimplementasikan hegemoni politik mereka. Meskipun demikian, tak mudah untuk melakukan kontrol ekonomi secara langsung terhadap penduduknya di hulu sungai dan para pendatang di pantai. Maka dari itu, penguasa wilayah mengandalkan kekuatan fisik maupun pembentukan aliansi untuk menguasai daerah pedalaman dan sudah berhasil.
Â
Â
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.