Suku Dayak telah lama mengenal seni pahat patung yang sekaligus berfungsi sebagai ajimat, merupakan kelengkapan upacara atau sebagai alat upacara orang Dayak di pedalaman Kalimantan. Patung – patung ajimat ini terbuat dari berbagai jenis kayu terutama kayu jati yang sangat kuat dan dianggap berkhasiat untuk menolak penyakit atau mengembalikan semangat dari orang yang sedang sakit. Tersedia juga patung yang berfungsi sebagai kelengkapan upacara yaitu terdiri dari patung - patung kecil yang biasanya dimanfaatkan saat ada pelaksanaan upacara adat seperti pelas tahun, kwangkai, dan pesta adat lainnya. Patung kecil ini terbuat dari beragam bahan, seperti kayu, bambu hingga tepung ketan untuk dijadikan kue / jajanan khas orang Dayak yang tidak saja berbentuk unik tetapi memiliki cita rasa cukup menarik buat dicicipi. Selain itu ada juga patung alat upacara. Patung ini dikenal sebagai alat atau media upacara berupa patung blontang yang terbuat dari kayu ulin. Tinggi patung blontang antara dua sampai empat meter dan dasarnya ditancapkan ke dalam tanah di depan rumah adat orang dayak sedalam satu meter.
Seni arsitektur khas Dayak terlihat semakin menarik terutama pada rumah - rumah tradisional suku Dayak yang dikenal dengan nama popular, Lamin. Bentuk rumah adat Lamin ini dari tiap suku Dayak di Kalimantan pada umumnya tidak jauh berbeda. Lamin biasanya berdiri menghadap ke arah sungai yang banyak ada di Kalimantan. Dengan bentuk dasar bangunan berupa empat persegi panjang, rumah adat Lamin ada yang mencapai sekitar 200 meter dengan lebar antara 20 hingga 25 meter. Di halaman sekitar Lamin terdapat sederetan patung - patung kayu berukuran besar dan biasanya merupakan patung persembahan untuk nenek moyang (dikenal dengan istilah blang). Lamin berbentuk rumah panggung (memiliki kolong) dengan memakai atap berbentuk pelana. Tinggi kolong bisa mencapai empat meter. Untuk naik ke atas rumah Lamin, digunakan tangga – tangga kokoh yang terbuat dari batang pohon yang ditakik - takik membentuk undakan dan tangga ini sewaktu - waktu bisa dipindah - pindahkan atau dinaik - turunkan. Kesemuanya ini adalah sebagai usaha untuk mengantisipasi ancaman terhadap serangan musuh ataupun binatang buas.
Pada awalnya, Lamin dihuni oleh keluarga suku Dayak dan suku – suku lainnya yang mendiami bilik - bilik di dalam Lamin, namun belakangan ini kebiasaan itu sudah mulai ditinggalkan, dimana pada bagian depan Lamin merupakan sebuah serambi panjang dan besar yang berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan upacara perkawinan, melahirkan, kematian, pesta panen, dan lain - lainnya. Di belakang serambi terdapat deretan bilik - bilik besar. Masing – masing kamar dihuni oleh lima kepala keluarga.
Di depan rumah tinggal suku Dayak di Kalimantan Tengah atau Kalimantan Timur pada hari – hari tertentu sering dijumpai beberapa patung menyerupai manusia laki - laki atau perempuan bertubuh aneh menyerupai badut, mereka terbuat dari kayu ulin. Fungsi atau kegunaan dari patung – patung tersebut adalah bisa bermacam - macam. Patung kayu yang berukuran hampir sama dengan seorang anak manusia berjenis kelamin laki – laki tersebut di kalangan suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah pada umumnya merupakan sisa pelaksanaan upacara tiwah, yaitu upacara ritual yang mengantar arwah leluhur ke alam surga loka. Patung dalam ukuran yang lebih kecil pada umumnya merupakan sisa upacara ritual selain Tiwah dan sengaja dipasang di depan halaman rumah masing – masing karena diyakini bahwa patung - patung tersebut memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh - roh jahat yang berniat mengganggu sang empunya rumah.
Terminologi Suku Dayak Dalam Upaya Perlindungan Alam
Masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan sejak jaman dulu secara turun temurun telah mempraktikkan beragam upaya perlindungan terhadap keanekaragaman dan keberadaan sumber daya hayati di lingkungan mereka, dimana upaya yang dilakukan oleh mereka telah berhasil dengan hadirnya suku Dayak di Pulau Kalimantan dengan ragam seni, budaya dan adat setempat untuk kelangsungan hidup keturunan mereka.
Tajahan
Tajahan adalah  suatu wilayah atau lokasi yang “dikeramatkan†oleh masyarakat Dayak khususnya bagi mereka yang menganut ajaran agama Kaharingan. Di lokasi ini biasanya didirikan tempat sesajian yang unik dan menyerupai bentuk rumah panggung dari orang Dayak yang berukuran kecil.
Miniatur rumah - rumahan yang berada di lokasi tajahan tersebut biasanya terdapat beberapa patung berukuran kecil yang merupakan simbol atau bentuk replika dari anggota - anggota keluarga yang sudah meninggal. Orang Dayak meyakini bahwa roh mereka yang telah meninggal dunia akan berdiam dalam patung - patung tersebut, sehingga roh ini tidak akan mengganggu keturunan dan orang – orang di sekitar mereka yang masih hidup.
Lokasi tajahan berada pada kawasan hutan - hutan lebat dan terkesan “angker†tetapi saat ini dilindungi oleh pemerintah setempat. Pada wilayah ini segala aktivitas yang termasuk sebagai larangan seperti menebang hutan, melakukan perburuan dan lain - lainnya, dilarang secara adat untuk dilakukan sembarangan tanpa persetujuan pemimpin suku di masing – masing tempat.
Demikianlah kami mengulas tentang miniatur patung suku dayak dan hal terkait dengan kondisi ini, semoga bermanfaat bagi anda yang baru pertama kali berkunjung ke Kalimantan.
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.