article

Penjor Dan Hari Raya Galungan Di Bali

Penjor Dan Hari Raya Galungan Di Bali

Penjor merupakan sebatang bambu utuh tua berwarna kuning yang menjulang tinggi dari pangkal hingga ke ujung dan dihias dengan pucuk enau atau janur yang diukir khas tradisi orang Bali.

Pada batang bambu tersebut terdapat gantungan berbagai jenis hasil bumi untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia di bumi ini yakni setangkai padi berbulir padat, pala bungkah ( umbi - umbian), pala gantung ( kelapa, sayuran seperti mentimun, terong ungu, wortel dan jagung, buah pisang dan nanas ), pala wija ( jagung atau kacang kedelai ), kue / aneka jajanan khas Bali dan tebu. Pada ujung bambu, digantungkan hiasan bernama sampyan, yakni sebuah rangkaian janur berbentuk seperti cupu dan di dalamnya terdapat beraneka bunga, pandan harum yang diiris tipis - tipis dan terselip porosan di dalamnya. Porosan adalah setangkup sirih pinang yang dikemas dengan potongan janur sepanjang ruas jari. Fungsinya adalah sebagai pelengkap sesajen apa pun jenisnya dalam tradisi Hindu di Bali agar persembahyangan berjalan khidmat. Pada lengkungan penjor juga digantungkan dua lembar kecil kain berwarna putih dan kuning serta sebelas uang kepeng.

Sebagai sarana upacara, penjor wajib dilengkapi dengan lamak, yaitu semacam taplak panjang dari daun enau dan janur yang dirajut dengan lidi bambu. Pada bagian bawah penjor dilengkapi dengan sanggah yaitu rajutan bambu berbentuk bujur sangkar dengan atap melengkung ( oval ) yang berfungsi untuk media sesajen bernama banten terdiri dari buah pisang dan buah - buahan segar lainnya, aneka jajanan khas Bali, gorengan seperti ikan laut dan kacang serta bunga.

ads

Disamping itu, penjor merupakan salah satu sarana upakara terpenting harus ada dalam hari Raya Galungan dan Kuningan. Penjor adalah simbol dari naga basuki, dimana basuki berarti memberikan kesejahteraan dan kemakmuran. Keberadaan bahan - bahan untuk membuat dan pelengkap penjor tersebut mempunyai arti dan filosofi masing - masing. Berdasarkan lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan bahwa :

" Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga - Windhune, Sang Hyang Parama Siwa Nadha "

Arti dari kidung tersebut adalah : wahai kamu orang - orang bijaksana, yang menyelenggarakan yadnya, agar kalian mengerti proses menjadi kedewataan, maka dari itu sang Bhuta menjadi tempat / tatakan / dasar dari yadnya itu, kemudian semua Dewa menjadi sarinya dari jagat raya, agar dari Dewa semua kembali kepada Hyang Widhi, Widhi Widhana ( ritualnya ) bertujuan agar sang Tri Purusa menjadi isi dari jagat raya, Hyang Siwa menjadi Bulan, Hyang Sadha Siwa menjadi Windu ( titik O ), sang Hyang Parama Siwa menjadi Nadha ( kecek ), yang mana kesemuanya ini merupakan simbol dari Ong Kara.

" Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala (buah - buahan), Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan ( bambu dan jajanan ), Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading ( janur kuning ), Hyang Sangkara Meraga Phalem ( buah pala ), Hyang Sri Dewi Meraga Pari ( padi ), Hyang Sambu Meraga Isepan ( tebu ), Hyang Mahesora Meraga Biting ( semat ). "

Dari  petikan bait lontar di atas dapat disimpulkan bahan - bahan pembuat penjor antara lain :

  • Bambu

  • Plawa ( dedaunan )

  • Palawija ( biji - bijian seperti padi dan jagung )

  • Palabungkah ( umbi - umbian )

  • Palagantung ( kelapa, pisang, timun )

  • Senganan ( jajanan )

  • Uang kepeng / logam 11 biji

  • Sanggar Ardha Candra simbol dari Ong Kara

  • Sampian penjor yang berisi porosan ( tembakau, daun sirih, kapur, buah pinang, buah gambir ) dan bunga.

Penjor merupakan salah satu sarana upakara dalam hari Raya Galungan dan Kuningan dimana penjor adalah simbol dari naga basukih, basuki / basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran umat Hindu di Bali.

Demikian kami menjelaskan dengan singkat tentang keberadaan penjor di sepanjang jalan raya besar atau jalan - jalan kecil hingga gang rumah penduduk di desa atau kota yang ada di seluruh Pulau Bali, harus berisi penjor berjejer rapi dan banyak menarik minat wisatawan asing yang kebetulan berkunjung ke Bali buat liburan saat bertepatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan.

Semoga bermanfaat !

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads