article

Tambatan Hati

Tambatan Hati

Alexander mengusap rambutnya dengan sabar. Dia masih bertanya - tanya apakah membawa Anastasia kembali kekenangan masa lalu mereka adalah ide yang bagus ?

Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dan memang dia tidak pernah punya pilihan. Anastasia menginginkan kebenaran. Dan dia akan memberikan itu padanya, apakah itu akan membunuhnya atau tidak. Dia harus tahu bahwa Anastasia tahu segala sesuatu yang dia tahu. Mimpi ini adalah awal dari segalanya. Mengingatkan aku pada sepenggal cerita “Gathering Angel” karya novelis terkenal Barbara Delinsky, dimana para malaikat akan mencoba untuk menghentikan sang pangeran yang berlomba dalam sebuah sayembara mengejar Putri Archangel yang terkenal akan symbol keindahan dan kecantikan dunia, dan ia bersama rekan - rekan malaikatnya akan berjuang untuk mendapatkan cintanya. Ini adalah hari ketika semua malaikat akan berjuang untuk tempat yang sah dimana Putri Archangel perlahan tetapi mantap menuju sorga. Ketika hari yang dinanti tiba dan genderang perang berbunyi lantang, sang raja akan mengocok undian sayembara dan menentukan yang pertama siap mengangkat busur, melepas anak panah dan melesat menjauh ke abad pertama dimana ia dilemparkan ke bawah dengan malaikat lainnya, termasuk dia. Dan ia akan menjelaskan kepadanya sejarah pertemuan mereka disepanjang waktu.

5 tahun yang lalu.

ads

Dan keajaiban terjadi ! Saat pertama kami berdua bertemu. Kami mulai mengobrol di komputer, awalnya tentang musik. Wow ... ternyata kami berdua sangat menyukai semua jenis musik dan kami berdua mencoba menyelami makna lirik lagu yang ditulis oleh penyair masing – masing. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku lebih menyukai musik country yang sering digunakan untuk menyapa tamu yang berkunjung kesebuah bar favoritku tetapi saat ini tempat tersebut sudah ditutup. Tentu saja dia menanyakan nama bar itu. Aku mengetik “Klub Palomino”. Dia benar - benar terkejut dan mengatakan kepada saya, ia juga sering bermain di sana. Aku tidak yakin apakah harus percaya atau tidak ! Dia mengatakan dia akan mengirim saya gambar grup band favoritnya yang bermain di sana setiap malam. Aku berpikir, “ Ya benar “ beberapa menit menunggu dengan sabar di depan komputer untuk sebuah gambar. Dan lihatlah, sebuah gambar besar muncul di layar, “ CHEYENNE - CLUB PALOMINO “. Aku panik ! Aku tidak bisa percaya! Itu dia gambar “ Cheyenne “. Band favoritku terutama pemain gitarnya. Seperti dongeng ! Sisa waktu, kami gunakan untuk mengobrol topik lain dan akhirnya dia memberiku nomor telepon. Kami mulai berbicara di telepon setiap malam. Itu hanya hal kecil menakjubkan yang dapat kita lakukan bersama. Tentunya, aku berharap hubungan ini berjalan selangkah lebih maju. Ya, itu kupikir terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan !

Sesudahnya ..........

Dalam acara ini, hadir pendeta yang terkenal dermawan, selalu tersenyum, merentangkan kedua lengannya dan terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan bantuan, menurutku, dia adalah pendeta paling baik dan paling dermawan yang pernah kutemui. Dia, Pendeta Vicar George Helsing, membaptis putri pertama kami, “ Atas nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, aku membaptis engkau ...” Dan salah satu teman lama Anastasia datang untuk memberi ucapan selamat kepada kami berdua, keluarga Smith. Beliau sudah berumur enam puluh lima tahun, namun wajahnya tidak pernah benar - benar menunjukkan tanda - tanda ketinggalan zaman.

Acara pembaptisan putri tercinta kami berjalan meriah. Juga kami mengadakan sedikit pesta dengan mengundang kerabat terdekat dan beberapa teman lama.

Pesta berjalan meriah dimana Anastasia seperti tenggelam dalam kenangan lama bersama teman – teman dimasa lalunya persis seperti sebuah reuni tua, meninggalkan aku sendirian terhanyut dalam rasa kesepian. Saat itulah aku melihat seorang wanita masuk dengan ringan ke pesta ini.  Sepertinya tak satu pun dari kami berdua mengetahui siapa dia ? Dia seperti sesosok bintang baru dalam pesta ini dimana satu pun dari kami tidak ada yang perduli karena sibuk dengan urusan masing – masing. Sepanjang pesta, mata dan pikiranku terus tertuju pada dia sampai dentang lonceng sepuluh kali dan beberapa tamu kami pamit hendak pulang. Terlalu sibuk menyalami mereka satu per satu, kuterjaga dan baru tersadar, wanita itu telah pergi.

Seperti sayembara dalam dongeng Puteri Cinderella. Aku berusaha mencari sebuah sepatu yang tertinggal dalam pesta pembaptisan puteri kami. Bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit, tak sengaja, aku kembali membuka email lama semasa remaja dulu … isi masih utuh. Aku bertemu kembali, teman main di komputer dulu, Louis. Seorang gadis yang hanya akrab denganku melalui chating dan beberapa kali saling menelepon tanpa aku mengetahui wajahnya.

Aku berpikir bagaimana cara untuk memulai lagi hubungan yang sudah lama aku tinggalkan.      “ Aku tidak ... Aku tidak berusaha untuk menghindari Anda, Louis. Aku benar - benar tidak bermaksud untuk itu.” Dia menjawab pelan, “ Aku tidak ingin bergerak terlalu cepat, itu saja. Maksudku, aku tidak pernah tahu bahwa aku merasa seperti itu tentang Anda. Dan ... baik, aku tidak yakin bahwa Anda merasakan hal yang sama.“ Dia menggelengkan kepalanya dan memegang wajahnya dengan kedua tangannya. “ Lihat aku, Louis.” Dia mengangkat matanya ke arah wajahku dan langit biru seperti menghipnotis kami berdua. Dan kami berdua terkejut melihat betapa intens hubungan tercipta melalui tatapan mata berdua.

Kami berdua berada di Jasper hotel, 489 Elizabeth street, pusat kota dan distrik bisnis Melbourne. Sore hari yang romantis … kami berdua baru saja menyelesaikan pekerjaan rutin di kantor dan disinilah kami janji bertemu, Jasper Restaurant. Kami memilih makanan khas Italia, mengingatkan kami berdua, 5 tahun yang lalu masa sekolah dan chating bersama dimana kami dan keluarga kami tinggal disalah satu kota kecil di sana. Kenangan yang indah, suasana restaurant yang hening dan nikmatnya hidangan … membuat kami lupa.

Dia tersentak, dan aku menatapnya. “ Kau ... kau mencintaiku waktu itu?” Aku terdiam, kubiarkan angin sore menjawab pertanyaannya. Dan pertanyaannya kubalik, apakah dia benar – benar mengetahui aku, Alexander. Apakah dia tahu tentang Alexander ? “ Tidak, “ kata Louis sendiri. Jangan biarkan fantasi Anda, Alexander, merusak hari – hariku. Mungkin juga waktu itu kalian sama – sama saling mencintai. Jangan merusaknya. Jangan merasa bersalah tentang mengasihi seseorang dimasa lampau, yang perasaannya untuk Anda masih putih karena umur kalian masih terlalu muda. Sesudahnya, biarkan Alexander pergi.

Aku memfokuskan kembali pada Louis, yang menatapnya dengan tatapan gugup dimatanya.       “ Saya minta maaf. Tidak seharusnya saya melakukan ini. “ Alexander menaruh tangannya di bahu Louis dan menyeretnya ke bawah lengannya, menggenggam erat jari - jarinya yang sedikit gemetar. “ Mari kita pulang.”

Alexander mengusap rambutnya berkali - kali. Dia masih bertanya - tanya sekali lagi apakah membawa Anastasia kembali kekenangan masa lalu ? Karena saat ini, pikirannya telah terbagi dua, satu arah dengan Louis yang saat ini sudah berada jauh di Amerika dan tidak mau meninggalkan satu pun alamat untuknya. Louis seperti hilang ditelan hijaunya hutan rimba. Sementara beban moral dan tanggung jawab membuat dia tetap berdiri di sebelah Anastasia dengan putri cantik mereka dari hasil perkawinan yang kudus. Seperti sang pangeran yang berhasil memenangkan sayembara dan memboyong sang puteri ke istana baru, Alexander memutuskan tetap berjalan ke masa depan bersama keluarga tercinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads