article

Symphony Seorang Bintang

Symphony Seorang Bintang

Maia sedikit berjingkrak menaiki dua anak tangga sekaligus, dan mencoba yang terbaik untuk mimik wajah yang akan diperlihatkan nanti sesampainya di ruang atas. Dia menyadari bahwa sahabat - sahabatnya di lingkungan informal telah menyatakan dia gila sekarang, apakah karena mereka sering memergoki dia berbicara dan tertawa sendiri. Dia tidak akan mengambil sedikit pun kebijaksanaan untuk mengubah pendapat mereka. Tapi sekarang, dia lebih suka menyendiri, jarang berkumpul lagi dengan mereka hanya untuk acara – acara informal bahkan chatting lewat komputer pun enggan dia lakukan, bahkan pertanyaan – pertanyaan menyelidik dari mereka yang wajib untuk dijawab pun tidak dia gubris. Hari ini, dia ingin benar – benar sendiri. Sebab, saat ini dia lagi bahagia.

Tanpa suara, ia berjinjit masuk ke kamar tidurnya, menutup kembali pintu secara perlahan – lahan. Dia membuka tas tangannya dengan hati – hati, mengobrak – abrik isinya sebentar seperti berharap menemukan sesuatu di dalamnya. Sementara di lantai bawah, ada sekelompok besar orang – orang sepertinya dengan sengaja membuat kebisingan, jadi dia sedikit berhati - hati untuk tidak terlalu memperlihatkan kegembiraannya. Dia menunggu dengan sabar sampai jari - jarinya menyentuh salah satu benda di dalam tas tangannya. Dengan sigap, ia menarik keluar. Sebuah kunci mungil, bergegas dia memasukkan ke kait pintu almari pakaian, membuka lalu mencari sesuatu tanpa menimbulkan sedikit pun suara dan menutup kembali pintu itu sebelum orang – orang di bawah menyadari kehadirannya disini.

Kamar ini tidak ada perubahan samasekali. Persis seperti saat pertama dia meninggalkannya. Beberapa cangkir bekas minum terbengkalai di meja, menimbulkan bau apek dan surat kabar terbitan lama berserakan di lantai, terbuka seperti mengungkapkan kisi – kisi hati yang hendak bercerita panjang lebar. Dia tersenyum untuk jiwa dan perasaannya saat itu yang diketahuinya, rumahnya akan mengungkapkan dirinya lebih baik daripada kata - kata yang bisa meruntuhkan semangat. Dia mulai masuk ke kamar mandi, masih bersih. Beberapa produk kecantikan yang sempat dia beli tadi pagi di sebuah toko kecil dekat rumah, dia buka untuk menemani kegiatan mandinya malam ini.

ads

Bau sampho herbal, busa lembut sabun Tazakka, bercampur dengan aroma kaporit air ledeng dalam kamar mandi kecil ini. Fabindia Roll On Parfum mengakhiri kegiatan memanjakan tubuhku, keringat kotor  telah hilang dan aku tersenyum dalam kesegaran udara malam. Aku bersiap – siap untuk istirahat.

Pagi yang cerah !

Telepon berdering nyaring, mengejutkan Maia yang masih dalam setengah tidur dan setengah lamunan membuat dia sedikit lupa untuk segera mengangkat dan menjawabnya. Ini tidak biasanya, ia akan bergegas untuk mengambilnya, tapi pagi hari ini, rasa berprestasi tinggi telah menghilang dan diganti dengan sedikit rasa yang agak aneh. Dia tersenyum pada dirinya sendiri, melangkah pelan – pelan ke meja telepon dan mengangkatnya dengan keyakinan yang tenang. Diri tidak terpengaruh dengan hasrat yang cepat dan perasaannya sudah memerah bahkan sebelum ponsel menempel di telinganya.

