Sebuah organisasi pecinta lingkungan hidup, Forum Komunikasi Hijau Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan baru – baru ini bertekad untuk menghijaukan ibukota provinsi tersebut dengan menanam seribu tanaman hias kukut. Anggota FKH Banjarmasin, Akhmad Arifin menyampaikan tekad tersebut kepada warga setempat dan sejumlah wartawan di Kota Banjarmasin, hari Senin yang lalu.
Menurut Akhmad Arifin yang tergabung dalam komunitas pecinta pohon / tanaman hias, dipilihnya tanaman kukut (satu family dari anggrek hutan) adalah karena tanaman tersebut mudah dibibitkan atau dikembangbiakkan, mudah didapatkan di dalam hutan, mudah dipelihara serta harus ternaungi oleh pohon - pohonnya yang rindang dan besar sehingga dari kejauhan tampak indah dan alami menghiasi beberapa jalan raya di Kota Banjarmasin.
" Tanaman anggrek, salah satu jenis tanaman yang mudah ditempelkan diberbagai pohon rindang, karena tanaman ini tidak merusak tanaman induk," kata Akhmad Arifin yang juga dikenal sebagai tokoh pecinta binatang Bekantan ( nasalis larvatus ) atau kera hidung besar.
Ia bersama – sama beberapa anggota FKH Banjarmasin berniat akan melakukan jalan – jalan santai ke hutan tropis basah di lereng Pegunungan Meratus, yakni di Kabupaten Balangan untuk mengumpulkan seribu bibit tanamanh hias kukut yang eksotik.
Berdasarkan informasi yang kami himpun dari berbagai sumber, tanaman ini banyak terdapat di hutan basah Balangan, dan bisa dengan mudah ditempelkan di pohon – pohon perdu atau pohon – pohon hutan lainnya, pohon kayu besar, atau pohon apa saja yang tumbuh di areal berhawa lembab.
Mereka merasa yakin, tanaman ini akan dapat memperindah kota, karena berdasarkan pengalaman di kota – kota lain yang memanfaatkan jenis tumbuhan ini untuk menghijaukan kota adalah menunjukkan hasil begitu elok dipandang mata.
Jogyakarta, Solo, dan beberapa kota lainnya di Pulau Jawa dan Bali diketahui telah duluan mengembangkannya dengan baik dan saat ini menunjukkan hasil yang memuaskan sehingga bagus dijadikan sebagai objek wisata alam bagi pecinta taman di alam terbuka yang ada di pusat – pusat kota karena penat dan bosan dengan suasana kota metropolitan yang kurang penghijauan dan rentan memicu stress bagi penghuninya.
Tanaman hias kukut memang beraneka jenis bentuknya, salah satunya adalah tanaman kukut tanduk rusa, eyi, dan beberapa jenis lagi yang lainnya tumbuh subur dengan cara menempel di pohon induk. Sekilas pandang tanaman ini seperti tanaman gelombang cinta, hanya saja tanaman ini memang tumbuh subur dengan cara menempel di pohon – pohon besar dan sudah berusia tua, mudah tumbuh besar dan rindang, jelas Akhmad Arifin yang belum lama ini banyak menanam pohon pinang untuk penghijauan di bagian lain dari kota ini.
FKH merupakan salah satu organisasi yang baru saja dilantik kepengurusannya oleh Wali Kota Banjarmasin, Haji Muhidin dan organisasi ini kegiatannya adalah membuat posisi Kota Banjarmasin sebagai kota hijau ( green city ) di tanah air. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, tanaman kukut merupakan salah satu jenis tumbuhan paku sebagai tanaman hias halaman. Di Pulau Jawa khususnya Bandung, orang menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama kedakah. Penyebaran alaminya adalah di area tropis dunia lama yaitu Afrika Timur, India Tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau - pulau di Samudera Pasifik.
Tanaman hias paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang sekitar 150 cm dan lebar 20 cm, menyerupai daun pisang. Peruratan daun menyirip tunggal, warna helai daun hijau cerah, dan menguning apabila terkena cahaya matahari langsung, spora terletak di sisi bawah helai, pada urat - urat daun, dengan sori tertutup seperti kantung memanjang ( biasa ada pada tanaman jenis aspleniaceae ). Ental - ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang†yang menumpang pada cabang - cabang pohon induk. “Sarang†ini bersifat sebagai media menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya seperti anggrek.
Setelah usai mengikuti program kukutisasi Banjarmasin, FKH sebagai pendukung program kota hijau di Banjarmasin terhadap kota yang sejak dulu berjuluk daratan dengan seribu sungai ini, akan melakukan kegiatan – kegiatan serupa lainnya. Seperti penanaman pohon “kariwaya†(beringin) pada beberapa lokasi di dalam kota serta penghijauan tanaman rambai padi ( soneratia sp ) di tepian Sungai Kerokan, sepanjang Jalan Jafri Jam – Jam Kota Banjarmasin.
Green Festival
Untuk mewujudkan green festival, dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat di kota agar mau tergabung dengan pemerintah, maka organisasi FKH menggelar green festival di pusat Kota Banjarmasin, guna mengajak masyarakat agar sukarela mencintai lingkungan dimulai terhadap hal – hal kecil. Festival yang berlangsung pada hari Minggu (1/12/2016) lalu di lokasi objek wisata Siring Pire Tendeaan Banjarmasin tersebut, dihadiri oleh ribuan pengunjung yang rata – rata adalah kelompok pelajar dan pegawai kantoran. Ada sebanyak 26 stand turut serta memeriahkan festival yang digelar pertama kali dalam kalangan FKH yang terdiri dari para kelompok pencinta lingkungan alam.
Stand tersebut diisi oleh sekelompok perajin yang mengolah kerajinan tangan dengan bahan - bahan dari sampah non organik. Kreasi daur ulang ini antusias diikuti oleh kelompok sekolah hijau dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga turut diramaikan dengan adanya pameran foto lingkungan hidup yang digelar oleh organisasi lingkungan Pena Hijau, serta pameran sistem kerja bank sampah.
Menurut anggota FKH Banjarmasin, Akhmad Arifin, kegiatan ini dihelar sebagai bentuk dukungan terhadap Kota Banjarmasin yang dinyatakan sebagai salah satu kota hijau di tanah air. Melalui aneka kegiatan tersebut, FKH nantinya diharapkan akan mampu melahirkan keinginan penduduk kota untuk mencintai lingkungan yang akhirnya menjadi sebuah kota yang indah, teduh, sejuk, dan indah. Kegiatan FKH juga didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pusat.
Dengan adanya aneka program Pemkot yang didukung FKH dan PU ini akan memudahkan pencapaian Kota Banjarmasin sebagai salah satu green city di Indonesia.
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.