Pura Goa Lawah merupakan salah satu wisata spiritual terpopuler di mancanegara yang berlokasi di wilayah Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Jaraknya sekitar 10 km ke arah timur Kota Klungkung atau sekitar 50 km dari Kota Denpasar. Anda bisa menempuh jarak satu setengah jam saja dari Bandar udara Ngurah Rai melalui jalan raya By Pass Prof Ida Bagus Mantra. Lokasi pura ini adalah satu jalur dengan objek wisata Candidasa, berkisar 15 km sebelah timur Pura Goa Lawah dan terkenal sebagai tempat wisata Kerta Gosa Bali.
Pura Goa Lawah adalah salah satu lokasi wisata di Bali yang cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan asing dari Jepang untuk liburan di Bali dan Pura Goa Lawah ini sangat sering dijadwalkan sebagai salah satu objek pariwisata Bali yang termasuk ke dalam paket liburan di Bali oleh beberapa perusahaan jasa tour and travel.
Jadwal tour ke objek wisata ini pada umumnya disertai dengan kunjungan ke objek pariwisata Bali yang lainnya seperti Tirta Empul Bali dan Pura Ulun Danu Bedugul. Apabila anda ingin mengunjungi tempat – tempat wisata ini tanpa harus membeli paket tour di Bali melalui jasa tour and travel, maka tentunya harus ada alternatif lain, yaitu dengan menyewa mobil dan sopir.
Mereka menyediakan jasa Bali sewa mobil baik itu berupa penyewaan mobil dengan supir atau tanpa supir. Untuk dapat memilih dan melihat pilihan kendaraan yang cocok untuk disewakan maka anda bisa melakukannya melalui link – link web site di internet dengan pilihan Bali Rent Car.
Pura Goa Lawah terletak tepat di pingggir Jalan Raya Goa Lawah. Daerah ini dekat dari Kota Denpasar, anda hanya perlu menelusuri Jalan Raya Prof. Ida Bagus Mantra untuk menuju ke lokasi ini. Dibutuhkan jarak tempuh sekitar 34 kilometer atau kurang dari 1 jam perjalanan.
Sekumpulan Kelelawar Yang Ada Di Pura Goa Lawah
Goa lawah mengalami perombakan pada beberapa bangunan pura yang berusia tua terutama di area mulut goa, beberapa kali. Namun sebelum kegiatan ini diadakan, terlebih dahulu harus menggelar sebuah upacara keagamaan besar agar acara perombakan pura bisa berjalan dengan baik dan lancar. Dan hal ini sudah terbukti kebenarannya, setelah diadakan upakara maka biasanya kerumunan kelelawar yang suka bergelantungan di dalam goa atau di pohon – pohon tua sekitar goa akan pergi ke bukit – bukit kecil yang ada di sekitar kawasan wisata.
Tak ada satupun kelelawar yang ditemukan atau berani bergelantungan di goa ini sehingga para tukang bangunan yang akan mengerjakan bangunan pura bisa memulai aktivitas mereka dengan tenang tanpa merasa khawatir akan diganggu atau terserang kelelawar yang sedang marah. Kemudian setelah bangunan pura selesai diperbaiki, selanjutnya diadakan upacara adat kedua kalinya yang bertujuan memanggil kembali kelelawar – kelelawar liar tersebut agar mau berdatangan ke goa ini seperti sediakala.
Pada jaman dahulu kala, di dalam goa tersebut dihuni oleh ribuan kelelawar raksasa dan juga sepasang ular besar yang berfungsi untuk menjaga keselamatan penghuni goa dan kelestarian hutan di sekitarnya. Sepasang ular ini adalah ular jantan dan ular betina. Jika beruntung, ‘ Jero Mangku ’ atau orang suci yang memimpin jalannya upacara akan bertemu dengan kedua ular tersebut ketika mereka sedang melakukan persembahyangan di Pura Goa Lawah yang waktu itu hanyalah berupa sebuah pura kecil saja.
Tepat di depan Pura Goa Lawah terdapat jalan raya besar jurusan ke Klungkung - Amlapura. Di seberang jalan ini terbentang laut Jawa yang maha luas dengan garis – garis pantainya yang kuat dan luas membelah cakrawala. Di pinggiran jalan ini banyak dibangun warung - warung tradisional khas Bali yang berjejer tak beraturan untuk tempat singgah umat Hindu yang sedang melakukan persembahyangan atau para wisatawan yang berkunjung guna melakukan acara bersantai disana setelah menikmati keindahan Pura Goa Lawah yang eksotik.
Yang unik dari pura ini adalah terdapat sebuah goa batu berukuran besar pada bagian utama dari bangunan pura. Bukan hanya merupakan sebuah goa biasa saja yang kosong, tapi goa ini ternyata berpenghuni. Penghuninya adalah sekumpulan kelelawar raksasa yang bergantungan di dalam dinding – dinding goa yang berusia sangat tua dan hewan liar lainnya seperti ular. Masyarakat sekitarnya mempercayai bahwa kelelawar di pura ini adalah mahluk yang sangat keramat sehingga pada hari – hari tertentu wajib diberikan upacara persembahyangan untuk menjaga kelestarian hidupnya agar tidak punah karena ulah jahil oknum yang tak bertanggung jawab. Kondisi ini diperkuat lagi dengan tindakan jika ada oknum yang berani mengganggu ataupun berburu keleawar liar tersebut hingga ke tengah goa, maka merupakan sebuah awal akan ada bencana besar.
Tepat di mulut goa dibangun berbagai macam pelinggih yang berfungsi untuk penyembahan umat Hindu bagi para Dewa Penguasa Lautan sebagai manifestasi dari Tuhan yang menjaga keselamatan bumi beserta isinya. Ketika anda jalan – jalan di sekitaran mulut goa ini, anda akan mendengar suara – suara aneh yang datangnya dari ribuan kelelawar di dalam atau di luar goa saling berdesis dan bersautan bagaikan penyanyi seriosa sedang melantunkan nyanyian dengan nada – nada aneh disertai desiran angin dan deburan ombak laut Jawa.
Karena terdapat banyak kelelawar liar di goa ini, maka pada musim hujan akan menimbulkan dan menyebarkan bau pesing di areal pura. Oleh karena itu hindari berkunjung kesini saat sedang musim hujan, lebih baik dilakukan ketika musim kemarau karena angin laut akan menyapu bersih bau pesing tersebut sehingga anda bisa menikmati keindahan alam dari Pura Goa Lawah dengan perasaan aman dan nyaman.
Umat Hindu yang bersembahyang disini atau para wisatawan yang berkunjung dilarang mengucapkan kata - kata kasar atau berlaku kurang sopan karena kawasan wisata ini merupakan kompleks pura besar sebagai sebuah tempat suci bagi umat Hindu untuk melakukan persembahyangan bersama yang berfungsi sebagai media atau sarana pemujaan terhadap Tuhan dengan segala manifestasinya.
Istilah pura di atas sama dengan istilah gereja atau mesjid adalah sebagai tempat pemujaan Tuhan oleh umat Kristen atau Muslim sama seperti pura – pura di Bali yan disucikan oleh umat Hindu, namun masih bisa dikunjungi oleh para wisatawan ( asing ) yang ingin melihat - lihat keindahan pura dengan arsitektur khas Bali yang menarik. Diketahui bahwa tujuan para wisatawan asing tersebut untuk berkunjung ke sebuah pura selain untuk menikmati indahnya relief - relief atau seni pahat unik yang tertempel pada dinding - dinding pura, para wisatawan biasanya tertarik dengan keunikan tersendiri yang tidak dijumpai di tempat - tempat wisata spiritual lainnya. Relief pada pura ini hampir sama dengan keunikan yang ada di Pura Tirta Empul Tampaksiring, dimana terdapat sebuah kolam ikan dari pancuran air suci di dalam pelataran utama pura. Ada juga Pura Ponjok Batu di Tejakula, dimana terdapat sebuah karang besar yang di atasnya berdiri patung perahu kecil di tengah laut.
Pura Goa Lawah mengandung makna sebuah tempat berupa goa yang di dalamnya dihuni oleh kelelawar liar, dimana diketahui bahwa kata lawah di Bali mengandung arti adalah kelelawar, jadi Goa Lawah berarti tempat yang dihuni oleh kelelawar. Pura Goa Lawah dikenal sebagai salah satu dari enam pura terpenting yang ada di Bali. Lima diantaranya adalah Pura Lempuyang, Uluwatu, Andakasa, Batukaru, dan Seleyukti. Mengenai sejarah terciptanya Pura Goa Lawah pertama kali di Pulau Bali tidak diketahui pasti kapan dan oleh siapa yang membangun pura ini menjadi eksotik dan unik seperti saat ini. Menurut penelitian para ahli, sejarah pura ini dibangun adalah pada abad ke - 11 atas gagasan dari Mpu Kuturan dimana Pura Goa Lawah adalah tempat buat memuja Tuhan sebagai Dewa Laut.
Pemandangan di sekitar pura sangat khas, selain terdapat sebuah goa besar berbentuk aneh dan unik yang berada di bawah pepohonan liar ( beringin besar berusia sangat tua ) yang rindang dan di dalam dinding mulut gua terdapat banyak kelelawar liar bergantungan, juga di mulut goa dibangun beberapa pura sebagai tempat pemujaan bagi umat Hindu seperti yang telah kami jelaskan di atas.
Di depan goa dalam areal pura nampak banyak tempat pemujaan berupa pura – pura kecil. Upacara besar di pura ini dilaksanakan oleh umat Hindu setiap enam bulan sekali yaitu pada penanggalan Bali yang disebut sebagai hari Anggarkasih Medangsia. Pura ini berlokasi di seberang pantai dan memasuki wilayah perbukitan Badung. Sebuah pura lain juga dibangun secara terpisah di pantai ini yang disebut dengan nama Pura Segara. Pura Segara merupakan pura masyarakat setempat yang sebagian besar mata pencahariannya adalah sebagai nelayan tradisional untuk memuja Tuhan dengan sebutan Bhatara Baruna atau Dewa Laut agar mereka selamat melaut untuk mencari ikan buat dijual.
Saat memasuki Desa Pesinggahan menuju Pura Goa Lawah, di sepanjang jalan raya banyak terdapat warung makan tradisional khas Bali yang menawarkan menu spesial dari ikan laut atau seafood seperti ikan bakar dengan sambal pedasnya, pepes ikan laut, sate ikan laut yang berasa gurih dibalur sambal terasi pedas, sup kepala ikan kakap, sayur plecing, sambal mentah, sambal merah bumbu Bali, lengkap dengan nasi pulen dan es kelapa muda. Warung makan tradisional tersebut banyak terdapat di seberang pura dan menawarkan masakan khas Bali dengan harga terjangkau, lezat dan sehat. Terdapat areal parkir yang tersedia cukup luas di depannya seperti halnya area parkir di pura yang berlokasi di tepi pantai.
Daerah tujuan wisata ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara serta umat Hindu se - Bali yang hendak melakukan persembahyangan di pura. Kondisi ini terjadi terutama pada saat musim liburan dan hari raya besar umat Hindu.
Demikian kami menjelaskan secara singkat, semoga ada yang berminat untuk berkunjung ke tempat ini buat liburan atau melakukan wisata spiritual.
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.