“ Halo! “ Suara itu sedikit bergetar. Ini seperti salam pembuka yang berlebihan. Tapi dia belum memperoleh keyakinan kuat diri sendiri dimana seharusnya seorang perempuan lakukan dalam menangani orang yang mereka cintai. Mungkin karena hari masih terlalu pagi dan dia baru bangun dari mimpi – mimpi tak jelas kemarin malam. Dia sudah biasa mendengar kata - kata seperti “ baby “, atau “honey” seperti diobral sepanjang waktu, tapi dia belum mulai menggunakan kata – kata tersebut dalam percakapan saat ini. “ Jadi, bagaimana hasilnya semalam ? Aku yakin kita dapat melanjutkan lagi sekarang, mungkin dengan jalan – jalan bersama sambil memilih menu untuk sarapan pagi ! “ Suara bariton di ujung sana sedikit melembut.

Maia sangat mengenal suara ini, dan dia menduga pasti pria itu ! Seperti seorang penggemar fanatik terhadap aktor favoritnya. Empat tahun yang lalu, ketika ia pertama kali berkenalan dengan pria ini dan benar - benar telah mengejutkannya karena dari perkenalan biasa menjadi sebuah hubungan yang sangat dekat.

Suara bariton, renyah dan jantan, sudah terlihat top diantara suara – suara yang lainnya memekakkan telinga.  Waktu itu adalah acara festival dan lomba lagu bertema cinta kategori remaja dari kelompok warga negara asing. Aku kebetulan sedang menikmati liburan musim panas di kota ini dan menyempatkan diri untuk menonton acara tersebut. Sambil menikmati pelabuhan Sydney yang permai, dengan gaya hidup alam bebas yang menantang serta keindahan alam yang memikat. Berkayak di bawah jembatan Sydney Harbour Bridge atau melambai – lambaikan pikiran dan hobi ke Opera House dan saat naik kapal feri untuk menyeberangi pelabuhan menuju kota Manly. Belajar berselancar di pantai Bondi Beach atau berenang di tengah perairan Coogee yang tenang. Jelajahi jalanan batu buntu di The Rocks atau di pasar, butik, kafe dan pub di Paddington. Selain pelabuhan yang ternama di dunia serta lebih dari 70 pantai yang berkilauan, Sydney menyediakan santapan yang nikmat, festival serta kemeriahan tiada henti, salah satunya festival lagu tadi, yang menyebabkan aku berkenalan dan menjadi salah seorang teman gadis terbaiknya. Dia adalah Mark, seorang laki – laki cukup tampan, berkulit gelap dan memiliki postur tubuh gagah dan tinggi.

” Tentu saja ! Anda tahu betapa pentingnya pertemuan ini bagi saya, “ jawabku, aku membayangkan dia tersenyum. “ Ceritakan lebih banyak ! Apakah Anda bisa menemani saya untuk melihat kelas baru untuk musik klasik di salah satu ruang gedung Opera House ? “ Aku sangat antusias mendengar tawaran menarik ini, mungkin aku akan bertemu dengan beberapa anggota paduan suara baru atau seorang guru baru teman lain Mark ? “ Ceritakan semua tentang hal itu! “ Mark sibuk mengoceh, sementara aku membayangkan gaun mana yang akan aku pilih untuk menemani dia menghadiri konser musik sebentar lagi.

Aku bergegas turun ke lantai bawah, keluar dari apartemenku, berjalan dengan sedikit berlari menuju lorong terdepan dimana seorang laki – laki gagah usia 42 tahun dengan pakaian santai berdiri menanti kedatanganku disebelah mobil mewahnya. Dia kelihatan sangat bersemangat, terpancar jelas penuh kebahagiaan dalam siluet keras wajahnya. Dia menyapa aku seadanya dan memperlakukan aku bak seorang “Lady”. Dia lupa bahwa aku adalah hanya seorang gadis biasa berusia 26 tahun. Tetapi aku sangat menikmati momen indah ini.

Gedung Opera House Sydney di Sydney, New South Wales adalah salah satu bangunan abad ke - 20 yang paling unik dan terkenal. Gedung ini terletak di Bennelong Point di Sydney Harbour dekat Sydney Harbour Bridge dan pemandangan kedua bangunan ini menjadi ikon tersendiri bagi Australia. Bagi jutaan turis yang datang, gedung ini memiliki daya tarik dalam bentuknya yang seperti cangkang. Selain sebagai objek pariwisata, gedung ini juga menjadi tempat berbagai pertunjukkan teater, balet, dan berbagai seni lainnya. Gedung ini dikelola oleh Opera House Trust dan menjadi markas bagi Opera Australia, Sydney Theatre Company dan Sydney Symphony Orchestra. Desainnya didapat dari sebuah kompetisi yang dimenangkan oleh Jørn Utzon dari Denmark pada tahun 1955. Utzon sendiri datang ke Sydney untuk supervisi pada tahun 1957.

Kami tiba disini tepat pukul sepuluh pagi. Suasana ramai oleh pengunjung usia muda maupun dewasa, lokal maupun turis manca negara. Kami buru – buru masuk ke dalam gedung, setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman buat aku, Mark permisi sebentar ke belakang layar untuk keperluan pribadi dengan teman – teman dalam grup band musiknya. Sebuah paduan suara anak – anak muda dari Universitas Sydney ikut hadir memeriahkan acara ini. Mereka tampak muda, enerjik dan penuh semangat untuk mengikuti lomba.

Namun, lamunanku tiba – tiba pecah karena seseorang dari belakang menepuk punggungku dan saat aku menoleh, mataku tertuju pada seorang gadis kira – kira seusiaku, cantik, kelihatan ramah dan supel, anggun dalam balutan hijau gaun pesta yang sederhana. Ava adalah rekan kerja baru Mark, dia seorang guru musik baru disini khusus memberi pelajaran pada teknik bermain biola yang manis. Ava seorang gadis blasteran Australia – Singapura tetapi memiliki postur tubuh tinggi semampai dengan kulit kuning langsat seperti gadis – gadis India pada umumnya.

Kami bertiga cepat menjadi akrab, tetapi profesi menyebabkan perbedaan besar terjadi antara aku, Mark dan Ava. Diantara ratusan pengunjung, akhirnya aku memisahkan diri, kebetulan di ruang sebelah ada pameran lukisan dari manca negara, jadi aku memutuskan untuk memilih kesana saja mengisi waktu tersisa dan sangat membosankan. Mark tidak perduli !

Sambil menikmati lukisan dari berbagai aliran, sesekali mataku mengintip dua pasangan yang mungkin oleh orang – orang tak mengenal mereka, pasti mengira itu dua pasang kekasih. Aku memang dekat sekali        dengan      Mark,  kadang – kadang teman – temanku mengolok – olok,  “ Kalian pasangan yang serasi !” dan itu membuat wajahku bersemu merah. Andai mereka tahu kalau hatiku penuh tanda tanya akan hubungan yang tidak jelas ini. Namun saat ini, aku seperti terbakar api karena malu yang amat sangat. Ingin kabur saja ketika melihat mereka sekali lagi asyik berbicara, sesekali diselingi canda tawa yang sangat romantis, pikiran dan renungan berbaur bersama - sama membuat satu beriak, mengalir dan akhirnya pecah. Hari ini, Maia akhirnya mengakui telah mengambil langkah pertama yang salah ke dalam lorong - lorong suci perasaan hatinya, rasanya seperti dia ingin ada seseorang yang memeluknya erat.

