article

Kain Sasirangan

Kain Sasirangan

Kain sasirangan pada umumnya digunakan sebagai kain adat yang pada umumnya digunakan pada acara - acara adat suku Banjar. Kata sasirangan sendiri berasal dari kata menyirang yang mengandung makna menjelujur, karena dikerjakan dengan cara menjelujur dan membutuhkan tingkat ketelitian super hati – hati untuk selanjutnya diikat dengan menggunakan tali raffia dan selanjutnya dicelup ke dalam warna – warna tersedia atau warna – warna pilihan, hingga kini sasirangan masih diproses secara manual.

Menurut sejarahnya, kain sasirangan merupakan kain sakral dan warisan leluhur suku dayak pada abad XII saat Raja Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa. Awalnya sasirangan dikenal oleh warga setempat sebagai kain untuk “batatamba” atau penyembuhan orang sakit yang jarang dijual di tempat umum dan harus dipesan khusus terlebih dahulu (pamintaan) pada orang tertentu yang berprofesi sebagai pembatik kain sasirangan sehingga pembuatan kain sasirangan seringkali dilakukan karena mengikuti kehendak pemesannya.

Oleh karena itu, urang Banjar seringkali mengenal kain sasirangan sebagai kain pamintaan yang artinya permintaan. Selain untuk tujuan kesembuhan orang yang tertimpa penyakit, kain ini juga merangkap sebagai kain sakral, yang biasa dikenakan oleh wanita dayak pada upacara - upacara adat.

ads

Ada 6 warna utama kain sasirangan yang umum dibuat dari zat pewarna alami dimaksud untuk mampu memikat hati calon pembeli, yakni :

  1. Kuning, bahan pembuatnya adalah kunyit atau temulawak.
  2. Merah, bahan pembuatnya adalah gambir, buah mengkudu, lombok merah, atau kesumba (sonokeling, pen, dllnya).
  3. Hijau, bahan pembuatnya adalah daun pudak atau jahe.
  4. Hitam, bahan pembuatnya adalah kabuau atau uar.
  5. Ungu, bahan pembuatnya adalah biji buah gandaria (bahasa Banjar : ramania, pen).
  6. Coklat, bahan pembuatnya adalah uar atau kulit buah rambutan.

Seturut perkembangannya, kain sasirangan banyak digunakan sebagai pakaian adat yang dipakai oleh kalangan rakyat biasa ataupun keturunan bangsawan saat mereka akan mengikuti upacara - upacara adat. Namun perkembangan zaman berlalu dengan pesat dimana mampu mengubah fungsi kain sasirangan dalam masyarakat Kalimantan Selatan menjadi tren busana modern yang ternyata banyak sekali memiliki penggemar.

Nilai - nilai sakral yang terkandung di dalamnya seolah - olah ikut memudar dan tergerus arus globalisasi mode – mode busana trendi. Globalisasi menjadikan kain ini tidak hanya banyak melalui proses desakralisasi sehingga kemudian berubah – ubah dan pada akhirnya menjadi pakaian sehari - hari, tetapi juga  semakin tersisihkan.

Seperti kain pada umumnya, kain sasirangan mempunyai banyak motif, diantaranya adalah motif sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), kulat karikit (jamur kecil), gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang (garis - garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), jajumputan (jumputan), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putri menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), benawati (warna pelangi), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), dan sisik tanggiling.

Kain sasirangan saat ini banyak tersedia di berbagai toko oleh - oleh khas Banjarmasin yang ada di Kalimantan Selatan. Harganya berdasarkan jenis kain dan motifnya. Semakin rumit motifnya maka harga kain tersebut semakin mahal.

Menurut Seman (2007:6), pada zaman dahulu kala di Pulau Kalimantan, kain sasirangan diberi warna dengan zat pewarna yang terbuat dari bahan - bahan alami, yakni dari biji, buah, daun, kulit, atau umbi tanaman yang tumbuh liar di hutan – hutan atau sengaja ditanam oleh pengusaha batik di sekitar tempat tinggal para pembuat kain sasirangan untuk digunakan sebagai bahan mencampur warna.

Agar warnanya menjadi awet muda dan tahan lama maka bahan pewarna di atas kemudian dicampur dengan rempah - rempah lain seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, atau terusi. Secara etimologis, istilah sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang diartikan di atas, tapi adalah kata kerja. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. Kondisi ini berarti sasirangan adalah dibuat menjadi satu jelujur.

Demikian kami menjelaskan tentang kain sasirangan secara singkat semoga bermanfaat bagi para pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads