article

Ketika Cinta Itu Datang

Ketika Cinta Itu Datang

Sisa musim panas tahun ini aku lewati perlahan. Malas menghabiskan malam, menangkap kerlip kunang - kunang, jalan - jalan setiap pagi, dan udara sore yang cerah bersama sepupuku menghabiskan waktu berdua di taman kota.

Aku ingin menceritakan tentang perasaanku saat ini bahwa aku sudah mulai tertarik dengan seorang pria bernama William. Aku mengenalnya sejak kecil, dia adalah temanku dimasa aku kecil dulu. Tapi aku juga mempunyai seorang teman dekat lain, sahabat manis namanya Daniel, dimana hubungan aku terhadap mereka berdua tidak sama. Sementara, aku punya seorang pacar serius, Justin. Aku berpikir, diantara mereka bertiga, siapa yang paling mengagumi aku ? Dan yang membuat aku selalu senang untuk bertemu, tapi juga aku sadari, perasaanku terhadap Daniel tidak sama dengan teman masa kecilku dan apalagi pacarku. Seolah - olah semua orang yang kutemui secara otomatis akan menjadi ukuran suatu hubungan yang menakjubkan. Tidak ada lagi yang membandingkan antara satu dengan yang lain.

Musim panas sudah pergi, dan kuliah pun dimulai. Aku berjalan di sepanjang lorong - lorong kampus dan mendesah, memikirkan Justin dan musim panas yang menakjubkan. Satu jam berlalu dalam kebosanan, akhirnya yang aku tunggu menelepon. Aku berdiri di depan kelas sambil asyik berbicara berdua, sesekali berpikir untuk diri sendiri tentang seberapa besar aku merindukan suara Justin. Malam itu, pertama aku berkenalan, usia kita baru 19 tahun. Aku benar - benar bisa peduli. Aku mencintainya persis seperti dia mencintai aku. Bersama - sama kami meniti hari berikutnya, dan hari berikutnya, dan hari berikutnya. Suatu malam, dalam pesta kampus, Justin bertanya apakah kita bisa bersama - sama lebih serius. Aku bilang ya, aku pikir ending kita pasti bahagia.

ads

Malam telah larut, aku termenung sendirian dalam kamar sampai tengah malam. Tiba - tiba aku kaget, telepon berdering. Cepat - cepat aku menjawab tapi senyap tidak terdengar apa - apa, jadi aku tutup telepon. Hal ini berlangsung beberapa kali. Akhirnya, dering terakhir, aku angkat, dan ada ia berbisik, halo. Aku mengenal dan mencintai suaranya saat aku mendengarnya. Ibuku terbangun, tapi entah kenapa aku meyakinkannya bahwa ada telepon yang salah sambung. Ibu kembali tidur dan aku turun ke tangga ruang bawah tanah. Ingatanku sempat melayang beberapa waktu silam, saat ada badai hebat melanda kotaku. Sejak itu, aku merasa paranoid untuk keadaan yang sama, berharap kedua orang tuaku akan mendengar, selalu menemani dan datang mencariku. Tetapi saat ini, aku sudah bisa beradaptasi untuk situasi buruk tersebut apalagi seseorang spesial sudah ada di sampingku. Kubuka kulkas dan mencari sesuatu yang dapat dimakan, beberapa butir anggur merah, sepotong permen cokelat dan sebotol susu segar. Kutarik kursi dan duduk sambil kedua kaki aku angkat di atas meja. Kami melanjutkan mengobrol di telepon. Justin hanya mengatakan, mengapa ? Lama mengangkat teleponku ? Kita seperti ninja sialan. Aku tertawa dan sedikit rileks. Kami berbicara selama hampir tiga jam, sampai sekitar jam 03:00 dini hari. Kami berbisik tentang apa saja dan segalanya. Ia melakukan penyamarannya dengan menakjubkan, dimana aksen Inggrisnya yang kental tidak terdengar lagi, yang saya benar - benar suka dari dia. Aku berjalan mondar - mandir, di luar hujan turun deras sekali, sesekali halilintar menyambar dengan keras. Dalam gelap di tangga, aku duduk dan melihat melalui kaca jendela, basah semua dan udara sangat dingin, aku merenung, aku sadar telah jatuh cinta dengan Justin. Satu jam lewat setelah percakapan hangat kami, kupikir Justin sudah tertidur dan di sini aku sempat menemukan hal - hal yang sangat lucu. Aku hanya berbisik selamat malam untuknya dan menutup telepon. Malam ini, aku tidak bisa tidur, seperti ada banyak kupu - kupu menari mengelilingi kepalaku.

Aku (Adina) dan mereka, kami bertemu dan kenalan secara online.

Kami dalam satu kelompok pertemanan, melakukan segala aktivitas di kampus, entah itu pesta kampus yang meriah atau hanya dalam ruangan internet. Saling berpegangan satu sama lain dan disetiap akhir pekan setelah lelah bergulat dengan diktat tebal, kami menghabiskan waktu dengan berbicara di telepon dan bila malam tiba, biasanya kami bertemu secara online dalam sebuah pesta kecil, dimana kami dapat saling berbagai dan mencari tahu kabar masing - masing lebih banyak lagi, karena beberapa dari kami beda kelas. William adalah yang paling menonjol diantara kita semua. Beberapa aspek hidupnya tampak sedikit tidak biasa tetapi ia tidak akan terlalu berlebihan dalam menganalisis situasi. Fakta bahwa dia telah menjadi seorang ayah dan duda diusia yang sangat muda, memiliki seorang putra dan seorang putri, yang kini mereka tinggal bersama kakek mereka di pinggiran kota Paris, sementara Willy tinggal disebuah apartemen sederhana, sendirian melanjutkan kuliahnya. Sejak perceraian mereka, ia dalam situasi yang berlawanan dan beruntung memenangkan hak asuh anak - anaknya sejak perpisahan dari istri pertamanya. Beberapa gadis teman online kami, dalam pantauanku, banyak yang suka dengan dia. Tetapi dia tidak pernah mengistimewakan keberadaan mereka, dimana mereka sangat aktif mempertanyakan hal - hal pribadi Willy yang memang terkenal paling ganteng di kelas kami, ditunjang kepribadian yang menarik, dan otak encer membuat percakapan online kami sedikit membosankan karena hanya tentang dia dan dia lagi.

Kegiatan kami berlangsung monoton, hari demi hari, hanya suasana kampus dan beberapa tambahan cerita keluarga besar di rumah.

Pada awal Juni 2004 Adina lulus, meski hasil yang didapat selama lima tahun kuliah dengan mengambil jurusan designer, tidak begitu memuaskan, mungkin terlalu banyak waktu terbuang bersama Justin. Tidak mengurangi kebahagiaan Adina dan teman - teman sepermainannya selama kuliah di Universitas Paris. Sebelum perpisahan bersama rekan kuliah yang lain, kami membuat photo bersama, dengan latarbelakang gedung kampus yang sangat megah. Didirikan tahun 1100. Pada tahun 1970, universitas ini terbagi menjadi 13 bagian, jadi ada yang namanya Universitas Paris I sampai Universitas Paris XIII. Universitas Paris ini biasanya disebut sebagai University of Sorbonne / La Sorbonne karena letaknya di kota Sorbonne, Perancis.

Aku selanjutnya membuat beberapa rencana mungkin akan pindah ke kota Sydney untuk memulai mencari pekerjaan baru. Tetapi ada satu momen terindah sebagai hadiah kelulusanku dari universitas ini, Justin mengatakan kepadaku bahwa kami akan segera melangsungkan pertunangan, berharap kami berdua dapat bersama - sama selama sisa hidup kami, mungkin juga hidup bersama setelah ini. Dia merasa sedikit tidak nyaman dengan ideku untuk pindah ke kota Sydney, sementara dia tetap di Paris, mungkin akan melanjutkan kuliah ke tingkat dua atau mencoba belajar sambil bekerja di perusahaan ayahnya. Seperti sebuah halilintar yang menyambar begitu cepat tapi dia dan aku memang sama - sama jatuh cinta sehingga aku hanya dapat berkata padanya bahwa itu adalah ide yang bagus.

Sebuah akhir yang menyedihkan untuk hubungan sedih. Aku akhirnya berangkat ke Sydney bersama 2 teman akrabku, William dan Daniel, meninggalkan Justin sendirian dengan musim dingin yang akan datang.

Adina bekerja keras berusaha untuk mendapatkan promosi dan akhirnya pada bulan Agustus 2011 ia menjadi seorang Manajer Pengembangan Produk Baru untuk rumah model pakaian pesta perancang terkenal Jhon Lewis, sehingga untuk bersaing dengan status baru, gaji besar ditangan, dia memutuskan membeli sebuah mobil baru dan setelah 3 tahun berlalu, ia akhirnya mendapatkan semua yang diimpikannya selama ini. Dia menjadi sosok gadis yang workaholik, kurang tertarik pada tugas - tugas rumah saat ia menghabiskan lebih banyak waktu di tempat kerja dan menciptakan jarak terutama dengan Justin di Paris. Sebuah argumen kecil akhirnya membuat percikan api, Adina dengan meneteskan air mata memberitahu Justin bahwa kita tidak bisa hidup bersama lagi dan mereka harus mengakhiri hubungan ini sekarang.

Keesokan harinya, Adina merasakan sedikit penyesalan telah melakukan tindakan bodoh, apa yang dia lakukan telah membuat dia tidak tertarik terhadap yang namanya keindahan cinta, apalagi sebuah pesan singkat ditinggalkan dalam mailbox handphone Justin bahwa ia tidak bisa mencintai lagi, dan bahkan dia tidak punya perasaan apapun pada pemuda itu. Justin sangat terluka tapi tidak bisa mengerti mengapa seperti ini, jadi apa sebenarnya yang ia inginkan untuk waktu yang lama dari pertunangan mereka lima tahun silam ? Adina bukannya bodoh membiarkan suasana ini berlalu begitu saja, jadi saat dia tersadar, dia buru - buru berusaha untuk memenangkan kembali pertengkaran itu, tetapi dia membuat jalan berbeda dari seharusnya sebuah keputusan penting diambil yaitu dia justru tertidur dan akhirnya membiarkan semua berlalu, entah apa yang akan terjadi, sampai menyadari bahwa hubungan mereka berdua telah benar - benar akhirnya berakhir.

Tak tahan menyimpan sendiri, Adina berbagi cerita rahasia ini kepada kedua kawan karibnya di kota ini, mereka berdua sudah seperti saudara bagi dia dimana apa pun yang terjadi, senang atau susah, mereka berdualah yang pertama tempat dia selalu berkeluh - kesah.

Pada hari Jumat tanggal 22 Oktober 2010, William dengan tegas menyelesaikan masalah antara Justin dan Adina yang terkatung - katung. Dia sempat bertemu sebentar dengan Justin di Paris, sebelum akhirnya Justin benar - benar menghilang dari kehidupan mereka dan sepertinya keluarga Justin pun enggan memberitahu kepada mereka dimana anak mereka sekarang. Willy menyarankan kepada Adina untuk satu kesempatan emas terakhir, menunjukkan kepadanya bahwa ia masih memiliki beberapa kesopanan yang tersisa didirinya dan bahwa dia harus mengucapkan 3 kata - kata yang seharusnya dia katakan saat pertama memulai menyulut api, Aku minta maaf. Tetapi kelihatannya Adina tak bergeming sedikit pun dengan saran Willy, malah lagi - lagi dia membuat keputusan yang berlawanan yaitu menyusun sebuah rencana untuk mengambil cuti panjang ke luar negeri.

Sampai pada beberapa hari kemudian, gadis itu mendapat sebuah pesan singkat dalam handphonenya, dari nomer tak dikenal. GOODBYE ADINA !

Adina dalam suasana menyenangkan saat menikmati liburan panjang.

Pantai Kuta sangat terkenal dengan keindahan sunsetnya, pantai ini terletak  di kabupaten Badung pulau Dewata Bali, Indonesia. Pantai Kuta merupakan kawasan wisata yang paling ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara dan merupakan obyek wisata andalan pulau Bali sejak dulu. Selain untuk berjemur bagi wisatawan mancanegara seperti aku, juga bisa menikmati massage yang ditawarkan penduduk lokal , bermain atau belajar surfing, mencoba tatto temporary dan kegiatan lainnya. Sore menjelang malam, aku duduk melamun di pinggir pantai, asyik menikmati sunset, matahari tenggelam berwarna keemasan, menambah indah nuansa alam karya Maha Dewa.

Aku masih merasa sedikit patah hati, tetapi menikmati aneka paket wisata liburan di pulau yang tenang ini mampu menyembuhkan luka hatiku. Apalagi dalam perjalanan Paris Denpasar, aku sempat berkenalan dengan seorang pemuda bernama Gerald. Kami sama - sama berasal dari Perancis hanya beda kota dan dia adalah seorang guru musik disalah satu sekolah yang ada di kotanya. Kami cepat akrab dan berdua menghabiskan liburan manis ini. Tidak ada yang spesial terjadi, kami hanya berjalan - jalan di sepanjang pantai Kuta layaknya sepasang kekasih untuk mereka yang lalu lalang dan tidak mengetahui privasi kami masing - masing.

Sebulan telah berlalu dan aku kembali ke Sydney untuk melanjutkan beberapa tugas yang sempat terbengkalai karena cuti dan masalah pribadiku.

Desember yang indah.

Santa Claus is coming to town. Natal dan tahun baru sudah di depan mata. Paris adalah surga yang tepat untuk menghabiskan Natal bersama mereka yang terkasih. Rintik salju dan udara yang menggigit kulit tak menghalangi suasana kudus di kota ini. Bersama dentang malam lonceng gereja yang ada di pusat kota, aku dan Gerald mengikat janji untuk berdua menjalani hidup, saling mencintai dan mengasihi sampai ajal memisahkan.

Tiba - tiba, diantara gelak tawa pesta pernikahan kami, seseorang dengan wajah yang tak pernah berubah masuk ke ruang pesta dan melangkah dengan pelan menuju kearahku sambil memegang segenggam buklet mawar warna pink. Justin ! Tubuhku sedikit kaku, tetapi Justin dengan sigap mencairkan suasana yang kurasa beku seketika. Apalagi Gerald tidak pernah mengetahui dan tidak mau tahu tentang kehidupan dimasa laluku. Kami saling berjabat tangan erat, matanya masih hangat seperti dulu masa - masa indah kami lalui bersama tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, hanya ucapan tulus, selamat menempuh hidup baru untuk kebahagiaan kami berdua. Setelah itu, dia berlalu dengan cepat keluar dari ruangan pesta, berjalan tergesa - gesa menembus rintik salju di tengah malam kota Paris, menghilang dikerumunan orang - orang pinggir kota dengan beragam urusan mereka masing - masing.

Aku merasa ada yang hilang dalam hatiku, apalagi berita terbaru yang kudengar, Justin masih sendiri. Di balkon ini aku merenung, memandang ke dalam ruang pesta, dimana Gerald sibuk dengan teman - teman kami, juga ada William bersama kedua putra - putrinya dan pacar barunya, Sarah seorang mahasiswi disalah satu universitas ternama di kota ini, juga si cuek Daniel. Mereka semua asyik dalam pesta pernikahanku. Entah. Tapi kuberharap semoga pernikahanku langgeng adanya dengan Gerald disisiku yang akan menemani hari - hari indahku ke depan.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads