Tempe merupakan produk pertanian yang saat ini telah mendunia. Tempe diusulkan sebagai warisan dunia "Intangible Cultural Heritage of Humanity" ke UNESCO. Potensi pasar tempe juga tidak hanya skala domestic tetapi sudah merambah pasar internasional. Terlebih lagi dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berpeluang memperbesar pasar tempe. Tempe lazim dimakan sebagai lauk karena karakteristik rasanya yang gurih setelah diolah. Namun, apa jadinya jika penganan ini disajikan dengan rasa yang manis? Mungkin hal tersebut masih terasa aneh di kalangan masyarakat Indonesia.Â
Asep Adianto, Bianingrum dan Azka Faris, mahasiswa Departemen Budidaya Perairan (BDP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil membuat inovasi yang mengubah pandangan masyarakat terhadap penganan ini. Tim ini menyajikan tempe dibalut dengan cokelat yang dapat menjadi cemilan sehari-hari. Produk cokelat tempe (Coktem) yang dibuatnya adalah perpaduan antara tempe yang digoreng kering dan dibalut dengan cokelat. Tempe yang digoreng dengan teknik tertentu, dicelupkan di lelehan cokelat lalu dicetak dan didinginkan. Membuat cokte mini, kata Asep, hanya diperlukan tempe dan cokelat saja tanpa perlu diberikan tambahan gula.
Inovasi “Coktem†ini bermula saat Asep tinggal di Asrama Putra pada Tingkat Persiapan Bersama (TPB), mendapati lauk tempenya banyak tersisa saat dimakan dengan nasi dan bosan dengan lauk tempe yang itu-itu saja. Saat itulah terpikir olehnya untuk membuat cokelat tempe. Besoknya ia coba buat, ternyata gagal. Sebelumnya, Asep juga pernah mencoba membuat cokelat pedas dan cokelat kacang yang kurang disukai dan dinilai sudah biasa. Berkat ketekunannya, sedikit demi sedikitia jual hasil uji cobanya keteman-teman asrama dan kelas. Namun ternyata masih banyak kekurangan, sehingga Asep pun mengajak rekannya Bianingrum dan Azka Faris untuk mengembangkan “Coktem†untuk menjadi inovasi yang semakin baik.
Akhirnya tim ini mendapatkan resep yang pas untuk memadukan cokelat dengan tempe. Mereka juga mulai berani untuk memasarkan produk buatannya tersebut tidak hanya rekan-rekan kampus di IPB, mereka juga sudah menitipkan “Coktem†kesejumlah toko dekat kampus, kantin-kantin kampus, hingga kantin Universitas Indonesia di Depok. “Saat itu mencoba jual di kelas, ternyata banyak yang suka. Malah ada yang menawarkan untuk menjadi investor,†tuturAsep.Â
Berkat inovasinya ini, Asep dan tim masuk ke Top 500 Go Creative Preneur 2013 oleh Padjajaran University, dan Top 10 Entrepreneurial Youth 2014 yang diselenggarakan oleh Bakrie University. Tidak hanya itu, Asep dan tim memperoleh Pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha IPB 2014 DIKTI, Top 4 Foodpreneur dan berhasil menjadi juara kedua dalam ajang TPHP Foodpreneur Challenge yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (KMTPHP) Universitas Gadjah Mada (UGM). Produk ini pun telah mendapatkan Sertifikasi Kandungan Gizi dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB. Untuk kian mengenalkan produk ini ke publik yang lebih luas, Asep dan tim sering mengisi berbagai pameran dan bazar nasional dan internasional.
Produki novasi “Coktem†ini, kini telah didistribusikan di beberapa gerai di IPB dengan bermacam varian dan kemasan yang menarik. Bagianda yang tertarik untuk makan tempe dengan cara yang berbeda, silakan kontak via phone/Whatsapp/Line: Bia +6285654237274, Azka +6289501951009 dan Asep 085758512042. Untuk mengikuti perkembangan varian dari produk ini silakan di followakunTwitter @coklaTempe dan add facebook Coktem “Coklat Tempeâ€. Mari dukung produk lokal Indonesia!. Taste the uniqueness & get fun. Grab it fast!!
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.