article

Sebuah Cerita Dari Seorang Sahabat

Sebuah Cerita Dari Seorang Sahabat

Seseorang mengetuk pintu kamar, ibu berdiri sambil memegang sepucuk surat. Aku buru - buru mengambil, kulihat sampul belakang amplop, dari Kristin di Victoria. Sepucuk surat dengan sampul warna merah muda, bau parfum yang lembut tercium dari amplop ini. Aku tidak sabaran untuk segera membuka isinya, sudah hampir tiga tahun sejak Kristin memutuskan pindah ke luar negeri untuk ikut ayahnya yang bercerai dari bundanya. Setelah selesai urusan sidang dan beberapa masalah pribadi, mereka berangkat ke negeri asalnya di Florida. Setahun kemudian kudengar Kristin melanjutkan studi ke Australia, dimana aku ikut dan kita sama - sama satu kampus.

Sambil duduk menonton TV di kamar tidurku, perlahan kubuka surat ini dan mulai untuk membacanya, tidak ada yang istimewa, hanya cerita biasa dan kupikir wajar karena Kristin cantik, pintar dan kaya. Dengan segudang kelebihan yang dimilikinya, dia mendapat banyak kesempatan emas untuk memenuhi segala impiannya dimasa muda.

Sekitar sebulan yang lalu saya memulai sebuah petualangan, pengalaman unik yang saya tidak pernah berpikir bahwa akan terjadi seperti itu : saya pertama kali menginjakkan kaki di Eropa. Tujuan pertama saya adalah Jerman, saya mengambil bagian dari sebuah forum mahasiswa/wi internasional yang disebut ISWI, yang merupakan cara yang paling baik daripada yang pernah saya harapkan, bayangkan saja, lebih dari 400 orang muda, dan mahasiswa/wi pascasarjana dari seluruh dunia, dan ketika saya mengatakan seluruh dunia, percayalah kepada saya, bahwa ini benar - benar yang saya alami ! Ada peserta dari Meksiko, dari Indonesia, Belarus, Estonia, Rusia, Sri Lanka, Vietnam, Kamboja, Kenya, Togo, Kolombia, Argentina, Afrika Selatan, Palestina, Iran, Azerbaijan, Georgia, Kyrgyzstan, Argelia, Chili dan banyak lagi. ISWI (dalam satu acara yang digelarnya) mengambil lokasi dalam sebuah kota kecil yang disebut Ilmenau, yang merupakan daerah dekat Pasifik, indah dan tempat yang bagus.

ads

Dimana hampir 40% dari orang - orang yang tinggal di sana adalah mahasiswa. 9 hari mengambil bagian bersama dengan ISWI adalah seperti sebuah mimpi. Kami memiliki banyak peristiwa di ISWI : peristiwa akademis, acara budaya, touristik perjalanan dan jelas pesta ! Pesta ISWI itu benar - benar gila, setiap hari kita mengadakan pesta baik itu di klub dan atau di apartemen.

Suatu hal yang sangat lucu dari klub adalah ada 4 klub di kampus yang ikut serta dalam memeriahkan pesta ini. Pesta diadakan dimasing - masing gedung yang berbeda, dan nama klub kami adalah singkat : BH, BC, BI dan BD, masing - masing disebuah gedung besar dengan banyak ruang : H, C, I dan D.

Saya akan berbagi dengan Anda pengalaman yang terbaik dari ISWI : Holi Fest, yaitu perjalanan ke Kastil Eisenach dan The International Brunch. Pertama ...... sebuah festival dimana orang dari berbagai negara berbagi dengan orang lain sesuatu yang berbau tradisional yang berasal dari negara mereka, seperti makanan, souvenir, budaya, pengobatan dan lain - lain. Ketika kami tiba disana, saya merasa semua peserta dilanda emosi, entah karena perasaan rindu akan negeri masing - masing karena ada banyak kegiatan yang mengingatkan kita akan rumah, seluruh energi seperti ikut bermain, mengobrol, tertawa, bernyanyi bahkan menari, juga ada sekelompok acara dimana kental akan cerita - cerita, sejarah dan budaya umat Nasrani diseluruh dunia.

Aku berhenti sejenak membaca surat dari sahabatku. Dengan kaki ringan aku melangkah menuruni anak tangga menuju ke dapur. Ibu menyediakan sesuatu yang istimewa di meja makan. Sepiring Brownie Cheesecake Bites yang lezat. Aku membuka kulkas, udara sejuk menampar mukaku. Sebotol orange jus dingin menambah nikmat cemilan di siang hari ini.

Tapi.

Bagian kedua surat Kristin agak mengejutkan aku !

Saat keluar dari Kastil Eisenach, saya dan beberapa teman - teman dikejutkan oleh sekelompok orang - orang yang berteriak di sepanjang jalan, tepat saat itu tanggal 14 Juni, tidak ada polisi, jadi semuanya OK. Para pengunjuk rasa itu berjejer di taman yang sangat luas, mereka memberi kami souvenir sebagai aksi protes mereka terhadap yang tidak mereka setujui (saya sendiri tidak mengetahui pokok permasalahannya apa karena selama di hotel kurang begitu menonton acara TV yang kebanyakan mengulas masalah dalam kota, dari politik sampai ke kriminalitas biasa, jadi saya lebih tertarik dengan chanel pribadi yang disediakan hotel tentang pariwisata di kota kecil ini atau hanya sekedar menonton MTV saja) bisa Anda percaya ? Dan mereka sangat bagus dalam menyuarakan suara hati mereka, dimana kekerasan tidak ada, hanya teriakan - teriakan dan yel - yel di tempat  - tempat strategis yang banyak pengunjung terutama turis asing !

Karena berlangsung lama, beberapa kelompok lain turun membantu, mereka memberikan makanan, air, masker gas dan hal - hal lain secara gratis. Pada hari ke - 2, situasi kota sedikit aman, jadi saya berani memisahkan diri dari kelompok kami. Saya ingin menikmati pemandangan laut, memesan sebuah feri untuk melihat - lihat cantiknya teluk Istambul, jadi saya pergi berjalan - jalan untuk menemukan sebuah taksi, lalu berencana menuju ke pelabuhan untuk mendapatkan ferry/sejenis kapal pesiar kecil. Tapi ada yang terjadi ? Takdir hanya muncul begitu saja dan tinggal di sana saat kita berani melewatinya. Pengalaman yang paling intens dalam perjalanan saya mengelilingi setengah belahan dunia Eropa, tiba - tiba gerombolan pengunjuk rasa muncul di depan saya, saya ketakutan setengah mati, lalu berlari secepat mungkin menjauh dari pusat kerusuhan, saya pergi dekat Gezi Park, berjalan ke depan ke alun - alun Taksim berharap ada taksi di sana untuk segera membawa saya kembali ke hotel. Di tengah - tengah alun - alun Taksim dan Gezi Park, 15 menit sebelum saya melihat polisi disemua jalan utama dalam formasi siaga, tetapi ketika saya memasuki alun - alun, mereka akhirnya bringas mengimbangi kebrutalan pengunjuk rasa yang mulai gelap mata.

Polisi mulai maju ke alun - alun dan di sekeliling taman, ada banyak orang di dalam taman dan juga alun - alun, saya pikir sama seperti saya dalam keadaan penuh ketakutan, sementara para pemrotes terus berkampanye, berjalan dan melakukan protes di sana - sini, dari sini kerusuhan lebih keras dimulai. Polisi dengan banyak alasan dan sedikit kewalahan menangani perusuh yang mulai gila itu akhirnya melemparkan bom gas air mata ke taman dan alun - alun, itu sangat mengejutkan untuk dilihat, bahkan dari jarak lebih dari 30 meter dimana beberapa bom diledakkan, suara dan pekikan perjuangan mereka semakin liar. Pengunjuk rasa berjalan, berteriak -  teriak dan mereka sangat menderita akibat racun gas air mata, saya merasa benar -benar mengerikan, sulit untuk bernapas dan saya batuk - batuk selama hampir 3 menit tanpa berhenti. Kerusuhan ini berlangsung hampir tiga jam lamanya dan saya bersama mereka terjebak dan berlindung di toko - toko souvenir terdekat. Menjelang sore, suasana kota aman kembali. Saya baru berani keluar dan beranjak menuju hotel.

Setelah perjalanan panjang kami di kota Ilmenau, yang indah ini, rombongan kami selanjutnya menuju ke Los Angeles tepat pukul 6:30 sore pada tanggal 18 Juni. Merupakan tujuan akhir dari perjalanan panjang saya. Bagi saya hidup adalah sebuah perjalanan antara tempat dan saat yang tepat, bepergian merupakan bagian dari kehidupan kita yang harus diwujudkan.

Hanya saja, saya lupa sekali membelikan oleh - oleh buat kamu, Aiden. Karena terlalu sibuk dengan kegiatan bersama kelompok, bahkan keluarga di rumah pun tidak saya bawakan apa - apa. Saya hanya ingat untuk menulis surat ini di dalam pesawat, lihat kan tulisannya sedikit amburadul, dan saat transit di LA nanti, saya sempatkan untuk pos surat ini.

Dan kita berjanji ya, musim semi ini bertemu di Victoria untuk kelas selanjutnya, kita akan jalan - jalan lagi ke cafe untuk sepiring Panna Cotta ditambah seporsi Prosciutto dengan taburan keju Mozzarella yang yummy dari langsung buatan tangan nyonya Laura tentu ditambah secangkir capucino hot !

Atau saya mendengar ada restoran mewah baru dibuka, Jewel of The Park letaknya di tengah - tengah suasana ramai kota Victoria dimana kita dapat bersama - sama menikmati makanan favorit khas India, dijamin kamu pasti senang.

Kristin mengakhiri membaca suratnya yang panjang dengan disertai sebuah salam terindah diakhir cerita. Tertempel di kertas surat yang berbau parfum harum, sebentuk bibir mungil berwarna merah, aku tahu itu adalah lipstick favorit dia. Kulipat surat ini dan kumasukkan ke dalam amplop, kuletakkan di atas meja belajarku.

Aku menghembuskan nafas dalam - dalam, dia masih sehat sementara di sini aku membaca koran tentang beberapa kejadian mengerikan di tempat â tempat wisata terkenal dunia dimana pengunjungnya selalu ramai. Tetapi rupanya Kristin berhasil meloloskan diri dari pengunjuk rasa yang dimana - mana semakin membrutal.

Hari beranjak petang, aku siap - siap untuk memanjakan tubuh ini, penat seharian tanpa aktifitas apa karena ini masih dalam waktu liburan panjang. Mandi dengan shower air hangat dan perlengkapan ala spa di salon - salon mewah dimana ibu selalu menyediakannya buat aku, hmmmmmmmmm ! Selanjutnya, aku tidak mempunyai rencana apa - apa selain segera membenamkan tubuh dan wajah ini ke atas kasur lalu berusaha memejamkan mata, berpikir tentang sahabatku yang masih dalam perjalanan pulang dari studi turnya, tentu ada beberapa cerita rahasia yang masih dia simpan untuk nanti bersama - sama kita bagi di kampus.

Diluar, malam semakin kelam.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads