Manik - manik yang terbuat dari batu – batuan imitasi seperti batu mulia berupa permata, tulang ikan paus / cumi / pari, bijian tanaman hias, dan plastik dengan aneka bentuk, warna dan berukuran kecil ini lalu diberi lubang untuk dirangkai dengan benang plastik sehingga menjadi hiasan yang berfungsi untuk memperindah leher atau tangan dan pergelangan kaki merupakan sebuah benda atau bahkan sebagai alat untuk mempercantik diri seorang wanita dari suku Dayak di Pulau Kalimantan.
Apalagi bagi masyarakat suku Dayak Kalimantan (Borneo), perhiasan yang dikenal dengan nama manik - manik tersebut di atas sudah menjadi bagian utama dari kehidupan sehari - hari mereka untuk perlengkapan diri saat menghadiri upacara adat, berfungsi menghiasi mulai dari baju khas daerah setempat dan aksesoris pelengkapnya, seperti gelang, kalung, hiasan di kepala dan sebagainya.
Keberadaan benda seni yang dalam bahasa Inggris disebut “bead†ini ternyata bagi masyarakat di Pulau Kalimantan bukanlah sekadar hiasan belaka, tetapi mulai banyak digunakan untuk kepentingan lain seperti mampu berfungsi sebagai obat, diolah menjadi jimat atau sebagai alat penolak bala. Manik - manik dinilai merupakan benda sakral sehingga bisa dijadikan sebagai sarana upacara adat seperti pernikahan, sarana pengobatan, bekal kematian, sebagai alat tukar atau mas kawin bahkan manik - manik adalah benda seni yang melambangkan status sosial bagi pemiliknya, hingga tren mode perhiasan imitasi yang mulai digemari oleh remaja putri dari luar Pulau Kalimantan.
Melihat ada begitu banyak benda – benda bernilai yang sekaligus berfungsi sebagai media obat ini seperti sebuah manik - manik bagi masyarakat Kalimantan, maka oleh beberapa museum di Kalimantan, pada hari – hari tertentu dipamerkan puluhan “masterpiece†manik - manik dengan beragam bentuk nan cantik.
Di samping bagus untuk melengkapi perkembangan mode sebagai asesoris seorang wanita saat menghadiri kegiatan formal seperti pesta di kantor, juga sebagai upaya pemerintah setempat untuk mengenalkan kepada masyarakat luas tentang budaya Borneo kepada generasi muda ataupun wisatawan lokal dan turis asing, sehingga keberadaannya mampu eksis dan terjaga kelestariannya serta tidak tergerus oleh budaya barat yang saat ini mulai menggempur Indonesia.
Perhiasan manik – manik memiliki banyak ragam, menjadi salah satu tema utama sebagai oleh – oleh atau objek wisata setempat karena kerajinan tangan ini mampu menjadi salah satu simbol pemersatu dari budaya Kalimantan, dimana diketahui bahwa hampir seluruh simbol dari kecantikan dan keindahan di Pulau Kalimantan selalu memanfaatkan manik - manik sebagai perhiasan mereka.
Manik - manik tersebut pada umumnya dimanfaatkan oleh wanita Banjarmasin dan suku Dayak di Pulau Kalimantan sebagai pemanis baju adat, sebagai perhiasan wanita suku Dayak, sebagai hiasan dinding, hiasan gerabah bahkan perkembangannya kini sedang tren adalah manik - manik yang dimanfaatkan untuk hiasan topi, tas, dompet, sarung polpen, tempat HP atau sarung telepon rumah tangga maupun tutup kulkas. Keindahan manik – manik ini tergantung pada bahan yang dipakai, bentuk, zat warna tetap awet, serta teknik pembuatannya harus rapi bagian dalam dan luar menggunakan tehnik jarit tangan.
Berdasarkan pengalaman, manik - manik khas suku Dayak di Kalimantan Selatan ini rata – rata dibuat dari aneka bahan yang mudah didapat di sekitar mereka namun jarang ada di luar pulau seperti dari batu – batuan mulia kelas imitasi / kaca / plastik, keramik, logam, kerang, tulang ikan laut, gading, kayu, getah kayu, biji - bijian, merjan, dan bahan lainnya. Manik - manik termasuk benda sejarah asli dari Kalimantan yang berusia sangat tua, hal ini tercatat berdasarkan manik pertama yang ditemukan sekitar 4000 SM, terbuat dari bahan campuran berupa batu kapur dan bebatuan peninggalan Dinasti Firaun seperti yang ditemukan di Tell Arpachiyah, Mesopotamia. Tetapi  menurut sejarahnya, manik - manik paling tua ditemukan di Perancis, melalui situs arkeologi La Quina sekitar 38.000 SM. Sedangkan awal pembuatan manik - manik berasal dari Mesopotamia dan Mesir, sekitar 65.000 SM. Di Indonesia khususnya Kalimantan, manik - manik konon telah ada sejak jaman prasejarah, yakni pada masa berburu setelah terbukti ditemukannya manik - manik tua dalam goa di Sampung Jawa Timur yang terbut dari tulang binatang buas.
Manfaat Manik – Manik
Berdasarkan sejarah, untuk mengetahui maksud dan arti dari warna batu pada manik - manik khas suku Dayak di Kalimantan Selatan ini sebenarnya tergantung terhadap warna manik – manik, manik - manik yang dihadirkan dalam setiap upacara tradisional suku Dayak erat kaitannya dengan kegembiraan seperti upacara pernikahan, umumnya berwarna merah, hijau, kuning, biru dan putih. Setiap warna mengandung arti dan keistimewaan berbeda - beda, maka dari itu dalam masyarakat Dayak, warna manik – manik perlu diperhatikan sebelum anda memutuskan untuk membeli salah satu diantaranya, seperti manik – manik dari batu merah, merupakan simbol dari seorang wanita suku Dayak dalam menjalani sebuah kehidupan yang penuh semangat hidup, sedangkan manik batu warna biru mempunyai makna sumber kekuatan dari segala penjuru yang sangat kuat.
Jika warna kuning memberi makna keagungan dan keramat, kemudian warna hijau ini mempunyai makna sebagai kelengkapan dan intisari alam semesta, warna manik adalah putih maka ia simbolisasi sebuah makna tentang gambaran lambang kesucian iman dari seseorang kepada sang pencipta.
Dalam pandangan masyarakat suku Dayak, manik – manik batu yang terbuat dari bahan batu kecubung maupun akik dipercaya ampuh buat menarik keistimewaan magis didalamnya. Pada bagian butiran manik akik, memiliki gambar palang tapak jalak, misalnya, dipercaya dapat menjamin si pemakainya selamat hingga ke tujuan dan setiap akan melakukan perjalanan jauh, sangat cocok dijadikan cinderamata. Sedangkan pada manik batu akik dengan gambar garis merah dan putih (sardoniks) dipercaya mampu membuat si pemakai kebal terhadap peluru. Namun secara umum, pemakaian manik - manik batu berbahan batu akik, bisa menyembuhkan orang sakit serta membawa keberhasilan panen bagi petani.
Demikian ulasan singkat dari kami, semoga bermanfaat !
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.