Peternakan angsa yang sangat luas di sebuah desa yang berlokasi di pulau Christmas, Australia.
Pulau Christmas merupakan salah satu pulau yang berlokasi di wilayah luar negeri Australia dan hanya terdiri dari 1 pulau saja. Pulau ini berdekatan dengan pulau Jawa, tepatnya di sebelah barat daya dari Indonesia dan memiliki iklim tropis. Pulau Christmas adalah wilayah dari Australia di samudera Hindia terletak sekitar 2.600 kilometer (1.600 mil) dari arah barat laut kota Perth, Australia Barat, 500 km (310 mil) dari arah selatan Jakarta, Indonesia dan 975 km (606 mil) dari pulau Cocos (Keeling). Pulau ini berpopulasi sebesar 1.402 warga yang tinggal di desa – desa terletak pada ujung utara pulau : ada kampung Flying Fish Cove, kota Perak, desa Poon Saan, dan desa Drumsite.
Sejak awal abad ke 19, pulau ini terisolasi secara geografis dan jauh dari minat warga asli Australia untuk menempatinya, sehingga beberapa desa di pulau ini menjadi sarang yang nyaman dari berbagai flora dan fauna endemik hingga ke pulau – pulau tetangga dan mereka tidak diganggu oleh mahluk lain yang lebih ganas. Pada jaman dahulu pulau ini dihuni oleh bangsa Melayu (Indonesia), mereka adalah orang – orang Bugis yang mencari nafkah sebagai petani dan peternak, tinggal di bagian utara Australia termasuk kepulauan Christmas. Terdapat juga warga dari bangsa Melayu, Malaysia, bangsa Tionghoa dan Singapura. Mereka sebagian besar berbadan besar dan bekerja sebagai buruh tambang fosfat (guano).Â
Menyusuri jalan – jalan tikus menuju ke pedalaman desa, anda akan terpesona oleh hamparan luas padang rumput liar dimana puluhan angsa bersarang karena dipelihara oleh beberapa pengusaha ternak unggas seperti milik keluarga petani kecil bernama tuan Lorenz dan nyonya Wels dengan anak laki – laki tunggal mereka berusia lima belas tahun bernama Crispin.
***
Pada suatu hari Minggu yang cerah, tuan Lorenz dan Crispin berjalan menuju ke sebuah pasar tradisional yang terletak di pusat kota, mereka mengendarai sebuah kereta pedati tua yang ditarik oleh empat ekor keledai, mereka akan menjual beberapa butir telur angsa yang disusun rapi pada beberapa keranjang dari anyaman bambu. Mereka menggiring keledai – keledai tersebut dengan hati - hati karena tuan Lorenz mengkhawatirkan kondisi rapuh dari setumpuk telur – telur burung angsa yang akan dijual agar tidak mudah pecah sehingga kemungkinan besar telur – telur itu laku dengan harga yang sangat mahal bila mereka bisa menjaganya dalam kondisi yang utuh dan masih segar.
Tiba – tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa pejalan kaki yang mentertawakan mereka. “ Lihatlah teman – temanku, betapa bodohnya mereka  berdua.  “  teriak  seorang  pejalan  kaki  yang  bertubuh  sangat  gemuk,  “ Mereka masih saja berjualan telur burung angsa, padahal mereka bisa memulai menjual buah – buahan segar kesukaan keluarga raja seperti buah stroberi, buah semangka, buah anggur, pisang, jeruk atau apel yang ranum dan berbau harum. “
Tuan Lorenz tidak suka mereka tertawa seperti mengejek dan pemalas, ia buru – buru menyuruh Crispin untuk lebih cepat memecut punggung keledai agar bisa berlari cepat menjauhi orang – orang usil tersebut. Saat mereka berdua tiba di pinggir sebuah taman kota, tiga orang pedagang bunga tulip lewat dan berpapasan dengan mereka. “ Hohoho, apa yang kami lihat di sini ? “ teriak mereka. “ Wahai anak muda, kenapa kamu yang mengendarai kereta kayu tersebut ? Hormatilah ayahmu, biarkan ia yang duduk di kursi kusir dan menunggang keledai – keledai itu. “Â
Tuan Lorenz yang berada di belakang kursi kusir merasa terganggu oleh tegur sapa dari orang – orang usil penjual bunga tulip, dia akhirnya menyuruh anaknya untuk berhenti mengendarai kereta, turun dan duduk di belakang saja sementara dia sendiri yang naik ke kursi kusir lalu mulai memecut punggung keledai agar kembali jalan menuju ke pasar, hal kecil ini ternyata membuat sang pedagang bunga merasa nyaman dan akhirnya berlalu.
Saat tiba di pintu gerbang sebuah pasar tradisional, mereka melihat beberapa gadis desa sedang membawa keranjang yang penuh berisi buah – buahan dan sayur - sayuran segar, mereka adalah pedagang lain yang hendak menjual barang dagangan di dalam pasar.
“ Lihatlah orang tua itu, “ bisik si wanita yang paling tua, “ Malas – malasan duduk di atas kereta sementara anaknya harus berjalan kaki ke kerumunan pasar sambil membawa beberapa tumpuk keranjang yang berisi telur – telur angsa. “ Sang petani melihat kepada si wanita tua tersebut dan merasa tidak enak hati, oleh karenanya dia segera memanggil anaknya dan menyuruhnya untuk mengangkut kembali telur – telur tersebut ke dalam pedati. Tidak lama kemudian, peristiwa sama terulang kembali, saat mereka bertemu dengan sekelompok gembala domba di pintu gerbang pasar. “ Betapa jahat mereka, “ teriak seseorang, “ Membebani kereta kayu tua tersebut dengan setumpuk beban berat ! Mereka seharusnya menurunkan beban – beban tersebut dan mulai berjualan sehingga memberikan kesempatan  empat keledai  penarik  kereta  untuk  tidur  siang hingga  sore  nanti. “ “ Mungkin mereka akan berjualan di atas pedati saja. “ hibur yang lainnya. Sang Petani dan anaknya cepat - cepat turun dari kereta pedati dan dalam waktu singkat menurunkan semua keranjang yang berisi telur – telur angsa, mereka akhirnya bergabung dengan para pedagang lainnya di tengah pasar. Dalam hitungan lima menit, terjadi kerumunan orang - orang yang datang berkumpul hendak berbelanja keperluan hidup mereka sehari – hari, di dekat petani dan anaknya berdiri lima orang asing yang sedang membawa tujuh ekor anjing gembala untuk dijual, mereka melihat kepada mereka berdua lalu tertawa karena melihat telur – telur angsa yang dijual petani tersebut ukurannya sangat kecil dari yang seharusnya !
Namun saat sang petani hendak menutup keranjangnya dengan selembar daun pisang, sang petani dan anaknya kaget karena tiba – tiba ketujuh anjing gembala milik lima orang asing tersebut mengamuk dengan cara menggigit tali plastik tipis yang mengikat leher – leher mereka. Anjing – anjing itu membalikkan badan mereka dan menjadi sangat liar, berlari kesana kemari dan membuat kerumunan orang - orang di dalam pasar menjadi khawatir dan takut. Mereka menyingkir dan mencari tempat berlindung di dalam bangunan toko yang banyak berdiri di area pasar tradisional. Rupanya anjing – anjing gembala yang rencananya akan dijual tersebut tidak suka diperlakukan dengan cara begitu, mereka meraung dan mulai menendang - nendang serta menyepakkan kaki – kaki mereka ke kiri dan ke kanan, ketika mendekati sebuah jembatan kecil berdekatan dengan petani yang sedang menjual telur – telur angsa, tiba – tiba seekor anjing gembala menabrak tumpukan keranjang – keranjang tersebut hingga semua telur – telur yang ada di dalam keranjang jatuh dan pecah berserakan di atas tanah. Sementara kelima anjing gembala berbadan besar akhirnya jatuh ke sungai dan hanyut lalu menghilang dalam derasnya arus sungai.
Kasihan sang petani dan anaknya, mereka harus kembali ke rumah dengan tangan kosong. Hanya karena ingin menghibur dan memuaskan hati orang – orang asing yang kebetulan mereka jumpai di jalan, malah membuat mereka rugi dan akhirnya kehilangan rejeki yang seharusnya hari ini mereka dapatkan dalam jumlah berlimpah, karena sangat mudah menjual telur – telur angsa segar tersebut.
***
Apabila anda tidak mampu dan sangatlah sulit untuk membuat orang – orang asing di sekitar anda tersenyum dan senang maka sebaiknya bersikaplah secara wajar karena menyenangkan semua orang dalam waktu bersamaan ketika anda dalam kondisi kurang menguntungkan adalah hal sulit untuk diwujudkan.
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.