review

Cross A26 vs Polytron W2500, Adu Phablet Lagi dan Lagi!

Cross A26 vs Polytron W2500, Adu Phablet Lagi dan Lagi!

Semakin maraknya perangkat phablet membanjiri pasar ponsel tanah air, membuat Paseban tertarik untuk membawa sesi duel antara dua phablet. Kali ini giliran Cross A26 dan Polytron W2500, kedua phablet keluaran anyar ini telah mengadopsi prosesor dual-core, sama-sama menawarkan kamera 8MP mendukung HSDPA dan tentu saja dua slot SIMcard yang bisa aktif bersamaan. Harganya? Di bawah 2 juta rupiah. Jadi, siapakah yang lebih tangguh?

Desain

Tak ada sisi spesial dari sisi casing, kedua peserta mengusung pola rounding di setiap sudut dengan bodi yang cukup bongsor. Dimensi tidak terpaut jauh namun bobot Polytron W2500 lebih enteng, perbedaan paling menyolok terletak pada sistem tombol menu di bawah layar. Di sini Cross A26 tawarkan konsep touchscreen haptic yang mencangkup Home, Menu, Back dan Search, sedangkan Polytron W2500 mengkombinasikan tombol fisik Home dengan dua haptic (Menu dan Back). Perbedaan ini tidak begitu signifikan, mengingat keduanya telah mengusung OS Android 4.0 yang secara umum telah mengoptimalkan interaksi di atas layar melalui sapuan jari.

Jika ditanya kenyamanan Polytron W2500 agaknya lebih baik, selain lebih ringan memegangnya pun lebih mantap berkat bodi belakang yang berteknik doff. Konsep ini rupanya berimbas pada sisi estetika yang lebih menarik. Bicara tombol dan port konektivitas keduanya seimbang, di sepanjang selasar tepi ada tombol kontrol volume, power, dan port microUSB. Lubang audio jack 3.5mm pada Cross A26 ditemukan di kepala atas, sementara Polytron W2500 menempatkannya pada bagian ekor bawah. Loud speaker sama-sama disematkan pada area punggung belakang, sedang port microSD dan slot SIM card ada di balik casing.

Bidang antarmuka 5 inch yang diusung oleh kedua peserta diklaim jenis IPS LCD, keduanya telah mengadopsi kaca capacitive dengan konfigurasi multitouch yang juga sama, mendukung sampai 5 titik sentuh. Dukungan sensor fungsional juga setara, yakni accelerometer, proximity, dan light ambient. Respon terhadap sentuhan jari sama baiknya. Tak ada masalah dengan hal ini, hanya saja secara visual reproduksi warna di Polytron W2500 sedikit lebih pekat, alhasil warna-warni yang ditampilkannya terasa lebih hidup.

Performa

Cross dan Polytron sama-sama ditopang oleh chipset MediaTek MT6577 berotak ganda (dual-core), besar clock-nya juga sama 1 GHz pun dengan kontrol grafis yang sama-sama menyematkan PowerVR SGX531. Mengenai memori keduanya tawarkan RAM 512MB dan ruang simpan 4GB, di sini Cross membagi menjadi 1.8GB untuk ROM dan 1GB untuk ruang data. Adapun Polytron W2500 menyediakan 2.5GB ROM dan hanya 404MB untuk data. Konfigurasi ini rasanya memberikan plus minus masing-masing, apalagi dengan kehadiran slot microSD. Jadi untuk segmen memori ini bisa dianggap draw. OS Android v4.0.4 yang diusung Cross dan Polytron W2500 tidak default Ice Cream Sandwich, namun modifikasi yang dilakukan umumnya lebih banyak pada sisi visual. Misalnya, tampilan homescreen, ikon dan app launcher. Kendati demikian, perombakan yang dilakukan oleh Polytron W2500 lebih luas dengan berbagai pilihan themes.

Ada cukup banyak aplikasi pra-install ditemukan pada kedua ponsel, tetapi aplikasi-aplikasi tersebut dirasa tidak sampai memberikan poin unggulan yang besar sebab umumnya bisa didapatkan secara gratis di Google Play Store. Sebut saja Facebook, Angry Birds, Compass dan audio recorder.

Audio

Music Player masih bawaan Android, tak ada fitur wah pada aspek ini. Seperti biasa, Anda dapat menyeleksi lagu berdasarkan Artis, Album, Judul lagu dan Playlist. Sementara itu hanya Cross yang dilengkapi equalizer, walaupun demikian semburan lagu dari Polytron W2500 ternyata lebih menggigit. Menggunakan earphone bawaan, resonasi suara milik Polytron W2500 lebih bulat dan bertenaga, menggunakan headset independen dari pihak ketiga pun Polytron W2500 masih lebih baik. Muntahan lagu dari Loud speaker kurang greget, output dari keduanya bernada rendah dan masih pecah saat volume ditarik maksimal.

Kamera

Lagi-lagi fitur kamera pun setara, baik Cross maupun Polytron W2500 menyematkan lensa kamera 8MP, dengan resolusi 3264 x 2448 pixel. Tapi video recorder beda, Cross tawarkan VGA@10fps sedangkan Polytron W2500 sudah 720@30fps. Kamera depan juga beda, Cross lebih tinggi dengan 1.2MP, adapun Polytron W2500 cuma setingkat VGA. Masing-masing mendukung fungsi video call dan juga metode face unlock, keduanya juga dilengkapi sebuah lampu LED flash.

Kemudian ada autofocus, touchfocus dan geo-tagging, fungsi touchfocus bisa diatur untuk touch to capture, interface aplikasi kamera milik Cross masih bawaan Android ICS. Walau begitu fitur-fiturnya lebih lengkap, Polytron W2500 lebih sederhana. Ini memberikan keuntungan sebab memudahkan dalam melakukan pengaturan, tapi sayang mengorbankan fasilitas HDR. Foto-foto hasil tembakan kedua ponsel tergolong baik, hanya saja apabila dibandingkan gambar-gambar dari Polytron W2500 tampak lebih tajam. Namun reproduksi warna cenderung over ke warna hijau.

Kesimpulan

Kedua ponsel di-bundle dengan charger, earphone 3.5mm, buku manual, kabel data yang sekaligus berfungsi sebagai kabel charger serta masing-masing memberikan pelindung merk Capdase. Cukup menjanjikan mengingat masih jarang vendor yang memberikan pelindung dalam paket penjualannya, apalagi merk Capdase yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Cross sendiri dibanderol dengan harga Rp 1,4 juta sedangkan Polytron W2500 dibanderol dengan harga Rp 1,9 juta. Tidak berbeda terlalu jauh, namun keduanya sama sama memiliki keunggulan masing masing walaupun pada beberapa sektor keduanya terbilang seri. [IRW]

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads