article

Boulevard Of Broken Dreams

Boulevard Of Broken Dreams

Sudah dua tahun sejak Violet Morgayne berjalan jauh meninggalkan kota kelahirannya di Watford London, teman - temannya, masa depannya, dan yang paling penting adalah belahan jiwanya, Lincoln Padraig yang memilih untuk menikah dengan gadis Belanda Cacey Alexavier karena kedua orang tua Lincoln menghendaki adanya pernikahan bisnis dalam grup perusahaan Padraig hanya bersama dengan rekan kerja mereka saja. Bagaikan sekelebat malaikat dan semerah jantung manusia, akhirnya Violet bertekad untuk bisa keluar dari lingkaran setan, berdiri sendiri dan menyelamatkan kehidupan pribadi yang teramat dia cintai.

Hidup dalam selembar selimut tipis dan dinginnya keabadian jiwa seorang gadis belia, dia mencoba untuk bertahan dari hari ke hari sebagai sosok baru seseorang dimana dia bisa menaruh hormat, Nona Ackley Grigori adalah type seorang wanita bertangan besi sebagai pengelola restoran tempat dia bekerja yaitu restoran bergaya Jepang kuno, Yakiniku berdiri dengan anggun tepat di jantung salah satu kota kecil Hamilton yang ada di Victoria. Hari – hari Violet di sini sangat menyenangkan. Sebuah restoran modern namun tetap mengusung konsep suasana pedesaan yang asri dan kental. Dengan sebuah pintu kaca besar merupakan pintu masuk utama ke dalam ruang restoran yang mewah dan elegan, diharapkan para pengunjung restoran merasa nyaman dalam pelarian singkat dari keramaian kota ke suasana pedesaan. Di dalam ruangan, terasa sekali Anda seperti berada di sebuah desa terpencil yang ada di Jepang yaitu desa Nagoro. Sebuah taman juga berlatarbelakang negeri Sakura, luas dan santai diciptakan oleh seorang desainer landscape Jepang terkenal yaitu Seijun Nishihata, menambah tampilan memukau bagi restoran ini. Alunan musik santai dari ruangan dalam restoran, menciptakan kondisi relaxed, nyaman, sehingga akan membuat Anda seperti berada dalam lingkaran the great escape.

Tapi ketika pengunjung yang tak terduga muncul di pintu, Jace D’or seorang sahabat kecil Violet semasa mereka bersama – sama menjalani kehidupan di masa lalu nun jauh di kota London, dengan membawa sebuah kabar berita tentang seseorang yang dia pernah bersumpah untuk mendampingi hingga napas terakhir tanpa ada pilihan lain. Lebih buruk lagi, dia takut bahwa ini semua mungkin akan mengarah kembali ke malam dia mencoba berpaling dari situasi sulit untuk melupakan dia.                                                                                                                      

ads

Dua gadis cantik sedang menikmati makan siang mereka di sebuah restoran cepat saji, Mc. Donals, Violet dan Jace. Ada Fresh Side Salad, Big Mac gurih, Chicken Mc. Nuggets yang crispy,  Roast Coffee dingin, dan Baked Apple Pie sebagai hidangan penutup makan siang mereka.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah percakapan yang serius, Jace bercerita tentang sebuah kabar buruk terjadi di Watford London, bahwa Lincoln telah lama tiada karena mengalami sebuah kecelakaan maut dalam perjalanan mereka dari New York ke Belanda. Peristirahatan terakhir Lincoln ada di pemakaman St. Michael terletak pada wilayah Queens di New York City.  

Aku merenung tentang sebuah kematian seseorang yang pernah dekat dengan kita meski berakhir tidak menyenangkan, Lincoln Padraig dan istri tercinta Cacey Alexavier. Tanpa tertancap satu tiang bendera sebagai tanda atau sebuah kabar dari kicau beberapa burung gereja. Hadir di celah – celah indahnya suasana pagi dan gelapnya malam yang sebentar lagi tiba, di sela tarik dan desah napas kekhawatiran, dalam ujung - ujung waktu yang pernah kami lalui tanpa detak juga pangkal dalam sudut ruangan yang tiba – tiba pengap tanpa setitik cahaya penolong.

Bahwa Tuhan telah memberi kita selembar kertas berisi garis - garis tebal sebuah peringatan terhadap wicara kuasa yang tidak akan pernah bisa tersentuh sekalipun oleh tangan – tangan malaikat kecil penolong, atau sesuatu yang halus dan sekecil apapun. Kemudian desau angin dalam geliat - geliat nyawa yang dititipkan Tuhan kepada alam semesta, bersediakah bila Tuhan memintamu untuk pulang ? Aku menundukkan kepala sejenak berdoa untuk ketenangan Lincoln dalam istirahat terakhirnya di langit biru.

Masih dalam suasana berlibur, aku mengajak sahabat tercinta, Jace untuk berjalan – jalan sekedar menikmati wisata mempesona yang ada di Victoria. Ide brilian aku tawarkan kepada Jace untuk menyambangi Sovereign Hill, merupakan obyek wisata terletak di kota kecil Ballarat, negara bagian Victoria ini. Ini adalah obyek wisata legendaris dan unik. Apalagi jika dewa keberuntungan menghampiri, kita bisa membawa beberapa butir emas murni yang kita dulang sendiri di sana. Kami memulai perjalanan dari kota Hamilton tepat pukul 8 di pagi hari yang cerah. Dari pusat kota Melbourne, perjalanan awal kami menuju ke kota bersejarah Ballarat terletak kurang lebih 105 kilometer, memakan waktu hanya 90 menit. Dengan mobil pribadi yang kami kendarai, terlewati jalan tol Western Highway, Ballarat dapat juga dapat dijangkau melalui perjalanan kereta api dari stasiun Melbourne ke stasiun Ballarat tetapi beresiko Anda kurang menikmati keindahan panorama alam beberapa desa dan kota kecil setempat yang akan kita singgahi. Dari stasiun kereta, perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik bus langsung menuju ke Sovereign Hill.

Selama perjalanan kami yang ditemani seorang sopir tua, La roux David, kami merasa lebih hangat. Maklum, sejak tiba di Melbourne, musim dingin sudah mulai di kota ini, aku berjuang melawan hawa dingin, dengan balutan black sweater tebal Korea dan jaket kulit wanita warna pink model lady, suhu rata - rata di luar mobil mencapai 7 derajat celsius. Sepanjang perjalanan kami, lalu lintas aman dari kemacetan. Kami mengikuti beberapa petunjuk jalan yang banyak dijumpai di pinggir jalan raya utama mengarah ke kota Ballarat, ada berwarna cokelat dan putih menuju ke arah Sovereign Hill sambil disuguhi indahnya pemandangan dari jejeran rumah penduduk berarsitektur khas ala Victorian. Sesekali kami berhenti di mall untuk berbelanja makanan ringan : beberapa kantong roti Chocolate Candies, sebungkus jumbo kue terkenal dari negeri sakura, Dorayaki, beberapa botol jus buah apel dan anggur, beberapa botol coke dan tidak lupa kami membeli beberapa batang cokelat lezat untuk bekal kami dalam perjalanan yang masih jauh harus kami tempuh.

Sovereign Hill adalah salah satu kawasan wisata dimana terdapat banyak museum unik yaitu di alam terbuka. Menjelang awal abad ke – 19, daerah ini adalah tempat penambangan emas apalagi saat Australia masih menjadi pusat masa perburuan emas (gold rush). Sovereign Hill adalah kota bekas tambang emas terkaya, terbersih dan paling indah di dunia pernah ada.

Sovereign Hill seperti gambaran sederhana dari kota Ballarat dimasa 10 tahun pertama saat emas ditemukan di sini pada tahun 1851. Di kompleks seluas 25 hektare itu, ada 60 bangunan dan fasilitas bersejarah, dibangun berfungsi untuk mengenang masa – masa gemilang Sovereign Hill di jamannya dulu. Masing – masing tempat rekreasi dilengkapi oleh pekerja sukarelawan mengenakan pakaian dan atribut khas dari masa lalu. Yang tak kalah menarik lainnya adalah buku, koran, peralatan, dan mesin, hingga binatang dan ternak, semua terlihat lazimnya era tahun 1850 - an. Sehingga berwisata ke tempat ini serasa kita dalam suasana negeri dongeng yang fantastis.

Dalam perjalanan pulang dari Sovereign Hill, kami mampir di pasar tua Queen Victoria. Pasar ini terkenal sebagai salah satu pasar wisata di bumi belahan selatan negeri Australia, dimana menjadi salah satu pasar favorit tidak hanya untuk turis lokal seperti kami tetapi juga turis mancanegara.  Dari hasil tani segar seperti sayur dan buah - buahan, produk makanan dan minuman lezat, pakaian murah berbagai merk dan semua jenis barang lainnya tersedia di sini.  Juga bagus dipakai untuk membeli suvenir atau cendera mata khusus buatan tangan. Karena tidak mempunyai banyak waktu luang yang tersisa, kami hanya jalan – jalan sebentar saja di dalam pasar ini, membeli sekantong buah eksotik yang hanya tumbuh subur di Australia yaitu buah plum atau peach berwarna hitam, merah dan kuning. Mirip dengan buah apel, rasanya begitu renyah, manis sedikit asam dan segar. Sarat akan kandungan serat, tepat menjadi cemilan dan oleh – oleh untuk teman – teman diapartemen.                                                                                                                                                    

Menjelang minggu kedua, liburan Jace usai. Tepat pukul dua belas malam, aku mengantar dia ke Bandar Udara Internasional Victoria untuk kembali pulang ke kota London.

Phoenix Jacques.

Perasaan yang paling menakjubkan di dunia adalah bahwa kita bisa jatuh cinta lagi meski untuk berkali – kali. Kebahagiaan, suasana hati, kekuatan dan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk mendapatkan perasaan tersebut, dimana pada akhirnya kita bisa mengucapkan dengan ketulusan hati yang paling dalam, “ Aku mencintaimu, sangat ! “ Semua mengingatkan aku akan keberadaan Anda, dari apa yang Anda lakukan, katakan, bahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Anda ! Parfum, pakaian, novel, mata, hingga senyum, aku suka cara Anda memilih, dan akhirnya aku memuja ! Ketenangan yang aku rasakan ketika kita berciuman atau di saat Anda memelukku erat. Aku suka saat kita bersama – sama berbaring di atas pasir putih sepanjang pantai Victoria dengan tangan masing - masing berpegangan erat dan hanya ada cahaya matahari pagi lembut menusuk ke dalam pori – pori kulit kami. Apakah ada perasaan yang lebih mempesona daripada sebuah cinta sejati ? Aku bangun di pagi hari dan kembali berbaring di malam hari hanya dengan menggenggam satu senyuman Anda di kepala ini.

Aku mencintaimu lebih dari seluruh dunia dan banyak lagi ! Tidak ada makhluk lain membuat aku merasa begitu baik . Kadang - kadang sebuah mimpi paling kecil pun bisa menjadi kenyataan. Dan inilah mimpiku, kau mencintaiku dan itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dunia !

Kami mempersiapkan sebuah pesta namun tidak begitu meriah. Hanya ada kerabat dan beberapa teman terdekat yang diharapkan hadir. Dalam balutan gaun penganten karya desainer Collette Dinnigan, aku dan suami tercinta Phoenix Jacques akan melangsungkan sebuah pernikahan di gereja City Harvest Church Singapura.

Ya Tuhan,
hari ini kami mau mengingat lagi
janji pernikahan kami
di altarMu

Kami pernah berjanji
untuk saling menyerahkan diri
juga melindung

setia dalam suka maupun duka
sehat maupun sakit
sampai maut memisahkan kami
biarlah janji itu segar kembali hingga hari tua nanti.

Amin !

Violet tidak akan pernah kembali lagi ke kota London karena dia tahu dan menyadari bahwa tidak ada siapa – siapa lagi di sana. Dengan Phoenix Jacques dalam mimpi dan hatinya, dia tahu itu hanya masalah waktu sebelum pilihan akhir harus segera dibuat. Mereka hidup bahagia selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads