Di Pulau Alor, NTT, jauh di timur sana, anda yang suka berburu wisata kuliner daerah setempat pastilah akan mengenal racikan kopi yang dipadukan dengan rempah - rempah. Orang Alor menyebutnya sebagai kopi khas Alor berasa harum karena rempah – rempah tersebut.
Jauh dari Kepulauan Alor, tepatnya di Kota Batik, Pekalongan, racikan kopi ala orang Alor yang hampir mirip dalam hal rasa dan tampilan juga ada di sini. Kopi yang hanya dapat ditemui dibeberapa kawasan wisata Koya Pekalongan tersebut sangat akrab dengan warga setempat dan pengunjung lokal hingga turis mancanegara, disebut dengan nama tren : kopi tahlil.
Sesuai dengan namanya, kopi tahlil sejak dulu memang akrab dengan tradisi tahlilan yang kerap dilakukan oleh warga Islam NU, khususnya di Pulau Jawa. Dalam khazanah kekinian, tahlilan merupakan salah satu khazanah Islam Nusantara terbesar di dunia dan menjadi tradisi umat Islam di Indonesia untuk merayakannya bersama dengan keluarga tercinta.
Tahlilan merupakan ritual kuno yang mendo’akan jenazah setelah sepeninggalnya, berturut – turut pada 3 hari ( nelung ndino ), 7 ( mitung ndino ), 40 ( matang puluh ), 100 ( nyatus ), hingga 1000 hari ( nyewu ). Di samping itu, tahlil juga jamak dilakukan oleh umat Muslim saat malam Jum’at Kliwon atau pada malam hari besar Islam. Di malam - malam tersebut, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk berdo’a dan dzikir, usai itu, undangan yang hadir akan menikmati sajian ala kadarnya berupa jajanan basah khas Nusantara ditemani dengan secangkir kopi panas yaitu kopi tahlil yang terlahir karena ritual ini.
Beberapa faktor utama yang membuat warung – warung kopi tahlil di Kota Pekalongan selalu ramai oleh pengunjung adalah posisinya yang strategis. Pertama, letaknya di dekat perempatan jalan raya besar pada pasar - pasar tradisional, salah satunya adalah pasar tradisional Sorogenen yang banyak dilalui oleh penjual dan pembeli laki – laki dewasa. Kedua, berdekatan dengan kompleks masjid, yang merupakan basis warga NU. Ketiga, letaknya di area ‘ kampung Arab ’ yang notabene adalah daerah asal muasal dari kopi itu sendiri.
Bahan membuat :
-
3 L air
-
20 butir cengkih Â
-
10 cm jahe
-
10 cm kayu manis
-
9 butir kapulaga
-
7 batang serai, memarkan
-
3 lembar daun pandan, simpulkan Â
-
½ butir pala
-
200 g gula merah, sisir halus
-
100 g kopi bubuk
Cara membuat :
-
Rebus semua bahan, kecuali gula merah dan kopi bubuk, hingga mendidih. Kecilkan api, masak selama 2 jam.
-
Masukkan gula merah, masak hingga gula larut. Angkat. Masukkan kopi, aduk rata.
-
Saring dan sajikan panas.
Untuk 6 gelas.
Sejak jaman dulu kopi telah menyebar ke berbagai wilayah di dunia ini, karena kopi memang difungsikan sebagai salah satu suplemen buat para sufi dalam menuntut ilmu, berdo’a dan bermunajat sehingga anda diharapkan tetap kuat sampai larut malam melakukan kegiatan tersebut. Hanya saja, kopi yang dikonsumsi oleh para sufi ini adalah kopi murni dan belum dicampur dengan rempah – rempah sebagaimana kopi tahlil yang anda kenal sekarang ini, meskipun fungsinya hampir sama.
Daerah lain penghasil kopi ini adalah di Cilegon, kopi yang dimaksud bernama kopi owa, merupakan jenis kopi original asli yang berasal dari daerah Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Kopi yang baru dikenal beberapa tahun belakangan ini di daerah lain bahkan oleh masyarakat Pekalongan sendiri merupakan kopi yang berasa persis seperti kopi tahlil yaitu kelezatan secangkir kopi karena pada olahannya diberi tambahan berupa rempah – rempah khususnya serbuk jahe merah. Meskipun diketahui kopi ini bukanlah merupakan kopi tahlil, di Cilegon banyak dijumpai warung – warung kopi jahe merah dimana penjual kopi racikan semacam kopi tahlil ini selalu ramai dikunjungi oleh pembeli. Memang bukan kopi tahlil, karenanya rasanya sangat berbeda seperti kopi susu dan sudah tidak terasa sensasi rempahnya yaitu sangat lemah. Mungkin kalau anda bandingkan dengan kopi khas Alor, baru sama persis.
Demikian kami menjelaskan, semoga bermanfaat !
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.