Kami berdua, aku Claudia James dan suamiku Seth Philip sedang dalam perjalanan liburan akhir pekan kami ke salah satu tempat masih di dalam kota Vatikan, kami berencana akan menghabiskan waktu liburan di sana selama 2 minggu di musim semi yang indah ini, Juni 2011. Pada awalnya, aku sedikit ragu - ragu untuk meninggalkan putri kecil kami bersama kedua orang tua Seth di rumahnya, dimana putri kecil kami baru berusia 3 tahun, Zoe Philip, yang sedang mengalami sedikit sakit dan harus selalu dalam perawatan, sementara yang bisa aku lakukan hanyalah memberi petunjuk kepada mama dan papa di rumah untuk berjaga - jaga dengan antibiotik saja. Biasanya aku tidak akan khawatir karena dia ditinggalkan di tangan yang bertanggung jawab, namun saat kami akan pergi meninggalkannya, dia menatap tepat di kedua mataku dan terlihat begitu sedih, yang sangat tidak biasa. Aku dan Seth tetap memilih untuk melanjutkan rencana liburan akhir pekan kami, kedua pipi mungil gadis ini aku cium penuh kasih sayang.
Kami menginap di sebuah hotel mewah, Gran Melia Rome terletak tepat di jantung kota Roma.
Hotel ini terletak di lereng bukit Vatikan, hanya perlu beberapa jam dapat ditempuh dengan berkendaraan roda empat dari St. Peter Square dan melewati kastil tua St. Angelo, hotel ini merupakan salah satu hotel kelas ramah dan memiliki standar arsitektur sangat tinggi di seluruh kota Roma. Kedatangan kami seperti biasa disambut oleh staf mereka yang sangat ramah dan membantu. Kami memilih untuk beristirahat di salah satu kamar hotel yang berdekatan dengan lokasi taman dan kolam renang hotel. Menyapu mata, memandang pemandangan alam di dekat area kolam, kami bisa melihat area lounge terbuka yang sangat nyaman, berlokasi tepat di samping restoran bergaya Michelin bintang 2, juga di belakangnya.
Kamar kami didekorasi dengan gaya minimalis dan di dinding kamar yang bercat dengan warna     pastel         nan lembut, tergantung dalam ukuran besar dua buah lukisan aliran Renaissance, dilengkapi dengan beberapa peralatan teknologi tinggi dan fasilitas spa yang nyaman, aku dan suami benar - benar menikmati acara liburan akhir pekan kami kali ini.
Pagi hari.
Setelah breakfast, aku dan Seth menikmati waktu terindah kami dengan berenang di kolam mereka yang memiliki pemandangan sangat menawan.
Asyik mengobrol tentang awal perjumpaan kami empat tahun yang lalu, semua dimulai ketika kami berdua masih kuliah di English First, salah satu lembaga pendidikan bidang bahasa yang terdapat di kota Roma, kami berdua memilih untuk menekuni bidang bahasa Inggris dan bahasa Italia.
Aku ingat sekali, waktu itu musim salju di kota Roma, bertepatan dengan verve cross party. Yaitu pesta ulang tahun kampus yang sangat meriah di akhir tahun kuliah kami, dimana semua mahasiswa/wi sangat antusias dan bergembira menyambutnya.
Suasana pesta.
Berlokasi di salah satu auditorium kampus English First, ruangan dipenuhi oleh semua mahasiswa/wi dari berbagai jurusan bergabung di sini penuh keceriaan dan gaun - gaun cantik nan elegan menempel di tubuh ramping mereka, semua terlihat segar dan penuh gairah. Ruangan pesta itu sendiri terdiri dari tiga kotak utama, ruang dansa, ruang berkumpul untuk peserta pesta duduk - duduk sambil asyik bercakap - cakap dengan sesama teman pesta dimana Anda dapat menambah teman baru di sini, sambil sesekali melihat sekeliling ruangan yang didekorasi penuh dengan lukisan - lukisan berbagai aliran terkenal dari beberapa pelukis dunia dan kotak terakhir adalah tempat menyajikan aneka hidangan pesta dari makanan dan minuman yang berasal dari seluruh penjuru dunia.
Di sinilah awal kedekatan kami mulai terjalin, kami tidak begitu lama mengikuti pesta ulang tahun kampus, karena aku merasa tidak enak badan, Seth menawarkan bantuan untuk menolong aku mengantar pulang ke rumah. Begitulah semuanya terjadi, kami melanjutkan untuk berbincang - bincang di ruang tamu rumahku yang sangat besar hampir menyerupai sebuah kastil mewah, dan hanya berlalu lima menit, “ Apakah Anda bersedia menjadi seorang teman istimewa saya ? “ bagaikan mendapat sebuah bintang jatuh dari langit, aku sangat terkejut tetapi begitu bahagia.
Sementara di luar rumah, salju mulai turun, titik - titik kecil berwarna putih itu sangat indah menghiasi pohon - pohon cemara hutan yang berjejer rapi di depan rumah, mengiringi Seth melangkah dengan pasti menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan, lalu perlahan - lahan mengemudikannya dan menghilang di kegelapan malam.
Empat tahun berlalu tanpa terasa.
Kami berdua akhirnya lulus dengan predikat sangat memuaskan, lalu bersama beberapa teman satu kampus, kami merayakan keberhasilan ini ke kota terindah di dunia, Latvia. Dalam suasana romantis malam perayaan Natal dan tahun baru disertai musim salju penuh warna keputihan butir - butir salju yang berjatuhan dari langit, akhirnya kami berdua menikah hanya disaksikan oleh beberapa teman, sementara kedua orang tua kami ( dari pihak aku maupun Seth tidak bisa datang karena cuaca di kota Vatikan saat itu sangat buruk, ada serangan badai salju yang amat dahsyat sehingga berpengaruh besar terhadap lalu lintas udara di kota Roma dan sekitarnya ). Mereka hanya sempat mengirimkan doa dan ucapan selamat kepada kami berdua, “ Semoga senantiasa dalam mahligai perkawinan yang selalu bahagia, kekal dan abadi, selamat menempuh hidup baru. “
Kembali ke kota Vatikan.
Waktu berlalu sangat cepat, aku pun mulai hamil pertama dan setahun kemudian lahirlah putri tercinta kami, seorang bayi yang sangat cantik dan mungil, kami beri nama Zoe Philip. Sayangnya kondisi kesehatan Zoe tidak sebaik kondisi kesehatan bayi - bayi yang kebetulan mempunyai hari lahir sama dengan kelahiran dia, kanker ganas telah bersarang dalam hati putri kami sejak dia menginjakkan kakinya di bumi pertiwi yang indah ini. Begitulah akhirnya kami bertiga menjalani kehidupan rumah tangga ini penuh perasaan khawatir, rutin ke rumah sakit untuk mengontrol/check up si kecil Zoe agar dia tetap bertahan hidup hingga dewasa nanti.
Zoe genap berusia dua tahun.
Kami mendapat kabar gembira, Seth berhasil bekerja di sebuah perusahaan non goverment organization yang bergerak di bidang pemberian bantuan kemanusiaan dan perkembangan jangka panjang kepada anak - anak dan ibu - ibu muda terutama di negara - negara berkembang yang ada di seluruh dunia di bawah bendera United Nations Children's Fund,   yaitu kantor Children’s Fund Office berpusat pada kota Port Moresby Papua Nugini. Sementara aku tetap memilih berkarir di sini saja, sebagai seorang manager sebuah toko buku terkenal berlabel Selexyz Dominicanen. Dan kami untuk sementara waktu berpisah, Seth tinggal di Papua Nugini sibuk dengan kegiatan kantornya sehari - hari dan aku berdua dengan Zoe di Vatikan, bersama -sama menikmati hari - hari berlalu penuh kegiatan yang menyenangkan meskipun dalam keadaan Zoe sakit parah oleh kanker hati ganas yang menyerangnya sejak pertama kelahirannya.
Seperti malam ini, usai sudah liburan akhir pekan kami yang begitu menyenangkan walau hanya jalan - jalan di seputar kota Vatikan Roma, tetapi tetap meninggalkan kenangan indah yang begitu mendalam di benak kami masing - masing. Dalam perjalanan menuju rumah, Seth memutar radio dengan lagu - lagu chain melody, yang mengalun sangat merdu memenuhi ruang mobil, aku tidak mengerti awalnya dari mana, dan aku mulai menangis. Aku bilang, “ Pasti ada sesuatu yang salah dengan Zoe dan aku harus benar - benar teliti untuk menemukannya dimana ? Karena aku merasakan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan akan terjadi, seperti terakhir kali saat meninggalkannya bersama mama dan papa di rumah, dia selalu mencoba untuk menggambarkan sesuatu kepadaku. “ Seperti biasa, Seth hanya melamun jika aku bercerita tentang keadaan Zoe dari hari ke hari dimana kesehatan putri tercinta kami seperti sudah tidak bisa ditolong lagi, terkadang satu hari membawa keceriaan tetapi tak jarang beberapa hari kemudian dia akan terbaring kembali di tempat tidur dengan wajah mungilnya terselimuti kepucatan yang benar - benar membuat Seth khawatir. Â
Dini hari, kami tiba di depan rumah orang tua Seth, aku tidak sabar untuk segera bertemu dengan Zoe kecil yang pastinya juga sangat bahagia melihat aku kembali dan aku akan merasa jauh lebih baik. Aku membawanya kembali ke rumah pribadi kami tidak jauh dari kediaman mereka, sebuah rumah kecil nan asri terletak dekat dengan kawasan wisata Menara Miring Pisa.
Seth kembali ke kota Port Moresby di Papua Nugini, untuk bekerja karena masa cutinya sudah berakhir. Seminggu berlalu dalam kedamaian, dimana aku dengan perasaan was - was selalu dengan setia menemani hari - hari indah Zoe seperti bermain di halaman belakang rumah kami yang luas bersama - sama dengan lima ekor anjing Labrador Retriever atau kami berdua sempatkan untuk sekedar jalan - jalan menikmati indahnya kota Vatikan di sore hari. Namun, hari Minggu naas, dini hari, tiba - tiba Zoe terbangun lalu menangis keras sekali seperti sedang menahan rasa sakit teramat sangat, aku yang sudah terbiasa dengan situasi gawat darurat ini, cepat - cepat membawa dia ke rumah sakit terdekat. Kanker di hati dan pankreas yang dia derita kambuh lagi dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdoa dan secepatnya membawa dia ke dokter.
Keesokan harinya, kondisi kesehatan Zoe semakin memburuk dan aku akhirnya memutuskan untuk merelakan menidurkan dirinya dalam dekapan Tuhan buat selama - lamanya. Aku berharap Zoe kecil yang begitu penuh semangat dan sangat mencintai kehidupan, pergi untuk selama - lamanya, karena aku sebagai ibunya, tidak ingin melihat dia menderita.
Upacara pemakaman putri tercinta kami, Zoe Philip berlangsung sederhana dan penuh keharuan. Dihadiri oleh kedua orang tuaku tercinta, mama dan papa Seth, Seth Philip suamiku tercinta dan beberapa kerabat dekat serta rekan kantor kami di pekuburan masal umat Kristiani yang ada di puncak bukit Gianicolo kota Roma. Dalam damai di sore hari setelah acara usai, aku berpikir kembali ke detik terakhir saat kami berdua ( aku dan Seth ) hendak menghabiskan liburan akhir pekan kami di kota Vatikan, bagaimana cara dia menatapku di hari itu kami akan pergi. Seperti dia tidak ingin aku meninggalkannya walau hanya sedetik. Dan meskipun kami tidak tahu kanker saat itu, namun Tuhan telah mempersiapkan aku untuk membiarkan dia pergi. Kematiannya telah menjadi berkah tersembunyi karena kesedihan telah membawa aku kembali ke tempat dengan Tuhan dimana aku selalu berdoa dan menyempatkan diri untuk membaca Alkitab . Itu hanya 8 hari yang lalu dan aku merindukannya begitu dalam !
Terima kasih karena telah mengizinkan aku untuk berbagi kisah sedih ini.
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.