Sawi hijau merupakan salah satu jenis sayuran yang sudah tidak asing lagi di telinga anda dan sering dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Tanaman ini mempunyai nama latin Brassica Sinensis L. termasuk ke dalam keluarga Brassicaceae. Ada dua jenis sawi yang cukup populer dimanfaatkan sebagai masakan dan pada umumnya dibudidayakan dalam skala besar dibeberapa daerah di Indonesia yaitu sawi hijau dan sawi putih. Juga terdapat sawi yang jarang dibudidayakan disini hanya ditemukan di Jepang saja, seperti sawi keriting, sawi huma, dan sawi monumen.
Sawi diketahui banyak mengandung sulforaphane yang bersifat antikanker. Sebuah publikasi pada Journal Og Nutrition pada tahun 2004 menunjukkan bahwa kandungan sulforaphane yang banyak pada golongan Brassica ( sawi – sawian ) sangat efektif untuk mencegah pertumbuhan sel – sel kanker payudara. Dari beberapa hasil studi epedimelogi, diketahui bahwa dengan mengonsumsi sayuran dari genus Brassica ini akan mampu menurunkan risiko dari terserang beberapa jenis kanker, yaitu kanker payudara, prostat, ginjal, kolon, kandung kemih, dan paru -paru. Sawi banyak mengandung fitokimia glukosinolat yang bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit, terutama kanker. Glukosinolat ampuh buat membantu mengurangi risiko penyakit kanker serta menjinakkan sel - sel kanker abnormal. Kandungan glukosinolat ini bisa meningkatkan atau menurunkan tergantung proses pengolahannya, mulai dari mencuci, memotong, hingga merebus.
Khasiat sawi sebenarnya sejak dulu sudah banyak disadari oleh masyarakat. Tetapi, mereka belum tahu bagaimana cara terbaik mengolah sayuran ini, sehingga khasiat yang terkandung di dalamnya tidak hilang. Sebelum mengonsumsi, cucilah daun sawi di dalam semangkuk air dingin secara berulang sebanyak tiga kali sampai tidak ada pasir atau kotoran berupa debu di dalam air. Saat mengolah sawi, usahakan agar selalu memakai api besar sehingga suhu panas tidak akan mengeluarkan banyak air, tidak banyak sulfur yang larut dan kondisi sayur tetap renyah. Jangan terlalu lama mengolah atau merebus sawi karena daun sawi akan menjadi terlalu lunak dan aroma sulfur terlalu tajam.
Senyawa glukosinolat yang terkandung di dalam sawi memiliki sifat mudah larut dalam air. Maka dari itu, memasak sawi disarankan sebaiknya dikukus atau ditumis dan jangan terlalu matang. Apabila terpaksa harus direbus, sebaiknya jangan memakai air terlalu banyak dan usahakan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Lebih baik lagi jika sayur sawi baru dimasukkan setelah air mendidih. Di bawah ini kami berikan satu resep praktis bernama sawi pahit cah tahu yang bagus dikonsumsi setiap hari buat menjaga kesehatan tubuh :
Bahan – bahan yang diperlukan adalah :
- 5 siung bawang putih
- 3 sdm minyak sayur
- 1 bonggol sayur sawi pahit
- 2 buah cabe merah besar
- 1 potong tahu putih
- ½ sdt garam
- 1 sdm kecap asin
- 1 sdt chicken powder vegetarian
- ½ sdm minyak wijen
- ½ sdt merica
- ½ sdt gula
Cara pembuatannya adalah :
- Cuci bersih sayur sawi pahit, kemudian potong – potong kasar.
- Potong tahu putih menjadi bentuk kotak - kotak kecil dan digoreng sebentar.
- Cincang bawang putih lalu tumis dengan minyak sayur sampai harum.
- Masukkan sawi pahit dan cabe merah yang telah dikeluarkan bijinya dan diiris tipis.
- Masukkan tahu putih yang telah digoreng.
- Tambahkan garam, kecap asin, chicken powder vegetarian, minyak wijen, merica, dan gula.
- Masak sampai sayur matang dan siap disajikan.
Tips penting : apabila tahu putih tidak ingin digoreng, boleh direbus terlebih dahulu di dalam air mendidih selama 3 menit, baru dipotong – potong sesuai dengan selera.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.