Cinta mati ! Tidak mungkin ... ! Apakah lagi ini sebuah mimpi buruk ? Atau sedang musim berburu seorang ksatria ? Kecurangan aku adalah saat melihat mereka berciuman liar ?? Aku tidak yakin kali ini  ... Karena, sudah membuat pikiranku seperti sebuah pulau terbakar hebat dan aku harus segera mengakhiri ini ! Bisikan – bisikan ajaib yang terdengar sangat aneh ... Kenapa aku harus menyebut ini ajaib ? Karena semua menjadi palsu, ini hanya seperti sebuah penipuan, dua mata yang sangat indah ... menggoda lalu memukul – mukul keras kepalaku ! Itu adalah sebuah keputusan yang keras dari bibir cantiknya, aku berpikir mereka sudah pasti sepasang kekasih ! Itu cukup keras menampar kedua pipiku, lalu aku memutuskan untuk berlari keluar gedung dan mendapatkan taxi, aku hanya ingin segera sampai di kamarku yang nyaman.

Satu bulan berlalu.

Tunggu ... Apa yang telah aku lakukan ? Mengapa aku berbicara dan mengenang semua ini ? Tentu aku sangat membencinya. Tapi beruntung aku menemukan tempat untuk menumpahkan semua kebencian apapun dalam kata – kata yang kucoret – coret dengan kasar di selembar kertas putih ... kebencianku telah ditutupi dengan kabut cinta yang terlalu besar ... Ada apa lagi sekarang ?

Laki – laki itu datang dan mencoba menghubungi aku sekali lagi  setelah badai keras menghantam hubungan kami satu bulan yang lalu.

Apakah aku masih bisa memeluk boneka tercinta yang selalu menemani tidur dan mimpi – mimpiku setiap malam ? Ataukah ini hanya mimpi dan menjadi bayangan  mengerikan yang aku ciptakan sendiri ? Apakah aku dapat melihat sebuah kebenaran atau aku hanya melihat nasib tak tentu saja ? Sebenarnya, aku tidak bisa memahami apa yang terjadi padaku ….... tapi aku bisa merasakan beberapa perasaan aneh itu muncul lagi, menyergap sisi positif dari hatiku ……... Maia memberanikan diri melihat matanya, basah oleh air mata, satu hal yang bisa aku lakukan ketika itu adalah mengakui bahwa aku benar - benar terluka. Hatiku mendidih, mendorong aliran darah, vena dan arteri untuk bergerak lebih cepat dan lebih cepat lagi, seperti aku telah menunggu satu hasil sekali lagi dalam hidup.

Bagi aku, hal ini bukanlah teraneh lagi dalam hidup meski baru pertama kali aku alami. Ada sedikit senyum di bibirnya    ... Tapi aku yakin itu bukan senyum tulus dari hati, melainkan hanya senyum menempel terpaksa di wajahnya ... Lalu bersama gelapnya malam, dia menghilang setelah itu !

Gadis cantik, dosen muda dan seorang pemain biola yang handal, Jennifer Ava telah memilih untuk meninggalkan Mark seperti seorang perempuan yang menyesali hidup karena harus memilih jalan yang salah. Malam ini, tepat pukul sembilan nanti, aku berencana akan mengantar Ava sampai di bandara internasional Sydney, akhirnya semua berlalu, Ava memutuskan untuk melanjutkan hidup, cinta dan karirnya di luar negeri saja. Dia kembali ke asalnya, sebuah kota kecil di Singapura. Dari lantai bawah bandara, kulambaikan tangan tanda perpisahan dan mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kami karena aku juga berencana akan menyusul Ava untuk memulai hidup, cinta dan karirku di kota lain saja atau keluar negeri. 

Sebuah pesan singkat masuk ke mail box handphoneku. Aku membaca sekilas …… bahkan hati ku pun tidak bisa lagi untuk memberi sepatah dua patah kata, untuk satu pertanyaan aneh yang dia memohon dengan amat sangat agar aku segera memberikan jawaban ! Dan itu tidak bisa aku lakukan !

Angin musim dingin menampar halus mukaku, bergegas aku menuju pelataran parkir bandara, lalu masuk ke dalam mobil dan perlahan – lahan mengendarainya untuk keluar dari areal bandara. Seperti kisah cinta unik ini telah berakhir untuk selama – lamanya.

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads