article

Miniatur Patung Lembuswana Banjarmasin

Miniatur Patung Lembuswana Banjarmasin

Seperti halnya di Pulau Dewata, patung – patung yang ada di Kalimantan ini menyerupai patung – patung dalam ajaran agama Hindhu berupa patung lembu yang diberi nama patung lembuswana, dimana menurut penganut Shiwa – Hindhu di Nusantara, bahwa lembu merupakan kendaraan pribadi dari Dewa Shiwa : Raja Majapahit pun pada jaman dulu dilambangkan sebagai Sang Shiwa.

Satwa mitologi bernama lembu tersebut telah lama yaitu sejak dulu menjadi simbol keperkasaan dan kedaulatan seorang penguasa di bumi ini. Unsur belalainya menandakan bahwa satwa ini adalah perlambang sosok Ganesha, Dewa Kecerdasan.

Selain di Museum Mulawarman, patung lembuswana raksasa saat ini banyak menghiasi taman – taman di Pulau Kumala, merupakan tempat rekreasi di tengah Sungai Mahakam. Lembuswana telah meretas masa, dari zaman kerajaan Hindu tertua hingga jaman Kasultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, namun makna bagi warga Kutai terhadap keberadaan patung – patung tersebut tetap tidak berubah bahwa sosok ini merupakan simbol dalam mengikhtisarkan para pemimpin yang mulia dan seharusnya mampu mengayomi rakyatnya.

ads

Berbelalai bukanlah gajah, bertaring bukanlah harimau, bertaji bukan ayam. Legenda ini pertama kali kemunculannya ditemukan di Sungai Mahakam yaitu ratusan tahun silam dan menjadikannya sebagai simbol Kerajaan Kutai Kartanegara.

Sosok gagah perkasa berwarna keemasan nan berkilau karena ditempa matahari ini menjadi ikon penanda di halaman depan Museum Mulawarman, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Patung satwa ini memiliki badan kuda yang bersisik dan bertaji.

Taringnya yang menghunus ganas dan mengapit belalai itu muncul dalam legenda masyarakat setempat lalu diberi nama Lembuswana, sang penguasa Sungai Mahakam yang bersemayam di palung – palung sungai yang banyak ada di Pulau Kalimantan. Patung Lembuswana merupakan karya seniman Burma pada pertengahan abad ke 19. Namun, baru menghias pelataran kedaton Kutai Kartanegara sejak awal abad ke 20. Selanjutnya kemunculan Lembuswana ini lebih banyak dihubungkan dengan kisah lahirnya Putri Karang Melenu yang muncul bersama dengan satwa mitologi dari dasar Sungai Mahakam. Kelak, sang putri ini akan menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dari sang putri,  dilahirkan penerus dinasti raja - raja Kutai Kartanegara.

Tarik Ulur Pengelolaan Museum Mulawarwan

Museum ini berada di tepian Sungai Mahakam, Kota Tenggarong, meskipun saat ini kurang memberi kesan terhadap para pengunjung karena ada banyak keluhan masyarakat atas kondisi museum ini. Bupati Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur, Rita Widyasari, mendesak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur agar memperhatikan terhadap pengelolaan Museum Mulawarman di Tenggarong dan akan diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara {dari berbagai sumber}. Rita beralasan agar Museum Mulawarman lebih menarik minat masyarakat bahkan terhadap para pengunjung.

” Banyak keluhan, kekurangan, dan hal - hal yang harus diperbaiki di museum itu, tetapi kami yang selalu disalahkan. Padahal, status pengelolaan Museum Mulawarman milik provinsi. Sudah beberapa kali saya meminta agar status museum itu diberikan kepada kami untuk kami kelola, tetapi belum diserahkan, ” ungkap Rita, Kamis (4/9/2016) di Tenggarong, Kalimantan Timur.

Kurang memberi kesan karena begitu pengunjung masuk, tidak ada pemandu yang mengarahkan dan mendampingi para pengunjung baru dari luar pulau dan baru pertama kali berkunjung ke museum ini. Di samping itu koleksi benda – benda bersejarahnya juga minim. Bahkan, banyak koleksi yang kurang jelas asal muasalnya karena tak ada penjelasan tertulis dan bukti kuat yang mendukung. Dari berbagai sumber, terutama pengunjung dari Kota Jakarta menjelaskan bahwa Museum Mulawarman kurang fokus dalam menampilkan ciri khasnya, yakni koleksi Kesultanan Kutai Kartanegara. Ada koleksi yang sebenarnya kurang perlu ditampilkan, misalnya replika dari Candi Borobudur.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Pemerintah Provinsi Kaltim, Adiyat membenarkan, bahwa Kutai Kartanegara sudah beberapa kali meminta bantuan dari Museum Mulawarman untuk dialihkan statusnya. Karena mereka memahami bahwa banyak ada keluhan masyarakat atas kekurangan museum ini. Namun, status museum masih berada di bawah Pemprov Kaltim. ” Kami coba mendiskusikan ini dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaltim, ” ucap Adiyat.

Demikian kami menjelaskan, semoga bermanfaat dan erat kaitannya dengan keberadaan patung – patung lembuswana.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads