Di seluruh dunia, masakan Thailand memang terkenal gokil banget ! Masakan Thai diolah dengan meracik bahan – bahan yang akan membuat rasa dari masakan tersebut jadi segar, dan anda akan dibuat benar – benar kangen dengan kota Bangkok. Jikalau kalian suka dengan masakan Thailand, check this out !
******************************
Namaku Ninda, aku adalah seorang gadis lajang yang berusia 22 tahun dan bersahabat dengan Jerry, seorang laki – laki ganteng berusia sama dengan diriku. Kami berprofesi sebagai koki pada sebuah Restoran Thailand yang berlokasi di Pantai Amed, Pulau Dewata, Bali. Restoran dimana kami bekerja bernama Ying Thai Restaurants :  adalah restoran bergaya Thailand yang berbeda dari restoran sejenis yang ada di kawasan wisata elit ini. Di sini, kami menyediakan beragam masakan khas Thailand, juga menggabungkan rasa Thailand dengan sajian negara yang lainnya seperti masakan Nusantara atau dikenal dengan istilah Asian Fusion. Ada sepiring Pork Knuckles dengan dipping sauce khas Thai, yang terkenal dan banyak memiliki penggemar adalah Gyu Tan Don, Mango Sticky Rice, dan Tom Yum. Honey Garlic Crispy Chicken, High Tea, atau BBQ, Chicken Green Curry, dan Gaeng Kiew Wan Gai. Di sekitar restoran kami buka banyak terdapat kafe – kafe tradisional bergaya arsitektur Bali yang menjual masakan Nusantara seperti masakan khas Bali, seafood atau masakan China. Beberapa diantaranya menyediakan sajian khas Eropa. Pada hari – hari tertentu kami mengadakan Event Happy Hour seperti Ladies Night yang keren, banyak digemari oleh turis mancanegara yang kebetulan melancong ke tempat ini untuk liburan.
Pagi hari di Pantai Amed, Bali, adalah surga bagi para penyelam.
Seorang nelayan tua sedang sibuk membenahi jalanya yang rusak, duduk seorang diri di atas pantai berpasir putih, berlatarbelakang sawah yang mulai menguning, beberapa batang pohon kelapa hijau melambai – lamba ditiup oleh angin pantai, nun jauh di kaki bukit Karangasem tampak sungai dengan bebatuan, karang, dan hutan – hutan kecil yang sangat menakjubkan dan luarbiasa indah sebagai ciptaan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa, kicau burung laut dan teduhnya suasana pantai yang cukup sejuk dan nyaman untuk dinikmati buat liburan adalah sebuah pengalaman kecil tapi mampu memberikan pengalaman mengasyikkan jika anda berlibur ke sini.
Dari sebuah pura kecil di tengah sawah, seorang istri nelayan sedang melantunkan tembang sakral umat Hindu yang selalu menghaturkan sesajen tiap pagi hari kepada Sang Surya sebagai penjaga keindahan alam semesta :
Ku s’lalu kagumi warna matahari di waktu pagi hari
Saat mereka menari – nari bak seorang gadis Bali di atas air laut yang biru
Dan sepanjang batas garis langit, tampak awan putih mulai menipis
Kidung alam pun mulai dikumandangkan meniru alunan simfoni musik seorang putri duyung dari tengah samudra
Dan gadis – gadis asing itu mulai merebahkan tubuh mereka yang ayu
Mata terpejam santai, dimana setiap nafas yang dihembuskan adalah sebuah kehangatan
Mulai mengisi jiwa sepasang nelayan tua
Menghiasi perasaan mereka dengan doa – doa tuk kebahagiaan rohani
Sementara nun jauh di kaki langit, di alam liar Pantai Amed
Perahu kayu kami berlomba untuk mencapai batas !
******************************
Jerry adalah Koki Manager restoran kami di kawasan wisata Pantai Amed, Pulau Bali. Dia selalu datang ke kantor pagi – pagi hari mendahului anak buahnya, penuh semangat yang cukup tinggi dan selalu mampu memiliki hal - hal positif untuk dikatakan kepada bawahannya. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang motivasi atau sikap hidup, apa yang sedang dan akan dia kerjakan, dia dengan antusias menjawab, †Apabila aku bisa melakukan yang lebih berguna, aku lebih suka menjadi orang – orang yang setia denganku ! †Beberapa pelayan di restoran ini bahkan rela keluar dari tempat mereka bekerja selama puluhan tahun jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka akan tetap bisa mengikutinya kemanapun ia selanjutnya bekerja, dari satu restoran ke restoran yang lainnya di Pulau Bali hingga keluar negeri.
******************************
Setiap sore hari tiba, Jerry dan Nindia suka bermain – main di pinggir pantai untuk berenang atau sekedar menyantap cemilan ringan kreasi tangan dingin Nindia, dia suka membuat salad buah dengan saos khas beraroma buah jeruk lemon atau aneka gorengan seperti pisang goreng dan secangkir kopi pahit akan membuat hari – hari kami menjadi bergairah.
“ How are you today ? Are you feel happy ? “ “ Ya … ! “ jawabku ringan seperti biasa menemani Sang Manajer menghabiskan hobinya jalan – jalan atau berenang di sepanjang Pantai Amed yang mempesona ini.
Telah lama aku mengenalnya seperti sebatang pohon beringin tua dan sebuah telaga ajaib yang berada di belakang restoran kami, dimana kadang – kadang aku merasa seperti seorang gadis yang kesepian. Ah ya, menurutku, ia tampak sama seperti turis – turis asing lainnya yang mampir ke restoran kami, ada yang seperti sepasang kekasih daripada sekelompok sahabat yang sedang liburan ke Bali. Beringin tua itu sangat kokoh namun agak kaku tapi bijaksana, serta telaga yang berada di sekitarnya begitu sejuk dan ramah kepada kami atau pun turis yang iseng melongok ke belakang restoran kami yang asri seperti taman bunga yang ada di depan, mereka tak pernah berbohong padaku. Mengingatkanku pada kedua orangtua di kampung Tomohon, Kota Tua Manado.
Seolah – olah akan menyerahkan kekuasaan kami, dia kadang – kadang berbaik hati mengenalkanku pada filosofi telaga dan pohon beringin tua saat pada akhirnya aku menyadari dan mulai bisa merasakan kesepian yang sama seperti dialami oleh gadis – gadis lainnya sepertiku. Mereka adalah gadis yang baik meskipun suka bermimpi, dan aku sendiri berusaha bisa menggapai salah satunya yang paling kecil lalu buru – buru keluar dan mampu melantunkan lagu – lagu pujian agar aku tak mudah menyerah !
“ Hei ! Kamu melamun lagi ? Hari sudah hampir malam, kamu harus segera pulang ke rumah. “
******************************
Dan di dalam kamar kos ini, seperti biasa, sehabis mandi dan berbenah diri, aku mulai duduk di depan meja belajar dan masih suka menulis apa saja yang telah berlalu satu hari ini di dalamnya untuk bisa mendorong hati ini agar suka dan merasa terhibur dengan kidung – kidung alam yang dilantunkan setiap petang hari oleh sekelompok istri nelayan dari kaki bukit Amed, tak jauh dari rumah kos yang aku tumpangi selama bekerja di Bali.
Seperti yang kukatakan kepada mereka saat pagi mulai menyapa, sebelum nelayan – nelayan itu melaut dan berlomba berlari cepat hingga ke tengah samudra bersama dengan sekelompok burung camar di atas langit, dan telaga di belakangku tak akan pernah berbohong. Seluruh isinya bisa kami lihat dan nilai tanpa selembar kain bisa disembunyikan, sepenuhnya telah alam berikan kepada pasangan yang bisa menikmatinya. Mereka dan kesunyian alam ini adalah benar - benar ibarat ikan hias di dalam telaga dan tak pernah bisa dipisahkan oleh siapa pun termasuk kami. Mereka berenang di dalamnya bagaikan hatiku terbang dalam suatu kekosongan jiwa, berkejar - kejaran dan akhirnya saling merayu kekasihnya. Jika beruntung, kami akan diberik kesempatan untuk melihat seekor berang - berang yang pandai menyelam.
Tentu saja ketika aku mulai tidak mengerti, pasangan suami istri nelayan tua di rumah ini akan berusaha menjelaskan kepadaku, tapi kadang – kadang aku belum mampu melihat yang kebenaran. “ Tanyakan saja tentang apa saja dan tak perlu takut akan berdusta. Maka kamu bisa memperoleh sebuah jawaban hanya dengan mendengarkan sehingga tak perlu lagi kami memberikan pendapat tentang semua pertanyaanmu. “
“ Nindia ayo makan … ? “
Aku bergegas menyimpan buku diaryku di bawah bantal lalu buru – buru keluar ke ruang makan untuk berkumpul bersama dengan keluarga nelayan guna menyantap makan malam kami berupa masakan Bali : ada sebangkul nasi hangat pulen, sepiring ayam pelalah khas Bali, semangkok masakan ayam bumbu Bali yang gurih dan enak, sepiring sate lilit khas Bali dari ikan laut yang dicampur dengan parutan kelapa muda, dan semangkok sambal matah. Mereka tak lupa membuatkanku sajian penutup berupa sepiring kue lumpur kentang yang manis.
******************************
Menjelang tengah malam, dari Pura Langgar yang berlokasi di tengah ladang di pinggir Pantai Amed, berkumandang kidung Bali, menuturkan tentang keindahannya yang tiada banding :
Sukanya harja winangun, winarna sari,
Rumrumning puspa paryaka,
Ingoling tangis, sampuning riris sumar umunggwaning,
Sarengganing rejeng.
Pisaratang ngulik sastra siang dalu,
Dharma sastra weda sruthi,
Ithiasa lawan kidung,
Linggan Sang Hyang Saraswati,
Murtining Hyang Widhi kawot.
Setahuku, Pura Langgar adalah tempat para nelayan dan petani di sekitar pantai melakukan sembahyang di waktu pagi hari untuk memohon keselamatan selama mereka bekerja, dan ketika sedang pasang, maka air laut tampak meruah memenuhi bagian bawah dari Pura Langgar, anak – anak nelayan biasanya suka bermain air di sungai kecil yang mengelilingi area pura dan begitu menikmati untuk merasakan kesegaran air sungai dan air laut tersebut. Banyak turis yang berkunjung ke restoran kami suka jalan – jalan buat melihat secara langsung keindahan dari bangunan Pura Langgar, mereka berjalan kaki telanjang mendekati taman pura, terlihat kokohnya tembok yang memagari halaman pura dan banyak pengunjung terutama turis asing ingin masuk ke dalam. Tetapi, Pura Langgar hanya boleh dimasuki oleh umat Hindu di sekitar kampung nelayan Pantai Amed yang akan beribadah.
Menjelang pagi hari, suasana di pantai mempunyai beberapa titik terbagus untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit, atau populer dengan istilah sunrise. Pantai Amed yang berlokasi di Kabupaten Karangasem ini yaitu tepatnya di Pulau Bali bagian selatan merupakan primadona untuk menyaksikan fenomena alam matahari terbit, kadang – kadang jika aku beruntung, bersama Jerry kami dapat melihat sekumpulan satwa lumba - lumba yang dengan santai dan aman hilir mudik di sekitar perahu – perahu tradisional para nelayan yang sedang melaut bersama dengan cantiknya sinar matahari yang terbit di ufuk barat, di kaki langit.
Jika musim panas tiba sekitar bulan Juni dan Juli, Pantai Amed banyak dikunjungi oleh turis Jepang yang berkunjung ke sini untuk diving karena kawasan pantai ini adalah yang terbaik ada di Pulau Bali untuk melakukan aktifitas ini. Keanekaragaman bawah laut yang bisa dinikmati dari atas perairan akan selalu memukau dan mampu memanggil berulang – ulang kali para wisatawan untuk datang kembali ke sini. Jika anda tidak suka berenang di pantai, dapat melihat pemandangan matahari terbit saja dari pinggirnya yang menjadikan rencana liburan anda ke Bali menjadi seru.
Tak kalah menarik dengan pantai – pantai di kawasan objek wisata Candidasa di Kabupaten Karangasem, adalah tempat yang banyak disukai oleh para wisatawan mancanegara yang ingin menginap beberapa hari di Bali untuk mendapatkan suasana ketenangan. Di sekitarnya berdiri hotel - hotel, bungalow dan beberapa villa yang dapat disewa dengan harga bervariasi. Nun jauh di kaki langit, tampak gugusan Pulau Lombok membentang dari timur ke barat dan selalu menghijau di sepanjang tahun.
Menjelang sore dan malam hari.
Meskipun ada banyak tempat lain untuk mengadakan jalan - jalan atau bersenang - senang di beberapa kawasan wisata di Amed, sebagian besar turis yang melancong ke sini suka berkunjung ke tempat hiburan malam seperti ke restoran kami atau kafe – kafe kecil lainnya, terutama di sepanjang pinggir Pantai Amed dimana ada “ strip “ klub malam dan bar yang saling berdekatan satu sama lainnya. Kehidupan malam di sini sebagian besar dipenuhi oleh anak - anak muda dari Bali dan Lombok atau sekelompok wisatawan backpackers yang menginap di sepanjang Poppies 1 atau di sekitar Poppies 2, kawasan wisata Amed seperti di Kuta. Dan memang dibeberapa tempat keramaian pada umumnya, ada terlalu banyak kesempatan untuk berbuat kejahatan kecil seperti jambret tas dan pencopet, hal ini jarang disadari oleh mereka karena terlalu enjoi dengan paket liburan yang ditawarkan, lalu menggunakan kartu ATM mereka sesuka hati di tempat – tempat ramai, dan kadang – kadang sering terjadi penipuan di mini market.
Restoran kami tutup jam dua belas malam, semua staf dari kantor, pelayan hingga para koki boleh pulang ke rumah masing – masing. Yang masih ada adalah Jerry dan seorang satpam yang berjaga di depan, di dalam ruangannya, ia sedang mengamati laporan rugi laba yang dibuat oleh staf accounting untuk periode satu bulan sebelumnya. Luarbiasa memuaskan !   Â
Tiba – tiba !
Mungkin sama seperti aku dan rekan kerja kami yang lainnya bahwa tidak mungkin kami akan mengalami musibah yang memang tak pernah terpikirkan akan terjadi dalam bisnis restoran di Pulau Bali yang terkenal aman : salah seorang pelayan restoran kami lupa dan membiarkan pintu belakang tidak terkunci hingga menjelang dini hari, pada suatu pagi yang naas di akhir bulan Desember, restoran kami dirampok oleh lima orang bersenjata pistol. Mereka berhasil menyelinap ke ruang accounting lalu mencoba membuka brankas, tangan salah satu dari mereka gemetaran karena takut dan gugup lalu buru – buru memutar nomor kombinasi yang ditemukan di laci kasir restoran. Karena kurang hati – hati, seorang perampok tanpa sengaja menjatuhkan gelas sehingga menimbulkan suara bising dan mengagetkan Jerry yang sedang berada di ruangannya. Secepat kilat Jerry keluar dan akan menuju ke ruang accounting, seorang dari perampok itu melihat dan membuat mereka panik lalu menembaknya dan segera melarikan diri melalui pintu belakang restoran !
Jerry terkapar tak berdaya di lantai bersimbah darah mengucur deras dari dadanya, ia pingsan tapi beruntung satpam di gardu depan restoran tanggap terhadap situasi yang terasa ganjil dan mencekam di kesunyian malam Pantai Amed, ia buru – buru masuk ke dalam restoran dan sangat terkejut !
Sangat mengerikan, Jerry cepat ditemukan dalam kondisi koma dan segera dilarikan ke klinik SOS terdekat untuk berobat. Para dokter dan suster yang kebetulan jaga, sigap memberikan pertolongan pertama agar jantung Jerry tetap berdenyut. Ia harus opname di rumah sakit umum pusat yang berlokasi tidak jauh dari desa Amed yaitu Kota Amlapura, Karangasem.
Seorang perawat dengan telaten merawat Jerry selama menjalani rawat inap di salah satu kamar dari rumah sakit tersebut. Jerry tampak pasrah dan kecewa, juga sangat mengkhawatirkan kondisi perusahaannya yang saat ini tidak ada mengendalikan, ia berharap Nindia dapat membantunya dan sudah kami lakukan bersama – sama setelah selesai menjenguk beliau.
Pada suatu hari, pagi yang cerah di Kota Amlapura.
Jerry berhenti melamun dan menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar dimana Ambar (perawat yang bertugas menjaganya setiap hari) menjenguk dengan rutin pada jam – jam tertentu untuk keperluan check up dan sering kaget karena melihat sarapan pagi masih utuh di meja, ini berarti ia tidak sarapan (lagi) di sepanjang hari ini hingga jam dua siang ? Ketika aku menegur dengan keras, ia tampak dengan lembut memandang dan menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam - dalam dan berusaha untuk bersabar menjalani profesi ini, lalu membujuknya sekali lagi seperti menjaga seorang anak kecil yang sedang ngambek, aku berusaha membuat sebuah topik pembicaraan yang ringan tetapi lucu dan hangat agar ia mau tertawa atau paling tidak mau menyantap sesuap bubur ayam buatan koki rumah sakit kami yang terkenal pandai memasak sehingga banyak pasien yang suka, “ Ya, kamu benar Ambar, aku akan berusaha untuk memilih bisa hidup kembali seperti sedia kala. Tolonglah aku agar bisa dioperasi sebagai pasien yang hidup, dan bukan menjadi anak kecil yang susah untuk makan sarapan pagi ?! “
Beberapa minggu kemudian, Jerry mampu hidup sehat dan normal seperti sedia kala karena keahlian para dokter dan tim medis lainnya melakukan sebuah operasi berat, tetapi juga karena banyak mendapat dukungan dari teman – teman dan yang terpenting adalah Jerry mampu menjaga sikap hidupnya yang mengagumkan. Kami sebagai karyawan dan karyawatinya harus bisa belajar dari dia bahwa tiap hari dari kehidupan kami adalah diberikan kesempatan untuk bisa memilih apakah kami akan menikmati hidup ini apa adanya atau merusak dan membencinya. Satu hal yang benar - benar bisa ditiru dan mudah untuk dilakukan adalah yang tidak bisa dikontrol apalagi dititipkan kepada orang lain seperti sikap hidup, sehingga jika anda bisa mengendalikannya maka segala hal di dalam hidup ini akan berjalan dengan lebih mudah.
******************************
Hari pertama kembali bekerja di Ying Thai Restaurants : Pantai Amed.
Jerry ditemani oleh Nindia sedang berjalan – jalan di pantai. “ Aku berhasil menemukan resep terbaru, bagaimana cara membuat ikan laut bakar khas orang Bali yang diracik seperti masakan orang Manado ? Kemarin malam aku mencoba membuatnya di rumah bersama dengan kedua orangtua kosku, rasanya hmmmmmmmmmmmmmm ! Jika Jerry merasa baikan, bagaimana kalau malam ini aku mengundang dirimu untuk makan malam bersama di rumah ? “ “ Ya, terserah kamu saja, Nindia, aku pasti akan suka ! “
“ Apakah kamu sudah bisa menyopir sendiri ? Karena aku lihat kondisi tubuhmu masih lemah sekali ? Aku undang sekalian mereka, pak sopir untuk menemani Jerry berkunjung ke rumah nanti malam ? “
Di rumah kos Nindia.
Berlokasi tidak jauh dari Pantai Amed, merupakan sebuah rumah tradisional etnis Bali milik sepasang nelayan tua sebagai orangtua kos Nindia, rumah ini tampak sederhana namun memiliki banyak keistimewaan terutama dari sisi pembangunannya. Menurut penjelasan mereka, budaya Bali sangat memperhatikan adanya unsur kosala kosali untuk tujuan mencapai sebuah titik kesempurnaan dari desain sebuah rumah tinggal.
Rumah Nindia identik dengan taman dan pemandangan alam pantai serta pegunungan yang asri. Kesan hijau lebih ditonjolkan dan inilah yang mampu menambah kenyamanan saat memasuki apalagi menghuni rumah dengan nuansa kental Pulau Dewata ini. Kesan utama yang ditangkap oleh Jerry ketika duduk – duduk santai di halaman belakang rumah mereka adalah sebuah rumah adat bergaya Bali dan merupakan rumah yang mempunyai konsep natural atau alami dan mampu menimbulkan nuansa dingin dan segar dengan ruang terbuka ditemani oleh kunang – kunang dan sinar bulan tampak benderang di langit biru. Ditambah lagi menu makan malam mereka hari ini kental dengan sajian masakan khas Pulau Bali.
“ Kamu cantik sekali malam ini Nindia, terimakasih sudah mengundangku makan malam J “ Nindia mengenakan gaun pesta malam yang sederhana terbuat dari kain batik tulis Pulau Bali, dengan rambut disanggul modern dan olesan tipis make up menghiasi wajahnya yang manis dengan kulit bersih sebagai gadis Manado, malam ini Jerry bisa rileks sejenak dan melupakan kejadian naas yang telah menimpanya beberapa bulan yang lalu.
Tetapi ………. !
Merasa kondisi fisiknya masih sangat lemah dan secara psikologis, Jerry mengalami trauma berat karena kecelakaan oleh perampok beberapa waktu silam, ia memutuskan untuk melakukan terapi penyembuhan lebih lanjut ke Kota Paris, dokter pribadinya memfonis ia akan membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk benar – benar bisa sehat seperti sedia kala.
Mereka berdua harus berpisah oleh keadaan yang tidak mendukung jalinan hubungan pertemanan tersebut menjadi sepasang kekasih seperti harapan kedua orangtua kos Nindia dan rekan – rekan kerja di restoran.
Dua hari berlalu, Jerry telah berangkat ke Perancis bersama dengan dua orang dokter pribadinya, Nindia dan seorang sopir restoran hanya bisa mengantar mereka hingga Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang berlokasi di Kota Denpasar.
Setelah itu :
Sebait Puisi Perpisahan Kahlil Gibran Tercantik Yang Pernah Aku Ingat
Siap aku pergi,
Dan keinginanku berlayar siap menunggu angin
Hanya tinggal satu nafas lagi yang akan kuhembuskan di udara
Ini, hanya sebuah tengokan sayang ke belakang.
Dan lalu aku akan berdiri diantara kalian,
Pengembara lautan diantara pengembara lautan.
Dan kau lautan yang luas tertidur
Yang sendirian dalam damai
Dan kebebasan dari sungai dan arus
Hanya sebuah tiupan angin lagi
Yang dibuat oleh arus ini, sebuah gumaman oleh rimba.
Dan aku akan datang padamu,
tetesan tanpa ikatan dari samudera yang tanpa ikatan
Dan saat ia berjalan, ia melihat para pria dan wanita di kejauhan
Sedang meninggalkan kebun mereka untuk berjalan menuju gerbang kota
Dan ia mendengar suara - suara mereka memanggil namanya
Dan berteriak dari ladang ke ladang saling memberitahukan kedatangan kapalnya.
Dan ia berkata pada dirinya sendiri
Apakah hari perpisahan akan menjadi hari perkumpulan ?
Dan apakah harus dikatakan bahwa malamku adalah kebenaran dalam senjaku ?
Dan apa yang seharusnya kuberikan padanya yang meninggalkan bajaknya di tengah ladang atau yang menghentikan rodanya dari memeras anggur ?
Haruskah hatiku menjadi sebuah pohon penuh buah yang kukumpulkan dan kuberikan pada mereka ?Â
Lelah dari perjalanan jauh Kota Denpasar ke Kota Amlapura, Nindia menutup buku diarynya lalu segera merebahkan diri di atas tempat tidur, anganku melayang jauh ke kota tua di Manado dimana setiap malam kami mendengar lagu – lagu pujian berkumandang merdu dari gereja Sentrum sebagai gereja paling tua di kota kami untuk pengantar tidur kami agar menjadi indah dan damai.
******************************
Sementara itu, Ninda masih bekerja di restoran seperti biasanya tanpa mengetahui dan mendengar lagi kabar berita dari manager lamanya, Jerry, yang saat ini ada di Kota Paris, hingga pada suatu hari dia bertemu dengan seorang pemuda Bali bernama I Nengah yang berprofesi sebagai guru disalah satu sekolah dasar negeri (SDN) yang berlokasi di desa Amed. Mereka cepat menjadi akrab satu dengan yang lainnya lalu memutuskan untuk berpacaran selama setahun dan tahun depan akan melangsungkan pernikahan di Kota Denpasar.
Ninda selanjutnya berhenti bekerja dari restoran milik keluarga Jerry, lalu mengikuti suaminya yang pindah tugas ke Pulau Lombok, di NTB.
*****************************
Empat tahun selanjutnya, Jerry telah pulih dari trauma akibat kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, dia kembali ke Ying Thai Restaurants dan mendapat kabar buruk itu !
Jerry memutuskan untuk pulang ke Kota Bangkok dan meninggalkan sejuta kenangan manis bersama seorang gadis Manado, Nindia, selama mereka bekerja bersama – sama di Pantai Amed, Bali.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.