article

Triplet Raya

Triplet Raya

 

5 years old

 

"Ma, Roy ngambil boneka Raya!". Aku merengek sambil memeluk kaki ibuku. Mataku berkabut, tapi aku tak ingin menangis. Ibu memeluku, mengatakan dengan suara lembut kata-kata yang entahlah selalu membuatku lebih sedih lagi.

 

ads

"Bonekanya memang buat anak laki laki sayang, itu punya Roy. Raya mainan sama boneka yang dikamar saja ya?".

 

Aku menggeleng. Siapa bilang itu mainan anak laki-laki, toh aku juga menyukainya jadi aku juga bolehkan memainkanya. tapi Ibu selalu begitu, mengatakan hal yang sangat aku benci 'mainan anak laki laki'.
Sayangnya meskipun mainan anak laki laki, aku selalu tertarik untuk memainkanya. Dibandingkan boneka barbie dan putri putrian yang ada di kamarku.

 

Entahlah, mungkin ketertarikanku pada mainan anak lelaki seperti boneka power ranger ini karena tak ada anak perempuan dirumah yang bisa kuajak mainan boneka barbie. Semua saudaraku laki-laki dan mereka tak pernah suka mainan anak perempuan.

 

Semakin lama. Rasa sukaku pada sesuatu yang feminim berkurang, digantikan dengan ketertarikanku pada hal yang menantang, yang biasanya dilakukan anak laki-laki. Dan pada suatu hari aku mulai bertingkah seperti itu.

 

"Raya, turun gih. Nanti dimarahin Mama loh." Rey menatapku, matanya memincing, menghalau sinar matahari dibelakangku. Kakakku yang satu ini memiliki sifat yang sangat lembut seperti kapas.

 

Matahari siang ini menyengat tak terkira, dari atas sini aku dapat melihat Rey dengan mukanya yang bersinar ditimpa cahaya matahari. Matanya yang menyipit karena silau, alisnya yang mengkerut, dan bibirnya yang mengkerucut. Itu adalah satu set lengkap wajah khawatirnya yang sangat lucu.

 

Aku tersenyum mendengar perkataanya, berbeda dengan Roy kakak pertamaku yang eksentrik dan banyak tingkah. Rey juga aktif tapi selalu lembut ketika menyangkut tentangku, dia selalu bisa membuatku nyaman, kakak keduaku ini super heroku.

 


"Kamu kesini dong Rey, aku gak bisa turun nih!" Teriaku, mengubah wajah cemasnya bertambah berkalilipat. Setelah mendengarnya, Rey berlari kedalam rumah. Aku yang melihatnya melongo seketika. kenapa Rey meninggalkanku? Apa dia lelah menungguku dibawah ?  

tap......tap.....tap...

Lamat-lamat aku mendengar suara langkah kaki kecil beriringan dilantai kayu rumahku. kulihat Rey menggandeng atau lebih tepatnya menyeret Roy yang bertampang masam kearah pohon jambu ini, ah benar, aku baru ingat. Rey takut ketinggian jadi dia tidak bisa memanjat pohon ini. Bodohnya aku.

Sekarang mereka berdua sudah ada dibawahku menatapku dengan pandangan yang berbeda sama sekali. Rey dengan wajah khawatir dan Roy dengan wajah masamnya, sebenarnya aku tak bisa membedakan mereka berdua kecuali dari pakaian yang mereka kenakan.


"Ayo Roy, kamu tolong Raya turun ya!" .

 
"Ck.. Bodo banget sih kamu? Bisa naik gak bisa turun, lompat aja kalo gitu! "

 

 
Roy mengabaikan perkataan Rey, dan lebih memilih mengataiku. Mukaku merah menahan tanggis, kata-kata Roy memang selalu kasar. Ditambah lagi aku tidak bisa memintanya menjemputku turun.
Aku takut.

 

 
"Aku gak bisa lompat, aku takut." Kataku menanggapi saran jahat milik Roy.

 

 
"Cepetan lompat, aku tangkep dari bawah sama Roy, yakan Roy ?" Sialnya, super hiroku tidak bisa menolong malah menyetujui saran jahat kembaranya. Aku menggigit bibir bawahku penuh.
 

 

"Janji ditangkap ya? Jangan lari!" Kataku memastikan sekali lagi.

 

 
"Iya, dasar cengeng. Buruan gih! Udah siang nih." Roy menjawab ketus perkataanku.
Aku menyiapkan mental beberapa menit, membuat wajah Roy bertambah masam. Setelah siap untuk melompat aku menutup mataku dannn....

 

Brukkkkk......

 

 
Aku jatuh. Sakit, tapi juga lembut? Kurasakan kesunyian disekitarku. Kubuka mataku perlahan, melihat sekeliling. Rey menatap kearahku ngeri, aku tidak mengerti pada awalnya arti tatapan itu. Pada akhirnya, hari itu berakhir dengan suara tangisku dan super hiroku juga suara bisu dari Roy. Kakak tertuaku.
0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads