Ragam hias merupakan segala bentuk dekorasi yang kerap dimanfaatkan untuk memperindah suatu benda atau bangunan, baik itu dalam bentuk dwimatra maupun trimatra atau termasuk ke dalam ruang lingkup seni anyam (Soenarpo, 1986 : 220).
Adapun pernyataan lain yang erat hubungannya dengan pendapat di atas adalah hal – hal terkait yang menyatakan bahwa ragam hias dapat berupa segala karya ukir, patung, dan motif kain batik sasirangan yang terdapat pada berbagai daerah Nusantara (Sugiyanto, dkk, 2004 : 23). Keutuhan dan kesatuan bentuk dari masing – masing ragam hias Nusantara tersebut setiap tahun mengalami masa – masa perkembangan di setiap wilayah penciptanya karena terdapat perbedaan – perbedaan terhadap nilai – nilai kreativitas dari sang pencipta.
Ragam hias umumnya mempunyai pola utama atau inti yang menjadi ciri khas dari karya yang akan dihasilkan nanti seperti geometris, tangga, tumpal, kawung, swastika, meander, manusia, fauna, flora, benda, dan religius (Yayat Nusantara, 2006 : 2).
Dalam berbagai upacara adat, misalnya upacara kematian, pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan dari suku Dayak suka mengenakan Ulap Doyo merupakan kain panjang (tapeh) terbuat dari bahan pilihan dan merupakan kain batik sasirangan khusus untuk upacara adat. Agar anda dapat bebas bergerak, Ulap Doyo diberi belahan samping atau depan dan belakang, namun disarankan untuk memakai belahan di bagian belakang saja. Biasanya kain tenun Ulap Doyo dibuat dalam tiga warna pilihan, yakni : merah, hitam, dan cokelat muda. Merah berasal dari buah - buahan glinggam, kayu Oter, dan buah Londo, dan warna coklat muda berasal dari kayu uwar. Motif yang digunakan adalah biasanya motif flora, fauna, dan alam mitologi. Batu Lado, biji buah glinggam, daun putri malu, umbi kunyit, getah akar pohon hutan, dan kayu oter paling sering digunakan sebagai bahan baku utama pewarna motif tenun Ulap Doyo sehingga kain yang dihasilkan menjadi awet dan tahan lama (kami rangkum dari berbagai sumber).
Tenun Doyo merupakan salah satu wujud terpenting dari ekspresi dan keyakinan masyarakat suku Dayak Benuaq, di Kalimantan Timur. Tenun Doyo biasa dikenakan oleh laki - laki maupun perempuan dalam acara adat seperti pernikahan atau ulang tahun pertama dari anak – anak tercinta, tari – tarian tradisional, dan dalam kehidupan sehari - hari suku Dayak Benuaq. Tenun Doyo yang dikenakan sehari -hari untuk baju model santai dari remaja putri kebanyakan memakai warna dasar hitam, sedangkan Tenun Doyo yang berwarna - warni mencolok dan bermotif ramai digunakan dalam upacara - upacara adat khas beberapa suku di Banjarmasin. Penggunaan motif dan ragam hias tersebut memiliki nilai estetika dan nilai fungsional yang sifatnya cenderung rohaniah sehingga jarang diaplikasikan untuk tren fashion kekinian. Misalnya, motif naga adalah melambangkan kecantikan dari seorang wanita Dayak, motif limar atau perahu melambangkan kerjasama, motif timang atau harimau melambangkan keperkasaan seorang pria, motif tangga tukar toray atau tangga rebah bermakna melindungi usaha dan kerjasama masyarakat, dan beragam motif yang lainnya.
Pengaplikasian dari warna – warna menyala pada kain adalah mengandung makna simbolik tertentu terhadap kondisi lingkungan dimana anda mengenakan kain tersebut terlepas dari tren fashion batik Nusantara yang setiap tahun selalu mengalami perkembangan yang cukup pesat. Misalnya, warna hitam pada daster dan sarung atau kain panjang artinya adalah pemakainya memiliki kemampuan dalam menolak sihir hitam (sihir jahat). Jika pada warna hitam tersebut diberi garis - garis putih, maka menandakan bahwa pemakainya dapat menangkal atau mengobati segala bentuk sihir dan mengobati segala bentuk penyakit secara herbal. Sehingga kain seperti ini sering diburu oleh oleh turis asing sebagai oleh – oleh yang tidak saja cantik dijadikan busana atau gaun, tetapi dapat dipakai sebagai penangkal beragam penyakit.
Demikian ulasan singkat dari kami tentang ragam hiasan khas suku Dayak yang eksotik.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.